KELUARGA PENGARANG

TAMAN BERMAIN DI RUMAH DUNIA

Posted on: April 10, 2007

bermain.jpgOleh Gola Gong Seorang ulama besar berkata, bahwa sholat barulah mengantarkan kita ke separuh jalan menuju surga-Nya, puasa mengantarkan ke pintu-Nya, dan sedekahlah yang memberikan kunci pada kita utuk membukakan-Nya. SPIRIT
Di Rumah Dunia, zakat, infaq, dan sedekah menjadi spirit dalam setiap detak nadi kita. Saya tidak pernah bosan mengingatkan pada setiap yang datang, bahwa berbagi dengan sesama sangatlah penting. Saya selalu memberi kesempatan atau membuka peluang kepada siapa saja yang datang untuk bisa berbagi. Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah, bahwa setiap yang kita keluarkan (bersedekah) kepada orang yang membutuhkan akan dilipatgandakan oleh Allah. Ibarat memberi sebutir, Allah akan melipatkannya jadi sepuluh.
 

Dan lihatlah Walt Disney dengan Disneyland-nya, Michael Jackson dengan dunia anak-anaknya (walau pada akhirnya disalahgunakan si Jacko). Mereka juga berbagi. Tuhan selalu menepati janijinya, melipatgandakan rezeki mereka di dunia, walaupun tidak di kehidupan setelah mati. Percayalah, apa pun agamanya, jika mereka berbagi, Allah tidak pernah bohong dengan janjinya. Tidak ada yang jatuh miskin ketika mereka berbagi. Mungkin yang membedakan, apakah uang yang dipergunakan dari hasil halal atau tidak. Saya termasuk yang terobsesi ingin membahagiakan anak-anak. Betapa hidup ini sangat indah, ketika kita melihat anak-anak tersenyum bahagia, mendengar anak-anak tertawa gembira. Saya merasa hidup lebih bersemangat dan berarti.  

BERBAGI
Pada awal-awal Rumah Dunia berdiri, saya ingin sekali membuat taman bermain bagi anak-anak. Dengan modal 5000 perak, saya membeli 5 ban bekas. Ban-ban itu dijejerkan, lalu diwarnai rupa-rupa sepeti pelangi; merah, kuning, hijau, biru, dan ungu. Bersama Bella dan Abi, saya mengecat ban-ban itu. Tias Tatanka – istri saya – yang hamil anak ketiga, mendukung kami dengan menyediakan minuman dan makanan kecil. Saya bebaskan Bella dan Abi menumpahkan ide-idenya.
 

Setelah usai mengecet, “Untuk siapa ban-ban itu, Pah?” tanya Bella, yang saat itu berumur 5 tahun. Ketika saya jawab untuk siapa saja, Bella heran. Kok, kenapa kita harus memikirkan orang lain? Kenapa ban-ban ini tidak untuk Bella dan Abi saja. Saat itulah, saya menjelaskan konsep berbagi. Tias menambahi, jika kita mendapat kebahagiaan, berbagilah dengan orang lain di sekeliling kita. Jangan biarkan mereka hanya jadi penonton saja. Begitupun jika kita punya rezeki, berbagilah dengan mereka, karena ada bagian mereka di dalam setiap rezeki kita.  

Kemudian saya membeli tambang, mneyuruh Mang Romli membuat jaring laba-laba, yang dibentangkan di antara dua pohon. Anak-anak merayapi jaring itu seperti spider-man. Saya bahagia melihat mereka saling memanjat jaring itu.  

Suatu hari, saya membeli luncur-luncuran atau perosotan. Di kantor, ada teman yang cuci gudang. Luncur-luncuran itu bermerek dan dari plastik. Sejak dulu, Tias ingin sekali memiliki tempat bermain bagi anak-anak kami dengan alat bermerek itu. Harganya sangat mahal. Biasanya setiap akhir pekan, saya membawa Bella dan Abi ke tempat petualangan di pusat perbelanjaan di Cilegon. Di sanalah kami menuntaskan impian memiliki tempat bermain lewat kedua anak kami. Harga perosotan itu 1 juta rupiah. Saya bisa mencicil sebanyak 4 kali. Ketika Bella dan Abi bosan, Tias bertanya kepada mereka, “Boleh tidak perosotannya disimpan di Rumah Dunia, agar anak-anak lain bisa ikut bergembira?” Alhamdulillah, kedua anak saya tidak keberatan. Kini perosotan itu kami simpan di panggung. Setiap hari, kami bisa merasakan kebahagiaan anak-anak lewat suara tawa dan senyum. Selalu saja saya bersemangat menjalani hidup jika mendengar suara tawa mereka.  

Beberapa kali saya pernah kedatangan orang-orang dari instansi atau lembaga. Mereka akan menawarkan bantuan puluhan juta asal saya menyerahkan surat permohonan bantuan (proposal) dan
surat dari akte notaris, bahwa Rumah Dunia sudah berbadan hukum, semisal yayasan. Saya selalu menolak. Tapi saya selalu mengingatkan, “Kenapa kalian tidak berbagi saja dengan anak-anak? Tidak usah puluhan juta. Beberapa juta saja. Wujudkan itu dengan membuat taman bermain di Rumah Dunia; ada perosotan, ayunan, palang bertingkat, jungkat-jungkit. Saya jadi ingat almarhum John Lennon, mantan penyanyi The Beatles, membuat taman Strawberry Field. Jika ada yang tertarik membuat taman bermain di Rumah Dunia, nanti akan akan dibikin prasasti, sebagai tanda sumbangan dari lembaga atau perorangan. Sampai sekarang, belum juga terlaksana.
 

Dua minggu lalu (akhir november 2005), Nawawi, yang dulu pemilik tanah Rumah Dunia, menawari saya ayunan. Harganya 400 ribu. Saya tawar dan menjelaskan konsep berbagi kepadanya. Akhirnya transaksi berlangsung, Rp. 300.00-,- Kali ini yang membeli tidak lagi saya, tapi dari uang kas Rumah Dunia.
Para relawan seperti Ibnu, Rimba, Aji, dan Putra Matahari mendukung. Tias apalagi. Ayunan itu kini menambah koleksi bermain di Rumah Dunia setelah ban-ban beraneka rupa warna dan perosotan. Ketika ayunan berupa dua kursi itu diletakkan di areal plaza Rumah Dunia, anak-anak menyerbu, saling berebut. Bella dan Abi juga. Bahkan bertumpuk-tumpuk. Saya mengingatkan mereka, harus saling berbagi; bergiliran dan jangan terlalu berat bebannya. Walaupun belum berhasil benar, tapi sesekali mereka sudah mempraktekkan itu dan saling mengingatkan temannya.
 

Begitulah tentang taman bermain di Rumah Dunia. Sedikit demi sedikit mulai terwujud. Tinggal beberapa jenis lagi; palang bertingkat, jungkat-jungkit, dan palang sejajar. Anda berminat berbagi? Lakukanlah itt di lingkungan Anda!
*** Foto: Anak-anak Rumah Dunia sedang mejeng di perosotan. (foto Qizink).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: