KELUARGA PENGARANG

SETELAH GOLA GONG BERTEMU MALAIKAT MAUT

Posted on: April 10, 2007

edisi-khusus-013.jpgKotaSantri.com/Publikasi : 03-12-2003 Nama saya Gola Gong. Saya lahir dari keluarga yang bebas dalam hal berpikir. Ayah saya termasuk tipe orang tua yang demokratis, termasuk saat mengajarkan dasar-dasar ke-Islaman pada anak-anaknya. Ia sering mengajak kami pergi ke mesjid, tapi tidak pernah dengan bentuk paksaan. Bahkan, setelah itu beliau menyerahkan semua pilihan tentang agama kepada diri kami masing-masing. Beliau selalu mengatakan “Kamu tidak harus selalu ada di masjid, tapi laksanakanlah shalat di masjid. Setelah itu, berdakwahlah sesuai dengan keahlian yang kamu punya”.  

Oleh karena perkataannya itu, saya kemudian memilih menjadi seorang penulis. Menurut saya, seorang penulis tidak memer-lukan persyaratan apa-apa selain bisa menulis, apalagi dengan kondisi saya yang seperti ini. Bapak saya, seperti biasanya menyetujui apapun pilihan anak-anaknya. Beliau menyarankan agar saya selalu menulis hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi umat. Jadi dalam setiap tulisan saya, insya Allah terkandung juga nilai-nilai ke-Islaman dan kemanusiaan.  

Sejak kecil, saya termasuk anak yang suka berpetualang dan suka mencoba hal-hal yang belum pernah saya tahu. Mungkin karena sifat itulah, saat di bangku SMP saya sudah mulai mengenal apa yang disebut dengan pacaran yang tidak Islami dan minum minuman keras serta obat-obatan terlarang, tapi kalau melakukan tindak kriminal saya tidak pernah. Saya mengkonsumsi obat-obatan terlarang hanya untuk diri saya sendiri, tanpa ingin mengajak atau mencela-kakan orang lain. Bahkan, waktu itu saya masih melaksanakan shalat seperti biasa. Jadi, ada dua sisi yang bertolak belakang dalam masa remaja saya ketika itu.  

Dulu, ketika saya terbiasa mengkonsumsi barang-barang haram tersebut, belum ada jenis putaw. Kalau saja barang tersebut sudah ada, mungkin saya mengkonsumsinya juga. Obat-obatan sudah menjadi keseharian dalam hidup saya, termasuk ganja, saya sudah pernah mencobanya. Sampai-sampai ketika saya di
India, saya sempat meng-konsumsi coca (tumbuhan penghasil zat cocain-red) sehingga saya hampir mati dan saya kira saya ada di titik yang paling hina, bahkan anjing pun tidak akan mau mendekati saya. Andai bukan karena pertolongan Allah Yang Mahakasih, mungkin saat itu saya mati terhina di negeri orang yang jauh dari kampung halaman sendiri. Entah kenapa, waktu itu tiba-tiba saja ada seorang anak kecil beragama Hindu menolong dan membawa saya ke dokter yang kemudian bersedia memberikan pertolongannya pada saya.
 

Saya masih ingat, hampir saja saya diterkam Anjing ketika kembali ke hotel. Anjing di hotel itu ternyata sudah dilatih untuk mencium bau coca dan mendeteksi serta bereaksi terhadap orang-orang yang kedapatan mengkonsumsi coca. Karena kejadian ini, saya diusir dari hotel itu dan dipaksa untuk pindah. Dalam perjalanan itu, saya merenungkan semua hal yang pernah saya alamai. Saya sudah hampir mening-galkan shalat selama ini. Dalam perjalanan itu, tiba-tiba saja saya diingatkan kembali untuk shalat dan berniat untuk memperbaiki diri. Dari situ, saya terus ke
Pakistan, bahkan tadinya mau langsung ke Mekkah. Tapi suara hati saya menyuruh saya untuk pulang. Akhirnya saya memutuskan untuk segera pulang ke
Bandung.
 

Pada tahun 1996 di
Bandung, saya mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa dan saya pikir itu merupakan peringatan dari Allah. Entah mengapa, saat itu rasanya saya seperti sudah meninggal. Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kejadiannya waktu itu, mungkin kalau ditulis dalam bahasa puisi, saya seperti melihat setitik cahaya. Dengan segala kepolosan, saya merasa bahwa saat itu saya sudah bertemu malaikat. Mungkin malaikat maut, karena saya menjadi sangat ketakutan setelah melihatnya. Saya terus berjalan tanpa tahu tujuan dan saya merasa sangat takut akan kematian. Apalagi, ketika mengingat dosa-dosa dan kesalahan saya yang belum sempat saya perbaiki.
 

Setelah kejadian itu, saya semakin berniat dalam hati bahwa saya akan dan harus berubah. Sampai sekarang, saya selalu merasa bahwa Allah masih sayang pada saya. Bukti dari semua itu, Dia memberikan peringatan bagi saya. Semenjak itu, saya mulai berubah. Alhamdulillah, tidak ada hambatan yang berarti untuk mengubah diri. Saya kira, semua itu karena adanya niat yang kuat dalam hati saya untuk berubah. Saya mulai memikirkan tentang sebuah pernikahan yang akan membuat saya bisa hidup tentram dalam kehidupan sebuah rumah tangga. Dahulu, saya tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali. Saya selalu saja berpikir harus punya rumah dahulu, ingin hidup mapan dahulu dan lain-lain. Tapi ternyata, setelah menikah semua itu jadi lebih mudah diraih. Saya selalu yakin kalau dalam rezeki saya, dititipkan juga rezeki anak-anak dan istri saya.  

Sekarang setelah berhenti mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan meminum minu-man keras, saya mulai hidup tenang dan merasakan hidup sehat, Insya Allah. Alhamdulillah, sekarang saya tidak ingin menco-banya lagi. (Seperti yang dituturkan pada Ita)[MQMedia.com]  

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: