KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 8] BALADA SI ROY LAYAK DITERBITKAN JADI NOVEL

Posted on: April 10, 2007

layar-8.gifOleh Gola Gong

Saya “terpaksa” menulis di surat pembaca HAI, MAUNYA KAMU, edisi 14-20 Maret 1989/Tahun XIII, tentang kenapa saya tidak mau muncul di media massa sebagai “Gola Gong”. Bukan karena tangan kiri saya yang buntung. Bukan. Itu mah emang gue pikirin. So what gitu, lho!

Saya hanya ingin berkonsentrasi saja pada menulis. Tidak ingin disibukkan oleh jumpa-jumpa penulis. Tapi, ternyata pengarang dan pembaca tidak bisa dipisahkan. Itu tampak dari banyaknya
surat pembaca “Balada Si Roy” (BSR) ke redaksi majalah HAI.
 


Surat pembaca saya banyak menimbulkan reaksi. Banyak yang menuliskan keterkejutannya di
surat, bahwa Gola Gong itu buntung tangan kirinya. Tapi ada juga yang terus memberi semangat, agar saya tetap semangat menulis. “Cerita ‘BSR’ memberi saya inspirasi untuk terus bertahan hidup,” saya ingat ada yang pernah menulis seperti itu. Atau di
surat yang lain, “Saya yang tadinya putus asa, bangkit lagi begitu membaca BSR.” Padahal episode BSR belum genap 13 episode. Rata-rata dalam sehari saya menerima 3 sampai 4
surat dari pembaca BSR. Saya berusaha untuk membalas surat-surat itu, ada atau tidak dilengkapi perangko balasan.
 

Kemunculan pertama saya di SMA Bulungan bersama Bagito, Dede Yusuf, dan Hilman “Lupus” Hariwijaya adalah kompromi saya terhadap industri media
massa. Sulit melukiskan perasaan psikis saya saat itu, karena rata-rata orang
Jakarta itu demokratis dan progresif. Panggung juga jadi jarak yang memisahkan saya dengan pembaca BSR Ini harus jadi bagian dari strategi saya. Bahkan saya ingat omongan Hilman, “Setiap saya membuat cerpen atau cerbung, pikiran saya selalu pada dua hal berikutnya; diterbitkan jadi novel dan difilmkan.”
 

Saat itu, 1988, beberapa judul awal buku “Lupus” karya Hilman sudah berderet di rak-rak buku Gramedia. Hilman,. Boim, Gusur, dan Wedha – sang ilustrator HAI, sering road show ke sekolah-sekolah bersama Arswendo Atmowiloto, mengusung majalah dinding sekolah yang beken dengan sebutan “pers abuabu”.  

Iseng saya utarakan keinginan menerbitkan BSR kedalam bentuk novel kepada Mas Wendo, yang saat itu masih Pemimpin redaksi HAI. Buku-buku Mas Wendo saat itu mengalirt bagai air bah; Senopati Pamungkas yang terbit berjilid-jili; satu jilid setiap bulannya.  

“Apa bisa BSR diterbitkan jadi novel, Mas?” tanya saya.
“Kamu mau?” Mas Wendo balik bertanya.
“Layak tidak BSR diterbitkan?” “Oh, sangat layak!”
 

Mas Wendo punya alasan kuat saat mengatakan itu. Saat episode keempat BSR dimuat, di surat pembaca sudah bermunculan tanggapan
surat dari para pembaca. Bahkan setiap minggu sesudahnya, di
surat pembaca selalu dimuat tanggapan dari pembaca tentang serial BSR. Rata-rata mereka suka dan menanyakan tentang siapa Gola Gong. Mas Wendo juga menceritakan programnya, tentang genre “pengarang remaja Gramedia”. Penerbit Gramedia, menurut Mas Wendo, sedang mencari naskah-naskah cerita remaja yang baik untuk diterbitkan jadi novel. Pada saat itu juga, di HAI muncul penulis-penulis remaja seperti Zarra Zetira ZR, Arini Suryokusumo, dan Lutfi. Majalah HAI memang sangat memanjakan rubkri fiksi di era 90-an. Sekali terbit ada rubrik cerpen, 2 serial, dan cerbung.
 

Tanpa diduga, Mas Wendo langsung menelepon Mbak Liestiana, redaktur fiksi Gramedia Pustaka Utama waktu itu. Mas Wendo mempropaganda BSR saya kepada Mbak Liestiana. “BSR bagus kalau diterbitkan jadi novel!” kata Mas Wendo di telepon. Bahkan saya langsung disuruh Mas Wendo naik ke lantai 5 (HAI di lantai 3) gedung Kompas. Itu tidak saya sia-siakan. Saya bergegas menemui Mbak Lies.  

Di dalam lift, otak saya penuh. Memiliki novel, olalala, hal yang selalu saya impi-impikan. Ya, saya selalu memulainya dengan bermimpi. Saat kecil, saya bermimpi memegangi batu-batu di candi
Borobudur, yang sangat dahsat itu. Dan itu saya wujudkan pada tahun 1981, saat umur saya 18 tahun dan di kelas 3 SMA. Dengan berliften dan naik gerbong kereta, Serang – Yogya saya tempuh selama seminggu. Candi Borobudur, karya spektakuler Wangsa Syailendra itu saya raba-raba. Saya mencoba merasakan pergulatan di baliknya; saat orang-orang menarik batu-batu sebesar rumah dan menumpuknya satu persatu. Selain dibutuhkan tenaga, pikiran, ketrampilan, kepintaran, juga kekerasan hati untuk membuatnya. Saat itu saya menyuruh mat kodak polaroid mengabadikan saya; berdiri di antara jejeran stupa. Foto saat saya di
Borobudur itu, bisa dilihat di majalah MATABACA edisi Pebruari 2005 ini.
 

Saat itu, di kepala saya muncul berjuta-juta mimpi. “Suatu saat kelak, saya akan membuat sebuah karya yang juga bisa dikenang orang!” Saya belum berpikir, bahwa karya itu adalah novel serial “Balada Si Roy” 

***  

Gambar: Cover novel ‘Balada Si Roy’ buku kedua, yang diterbitkan oleh Penerbit BERANDA HIKMAH. Dibuku ini memuat gabungan daari buku ‘Rendes-vouz’, ‘Bad Days’, dan ‘Blue Ransel’.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: