KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 6] TIGA KALI TIGA METER

Posted on: April 10, 2007

family-gg.jpgOleh Gola Gong

Di redaksi majalah HAI, saya bertemu dengan Hilman, Boim, dan Gusur. Juga dengan Adra P. Daniel. Cerita bersambung mereka dimuat di majalah HAI lebih dulu daripada saya. Mereka anak-anak muda, yang tidak berbeda dengan saya, ingin menjadikan menulis sebagai profesi. Mbak Sri, sekretaris redaksi, memperkenalkan kami.

“Oh, ini Gola Gong,” kata Hilman, tersenyum. Kami berjabatan tangan. Boim juga. Hilman memuji “Balada Si Roy”, yang baru muncul empat episode sudah menggebrak. “Sangat laki,” tambh Hilman. Saat itu Hilman yang tidak banyak bicara, masih kuliah di Uiversitas Pancasila, Boim yang hobi ngocol dan itemnya minta ampun, di STP (sekarang IISIP Lenteng Agung), Adra yang kemayu di IKIP Rawamangun. Gusur yang kalau bicara seperti pejabat kelurahan, tidak kuliah, sama seperti saya. Pertemuan yang menyenangkan dengan mereka. Saya merasakan, bahwa kai mempunya mimpi besar sama. Saaat itu mereka sedang pada puncak keemasan. Hilman, Boim, Gusur adalah ikon masjalah HAI. Mereka road show ke hampir seluruh provinsi di
Indonesia, mengusung “pers abu-abu” dari sang big boss, Arswendo Atmowilo.
 Dari Boimlah saya memperoleh informasi tentang kos-kosan. Bahkan dia mengantar saya mencari kosan. Di Palmerah II, dekat SMA Santa Ursula dan SMA 16. Rumah Gusur juga di sekitar itu. Di dalam gang kecil. Ukuran kamarnya 3 kali 3 meter, seharaga Rp.75.000,-. Boim juga kos di
sana. Pemiliknya Betawi asli; mempunya 10 kamar. Untung masih ada yang kosong. Saya kebagian kamar paling ujung.
 

Hanya kamar kosong. Belum ada apa-apa. Seharian itu saya membereskan “istana” saya. Dinding batako sebelah selatan saya tempeli “wall paper” dari koran-koran ibukota. Lantai saya pel. Malamnya, saya kelelahan dengan sehelai tikar pinjaman dari pemilik kos. Belasan
surat dari pembaca “Balada Si Roy” saya baca. Menyenangkan sekali membaca surat-surat mereka; dari
Jakarta, Solo, Yogya, bahkan ada yang dari Meda, dan Makasar. Rata-rata mereka menyukai tokoh “
Roy”, yang sangat berbeda dengan “Lupus”. Bagi mereka, “
Roy” seolah representasi dari kegelisahan jiwa muda mereka. Rata-rata dari mereka memyukai petualangan dan suka naik gunung. Surat-surat saya dekap dan saya biarkan menemani malam saya, yang sangat sensasional dan emosional.
 Kedua mata saya menatap dinding kamar sebelah selatan. Disana terpampang “wall paper” dari koran-koran. Berita-berita headlinenya menyerbu mata batin saya. Saya paling menyukai menatap huruf-huruf headline di
surat kabar. Dari
sana otak kiri dan otak kanan saya bekerja dengan cepat, bertindihan ingin berebut tempat. Malam itu saya punya banyak rencana. Tapi, mesin tik masih di tempat Herdi. Jika kalian pembaca balada Si Roy, di
sana akan ditemukan tokoh “Edi”. Idenya, memang, dari personifikasi Herdi. Dalam keseharian, Herdi sering sekali “menasehati” saya, agar jangan terlalu sering meninggalkan Emak. Herdi sering tidur di rumah saya saat SMA dan dia anak asuh Emak.
 

Saya hanya merasa “shock” saja, karena mulai malam ini, di tahun 1988, saya menempati sebuah kamar, yang saya bayar dari keringat sendiri. Tidak lagi dari orangtua. Umur saya 25 tahun. Sudah cukup tua untuk disebut mandiri. Tapi, semuanya sesuai dengan rencana besar saya. Harus pelan-pelan dan tidak terburu-buru.  Bagi saya yang tinggal di kampung, strategi dengan mengukur kemampuan diri, sangatlah penting. Saya datang ke
Jakarta tidak ingin bernasib seperti kaum urban lainnya, yang jadi penonton di pinggir jalan. Saya ingin semuanya dengan perhitungan matang. Kalau ibarat pesilat, cukup sudah berguru di padepokan. Sekaranglah saatnya turun gunung untuk mengadu ilmu dengan pendekar dari perguruan lain. Analogi ini saya kenakan pada dunia kepenulisan. Saat itu saya merasa batin saya sudah cukup untuk menceburkan diri pada dunia kepenulisan.
 

Seperti yang dikatakan Ismail Marahimin dalam buku “Menulis Secara Populer” (Pustaka Jaya, 1994:17), bahwa untuk dapat ‘menulis’ kita harus banyak ‘membaca’. Membaca adalah sarana utama menuju ke ktrampilan menulis. Membaca memberikan berbagai-bagai ‘tenaga dalam’, yang sangat dibutuhkan oleh penulis. Nah, saya pada saat itu, merasa memiliki ‘tenaga dalam’ yang sangat tinggi! Saya dalam keadaan siap tempur, berkompetisi dengan penulis-penulis lain.  Tekad itu saya ikrarkan di kamar tiga kali tiga meter. Sangat beralasan, karena di majalah HAI; setiap terbit selalu muncul dua serial secara “head to head”. Saat pemunculan “Balada Si Roy” langsung berhadapan dengan “Lupus” yang ditulis Hilman. Serial “Lupus” ditempatkan di halaman awal, sedangkan “Balada Si Roy” di halaman belakang; serial nomor dua. . (bersambung ke bagian 7) ***  

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: