KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 9] BALADA SI ROY GENERASI JAGUAR!

Posted on: April 10, 2007

layar-9.jpgOleh Gola Gong Saya deg-degan menunggu Mbak Liestiana di ruang tunggu. Saya tebarkan pandang. Ruang tamu mungil.
Ada rak buku yang memajang novel-novel terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU). Trilogi Ahmad Tohari yang mendunia itu; Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Bianglala, Lintas kemukus Dinihari, beberapa novel serial “Lupus” karya Hilman Hariwijaya, Senopati Pamungkas punya Arswendo Atmowiloto, Marga T, Mira W, dan novl-novel terjemhan lainnya. Dalam hati saya berkata, “Bisakah orang kampung seperti saya, manuskripnya diterbitkan penerbit sebedar Gramedia?”
 

Saya sudah melewati banyak rintangan dan menempuh jalan panjang untuk mencapai ke ruang tunggu penerbit GPU ini. Sudah banyak waktu, energi, pikiran, dan kekerasan hati saya pertaruhkan untuk jadi pengarang. Tidak boleh lagi berada di pinggir jalan, jadi penonton. Kesempatan harus direbut. Seize the day1 Carve diem! Begitu guru Keating dalam film “Dead Poet Society” membisikan kalimat sakti pada para siswanya. Ya, raihlah kesempatan. Itu tidak akan datang dua kali. “Balada Si Roy”, menurut beberapa orang redaksi, termasuk serial HAI yang hebat. Kaalau kata Indra, redpel HAI era sekarang, “Lupus dan
Roy adalah legenda HAI. Sampai sekarang belum ada lagi serial yang sehebat mereka. Itu alasannya, kenapa HAI tidak lagi menyediakan rubrik fiksi.”
 

Di rubrik
surat pembca HAI,; Maunya Kamu, pujian dari pembaca gencar dikirimkan. Setiap minggu, saya membacanya dan hati saya berbunga-bunga. Bahkan ada yang mengkategorikan “Balada Si Roy” sebagai “GENERASI JAGUAR”. Saat itu, 1989 awal, HAI sedang gencar memposisikan dirinya sebagai majalah remaja pria jantan. Binatang jenis JAGUAR diperkirakan mewakili sosok pria yang jantan. Apalagi saat itu logo HAI yang handmade tulisan tangan, berubah kapital. Terkesan lebih dinamis dan garang. Saya merasakan, saat membaca di rubrik surat pembaca, bagi cewek, Roy adalah cowok impian, dimana mereka bisa aman bersama
Roy. Sedangkan bagi pembaca cowok,
Roy adalah perwakilan dari zaman mereka, yang gelisah, anti kemapanan, pemberontak, memposisikan cinta bukan sebagai jangkar tapi sekedar halte, dan mencintai alam. Jika berkelahi,
Roy anti main keroyok.
 

Belasan tahun kemudian, saat saya menangani program ramadhan 2003 di RCTI; Kampung Ramadhan, komedian plontos Edwin (pasangan Jodhi dalam “Super Bejo”) mengungkapkan perasaannya tentang “Balada Si
Roy”. Kata Edwin, “Saat saya membaca Roy di HAI, sebagai orang daerah, saya merasa terwakili. Roy adalah cerminan remaja
Indonesia saat itu. Mungcul keinginan kuat berrpetualang seperti
Roy. Muncul keinginan menaklukan
Jakarta.” Belum lagi Ryan Hidayat (almarhum), Bucek Depp, Agus kuncoro, dan Ari Sihasale. Mereka ingin sekali memerankan tokoh ”
Roy” jika difilmkan.
 

Lamunan saya buyar. Seorang wanita Tionghoa muncul. Sederhana dan ramah serta penuh senyum. Tangannya terulur. Saya berdiri dan menjabat tangannya. Wanita itu menggenggam erat tangan saya. “Liestiana,” dia memperkenalkan diri. Saya juga. Dia mempersilahkan saya duduk kembali. “Oh, ini Gola Gong,” dia tersenyum. Lalu langsung pada pokok persoalan, tentang rencana menerbitkan manuskrip “Balada Si Roy” saya ke dalam format buku (novel). “GPU memang berencana menerbitkan banyak novel remaja. Kami akan menamainya ‘Pengarang Remaja Gramedia’. Hilman dengan ‘Lupus’nya sudah kami terbitkan. Nanti ada Zarra Zetira ZR, Adra P Daniel, Gola Gong.,” dan beberapa nama pengarang remaja lainnya lagi, yang masih asing di telinga saya. “Tapi, bisa nggak bikin semacam proposal tentang ‘Balada Si Roy’. Sinopsis umumnya, visi-misinya, dan kira-kira akan berapa jilid,” Mbak Liestiana mengusulkan. Proposal? Saya sebetulnya mengerutkan kening waktu itu, tapi tetap optimis menyanggupi.  

Saya pulang ke Serang. Saya ceritakan kabar gembira ini pada Bapak, Emak, dan saudara. Semua senang. Dan seperti biasa, anya Bapak yang reaksinya berbeda. “Jangan senang dulu. Itu ‘
kan baru rencana. Kalau sudah ada kontrak – hitam di atas putih, baru percaya.”
 

Emak menatap Bapak. “Kapan sih, Bapak mendukungnya? Apa tidak bisa ikut senang seperti yang lain?”  

“Bapak hanya ingin mengingatkan, bahwa hidup ini pahit. Kadang apa yang kita inginkan itu, bekum tentu kita dapatkan. Kalau sudah diingatkan, nanti tidak akan kecewa kalau gagal.” Saya jadi ingat lagu Mick Jagger dari The Rolling Stones; you can’t always get what you want…  

Di kamar saya tidak bisa tidur. Saya ingin segera kembali ke
Jakarta! Mesin tik ada di kamar kos. Saya ingin segera membuat proposal. Omongan Bapak tidak lagi membebani saya. Biar saja. Saya tidak peduli. Saya tahu kok, Bapak memang berbeda dalam cara megnungkapkan rasa cinta dan sayangnya.
Ada betulnya juga omongan Bapak. Saya sejak awal diingatkan untuk siap kecewa! Andai “Balada Si Roy” gagal dibukukan, saya harus siap kecewa!(bersambung ke bagian 10) ***
 

Gambar di atas adalah ilustrasi “Balada Si Roy” di majalah HAI karya Wedha

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: