KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 3] MAKNA FILOSOFI GOLA GONG

Posted on: April 10, 2007

layar-3.jpgOleh Gola Gong

Saya pulang ke Serang. Saya ceritakan semuanya pada Bapak dan Emak serta saudara. Saya merasa optimis, tapi Bapak mengingatkan, jangan terlalu banyak berharap, karena kalau tidak kesampaian bisa kecewa. Bapak malah menyarankan agar saya meneruskan kuliah lagi. “Kalau perlu kuliah di Serang saja, di Untirta!”

 Saya tetap menolak. Saya mengurung diri lagi di kamar. Tak, tik, tuk….. bunyi mesin ketik memenuhi kamarku. Saya menyelesaikan lagi episode lanjutan “Balada Si Roy” sebanyak tujuh lagi. Jumlah seluruhnya 11 episode. Dan pada hari yang dijanjikan, saya berangkat ke majalah HAI. Kali ini saya tidak memakai tangan palsu. Sengaja. Saya sangat optimis, bahwa “Balada Si Roy” pasti akan diterima.  

Di lobi gedung KOMPAS, walau agak sedikit menarik perhatian, saya dipersilahkan naik ke lantai 2 oleh security. Tidak ada masalah apa-apa. Tapi, saya mesti menunggu agak lama di ruang redaksi HAI. Orang-orang (redaksi HAI) lalu lalang dan melirik ke saya. Mungkin pikir mereka, “Ini pendekar tangan satu dari mana?” Saya tersenyum saja.  Tiba-tiba seorang lelaki (saya mengenalnya kemudian sebagai Mas Wedha – ilustrator HAI) melihat saya. Dia memperhatikan saya. Tentu saja saya mengenal dia. Kata Mas Wedha, “Kayaknya saya mengenal kamu. Tapi, dimana?” Mas Wedha mengingat-ingat. “Oh, ya! Kamu yang menulis ‘Balada Si Roy’, ya!” Dia meneliti wajah saya dengan seksama.  

Saya mengangguk senang. Ini alamat baik. Apa saya bilang! Pasti diterima!  “Saya disuruh membuat ilustrasinya!” kata Wedha memperhatikan tangan kiri saya yang buntung sebatas sikut. “Lho, kok? Kemarin, perasaan tidak…”  

Saya ceritakan, bahwa kedatangan saya ke sini dulu memakai tangan palsu. ‘Nyenengin Emak, Mas!”  Mas Wedha mengajak saya masuk ke redaksi. Dia memperkenalkan saya ke seluruh redaksi sebagai penulis “Balada Si Roy”. Semua menatap saya. Mbak Retno juga menatap saya dengan heran. Lalu saya dibawa ke Mas Wendo. Saya duduk di depannya. Mas Wendo memuji “Balada Si Roy”. Saya tentu saja sengang. Novel-novel Mas Wendo memenuhi rak buku saya.  

“Maret 1988 serial ‘Balada Si Roy’ akan kami muat,” kata Mbak Retno. “sebaiknya kamu nyari nama pena, deh!”  Uuuh, betapa membuncahnya dada saya. Betapa menggelegaknya hati saya. Sepanjang perjalanan pulang Palmerah – Serang, darah saya mendidih. Saya ingin cepat-cepat sampai di rumah dan memeluk Bapak serta Emak, bahwa “Balada Si Roy” akan dimuat di HAI! Karya cerita fiksi saya goal!  

Tiba di rumah, saya bercerita dengan semangat. Emak dan saudara-saudara saya tentu saja gembira. Tapi Bapaklah – lagi-lagi – yang tidak pernah sepaham. Kata Bapak, “Jangan senang dulu. Siapa tahu nanti mereka berubah pikiran. Kalau nanti sudah jelas dimuat di majalah, baru kamu boleh senang.”  Saya memaklumi kekhawatiran Bapak. Lalu saat makan malam, saya ceritakan tentang nama pena. Semua mengusulkan nama pena. “Chebing Chekov!” kata Goozal, adik lelaki saya. “Siki Nangka saja!” kata adik perempuan saya. Belum ada yang cocok. Saya sholat istikharah. Mencoba-coba mencari petunjuk.  

Saat sarapan pagi saya menemukan nama pena: GOAL GONG. Ini artinya “goal” itu karya saya masuk, seperti bola masuk ke gawang lawan. Dan “gong” berarti karya saya semoga saja bunyinya bisa menggema seperti bunyi alat musik gong. Emak setuju. Beliau mengingatkan saya, “Kesuksesan yang kamu raih itu tanpa ridho Allah tidak mungkin terjadi!”  Saya terpekur dengan kalimat Emak ini. Tanpa ridho Allah, tanpa ridho Allah semuanya sia-sia! Saya terinspirasi. Allah berarti “a”, berarti “yang pertama”, bisa juga “alif”. Lalu saya corat-coret lagi. “Bagaimana kalau GOL A GONG. Maksudnya di antara “gol” dan “gong” itu dijembatani oleh Allah. Tapi, masih belum enak. Akhirnya jadilah “Gola Gong”, dimana maknanya adalah “kesuksesan itu semuanya berasal dari Allah” 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: