KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 10] SUM-SUM BALADA SI ROY DAN AZETA

Posted on: April 11, 2007

layar-10.jpgOleh Gola Gong
Ada peristiwa unik yang berkaitan dengan novel serialku ini; Ballada Si Roy. Di Serang, banyak hal terjadi. Ternyata tidak semua orang tahu kalau “Gola Gong” itu adalah saya alias Heri Hendrayana Harris, yang kalau di Serang lebih dikenal sebagai jagoan badminton berlengan satu.
 

Pernah sebuah peristiwa unik terjadi. Di episode “Tomboy Surprise”,
Roy mengajak teman kencannya; Ongky, makan nasi sum-sum di pasar Lama, Serang. Nasi sum-sum adalah makanan khas Serang. Dalam kenyataannya, saya memang sering makan di
sana. Nama pemilik warung tenda sum-sum milik Pak Sururi.
 

Malam itu, saat saya makan nasi sum-sum bersama teman-teman dari gank Ulah Jazz dan Cipta Muda Banten (organisasi kepemudaan di Serang), kami ngalor ngidul ngomongin soal BSR. Bahkan menyinggung warung tenda nasi sum-sum ini. Tanpa saya sadari, pemilik nasi sum-sum ini menyimak setiap kalimat yang terlontar dari mulut kami. Akhirnya, dia menyetop obrolan kami. “Dari dulu saya sudah berjanji, jika bertemu dengan pengarang Balada Si Roy, yang bernama Gola Gong, saya akan membebaskan Gola Gong makan nasi sumsum selama sebulan. Dan malam ini, saya nggak nyangka kalau Gola Gong itu adalah Heri, yang jago badminton itu, yang sudah jadi langganan saya.”  

Memang, hampir setiap week end saya makan nasi sum-sum di sini dan saya tidak pernah menceritakan profesi saya sesungguhnya. Untuk apa? Lebih baik saya banyak mendengar dari dia, karena itu bisa jadi sumber inspirasi saya. Pada malam itu pun, bukan saya yang memulai pembicaraan tentang
Roy yang diceritakan makan nasi sum-sum di sini. Tapi, teman-teman saya. Akhirnya, setelah kejadian itu, saya mengurangi daftar kunjungan saya ke nasi sumsum. Kasihan juga kalau saya sering datang. Ada sekitar dua kesempatan saya datang ke
sana. Dan dia betul-betul menepati janjinya, gratis! Setelah masa sebulan terlewati, saya rajin datang lagi dan membayar seperti biasa.
 

Belakangan saya baru tahu, bahwa banyak para pembaca Balada Si Roy, yang datang ke Serang selain ingin melihat latar tempat (setting) yang saa pakai, juga ingin mencicipi nasi sum-sum, yang juga dimakan tokoh “Roy” yang saya ciptakan.  

Hal unik lainnya. Ini yang paling berkesan. Setelah Balada Si Roy melewati 13 episode dan mendapat respon yang cukup bagus dari pembaca, saya secara tidak sengaja bertemu dengan teman lama saya; Rys Revolta dan Toto ST Radik. Rys Revolta adalah teman pertama saya yang mengajak ke majalah HAI pada tahun 1981. Saat itu saya, Rys Revolta, dan Iman Nur Rosady, membolos dari SMAN 1 Serang hanya untuk menantarkan puisi dan laporan jurnalistik ke majalah HAI. Sedangkan Toto adalah pelaku seni di sekolah. Saya sering menyebutnya dalam hati sebagai “WS Rendra” atau “Putu Wijaya”
kota Serang. Saya sering menonton dia membaca puisi di panggung-panggung kesenian sekolah. Kami satu sekolah di SMAN 1 Serang. Tapi Rys dan Toto setingkat di bawah saya.
 

Malam itu mereka sedang nongkrong di Royal – latar tempat yang juga saya pakai sebagai tempat nongkrong tokoh “
Roy”. Pada era 80 dan 90-an, tempat nongkrong strategis bagi anak muda di Serang, ya di Royal. Bagi kami, Royal memang tempat diskusi yang nyaman, seperti halnya seniman Yogya di jalanan Malioboro. Saya sering menghabiskan waktu sampai dini hari di sini, ngobrol dengan siapa saja. Pada awal-awal malam, biasanya teman mengobrol saya adalah para crossboy. Sesekali ada juga crossgirl. Agak malam dengan para jungkies. Larut malamnya dengan para preman. Dini hari, begadang dengan para abang becak. Banyak hal yang saya peroleh dari “sekolah” jalanan ini. Itu memperkaya batin saya dan makin memperkuat keyakinan, bahwa hidup menjadi berguna jauh lebih penting.
 

Pada malam itu Toto dan Rys sedang membicarakan tentang siapa “Gola Gong” dan “Balada Si Roy”. Teman-teman seniman di
kota lain menuduh Toto-lah Gola Gong itu. Saya mendengarkan saja dulu. Setelah itu. Saya tanyakan kepada mereka, apakah masih menulis sajak?
 

“Saya butuh banyak sajak untuk pembuka di setiap episode ‘Balada Si Roy”!” kata saya. Dan mereka sangat kaget sekaligus senang. Pada malam itu juga, diskusi berpindah ke kamar saya di Komplek P&K, Palem 47, Serang 42118. Sampai larut kami diskusi. Rys dan Toto berjanji akan membantu saya menyediakan banyak puisi dan memberi masukan tntang episode-episode Balada Si Roy selanjutnya. Bahkan kami sepakat membentuk komunitas “AzetA”. Target pertama, membikin antoloji puisi “Jejak Tiga”.  

Setelah mereka pulang, saya rebah di kasur, menatap langit-langit kamar. Obsesi saya mencerdaskan anak mudfa Banten lewat jurnalistik, sastra, dan teater ternyata sama dengan Rys dan Toto. Saat itu saya makin bersemangat dan merasa tidak sendirian.  

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: