KELUARGA PENGARANG

INI RUMAH KITA SAYANG

Posted on: April 10, 2007

rumahkita.jpgBuku terbitan Gema Insani, November 2006 ini berisi pengalaman-pengalaman menarik dari sepasang suami-istri penulis. Bagaimana mereka mengelola waktu untk keluarga dan lingkungan. Bagaimana anak-anak mereka tumbuh di antara komunitas Rumah Dunia.   Ini Rumah Kita, Sayang… Seolah ungkapan sepasang suami-istri muda, yang mengharapkan bahtera rumah tangga mereka tahan terhadap badai kehidupan. Buku ini juga cocok untuk pasangan yang sedang merencanakan menikah. Banyak hal bisa kita pelajari di buku ini. Cobalah kita rsakan ”mimpi-mmpi” seorang wanita seperti dalam sajak ”Rumah Kita” karya Tias Tatanka:

Aku taburkan rumput di halaman belakang
di antara pohon lengkeng dan mangga
sudah tumbuhkah bunganya?
Aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak
di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung
karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh
melihat angkasa dan bintang-bintang
dari atap rumah kita 
 
Aku akan ceritakan kelak
pada anak-anak tentang matahari, bulan, laut,
gunung, pelangi, sawah, bau embun, dan tanah.
Aku ajari anak-anak mengerti hijau rumput
Warna bunga dan suara. 
 

***KELUARGA RUMAH SURGA

Subhanallah. Semua memang Allah yang berkehendak. Buku ini selesai kami buat, itu atas kehendak Allah. Lalu ketika tiba pada pemilihan judul, kami sempat pusing. Dan tanpa diduga, kami bertemu dengan Mohammad Faudzil Adhim, yang sangat piawai dalam membuat judul-judul buku, seperti Kupinang Engkau dengan Hamdallah, Mencapai Pernikahan Barokah, dan Kado Pernikahan untuk Istriku. Kami meyakini, pertemuan itu atas kuasa Allah semata. Semua sudah direncanakan-Nya. Dalam proses pembuatan buku ini, beberapa buku karya Cak Adhim (begitu kami memanggil) jadi rujukan. Dalam hati kami berkata, alangkah indahnya jika bisa bertemu dengan penulis hebat ini. Ternyata do’a kami dikabulkan Allah.   Pada Selasa, 5 Juli 2005, salah satu diantara kami (Gola Gong) sepesawat dengan Cak Adhim. Di penerbangan SQ 163, tujuan Jakarta – Singapura – Dubai – Cairo, Gola Gong menceritakan tentang rencana buku ini. Kami tahu Cak Adhim ahli dalam membuat judul buku. Rencana awal, buku ini akan kami beri judul “Home Sweet Home”. Tapi terasa tidak membumi dengan kosa kata bahasa Inggris. Saat diskusi kecil di pesawat itulah, Cak Adhim mengusulkan judul buku “Ini Rumah Kita, Sayang….” Saya tersihir. Judul itu sangat pas dengan puisi Tias Tatanka; Rumah Kita. Gola Gong mengabarkan lewat SMS dari
Cairo kepada Tias Tatanka dan Ina, editor Gema Insani, yang menangani manuskrip ini. Alhamdulillah, semua merasa cocok.
 

Maka Ini Rumah Kita, Sayang…. , hadir untuk pembaca budiman. Didalamnya kami mencoba membagi pengalaman tentang kehidupan sehari-hari, yang sedang belajar membangun keluarga sakinah mawadah warrahmah. Bagi kami keluarga harus bermula dari ibu, setelah itu bapak. Allah sudah menyatakannya dalam Al-Qur’an. Ibu adalah penentu segala kemajuan zaman. Pada ibulah sebuah rumah akan bersinar atau tidak. Pada ibu pulalah para penghuni rumah kelihatan berseri atau bermuram durja. Ibu ibarat pondasi sebuah negeri, karena anak-anak bangsa bergantung pada kekokohannya.  Maka kami mengibaratkan keluarga adalah sebuah rumah surga, dimana didalamnya ada anak-anak sebagai tiang-tiangnya dengan segala canda dan tawanya. Ibu perekatnya. Sedangkan bapak yang menjaga keseimbangannya. Jika salahsatu dari unsur itu tidak harmonis, maka ambruklah rumah surga itu. Bukan surga yang didapat, tapi malah neraka jahanam.  

Harmonisasi itu harus dibina dan dijaga terus-menerus, dengan berbagai ujian dan cobaan dalam kehidupan, karena tak ada rumus pasti untuk menjadikan sebuah keluarga selalu mesra. Keseimbangan itu terletak di hati, saat masing-masing menyadari kodrat, fitrah dan eksistensi dirinya. Keterbukaan dan kesabaran menjadi komponen penting dalam sebuah rumah, untuk menuju seimbang dan harmoni, di bawah ridla Allah semata.  Setiap keluarga pasti memiliki skala keseimbangan dan harmoni yang tidak dapat jadi tolok ukur yang sama bagi keluarga lain. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, plus minus, yang hanya dapat menjadi cermin setiap individu.  

Begitu pun buku ini, yang sengaja disusun sebagai sebuah cermin, menunjukkan bahwa kami ada dan sedang berproses menjadi lebih baik. Kisah-kisah yang terentang dalam buku ini insya Allah dapat mengilhami setiap yang membaca, sebagaimana kami terilhami dari buku-buku, kejadian sekeliling.  Tanpa bermaksud takabur, riya’, kami hadirkan tulisan ini, dengan segala kerendahan hati. Bukankah segala yang agung dan mulia hanyalah milik-Nya?  

Subhanallah, walhamdulillah, syukur ke hadirat Allah SWT yang telah mencurahkan ni’mat dan ridla-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan buku ini. Begitu pun ucapan terima kasih tak terhingga pada orang tua kami, Drs. H. Haris Sumantapura dan Hj. Atisah, HMA Agus Sutanto, BcHk dan Ibu Sri Sugiarsih, atas doa restu dan nasehat-nasehatnya. Juga pada buah hati kami: Nabila Nurkhalishah, Gabriel Firmansyah, Jordy Alghifari dan Natasha Azka Noorsyamsa, kalianlah cahaya hari-hari kami.  Kepada Teh Pipiet Senja, Ina “cenitcenit” dan Penerbit Gema Insani, terima kasih atas kesempatan menuliskan kisah ini. Pada Cak Adhim, terima kasih untuk diskusi yang berkesan. Juga pada para volunteer Rumah Dunia, terus bersemangat merenda masa depan.  

Akhirul kalam, selamat membaca, sahabat. Semoga buku ini membawa manfaat, menggugah semangat, dan jadi cermin bagi kita semua. Kami sendiri sedang terus belajar. Hidup bagi kami belum lagi usai.  ***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: