KELUARGA PENGARANG

[Di balik Layar 2] TANGAN PALSU MENAKLUKKAN JAKARTA

Posted on: April 10, 2007

tangan-com.jpgOleh Gola Gong

Saya memutuskan jadi penulis sebetulnya karena perlakuan diskriminasi pemerintah waktu itu. Tangan kiri saya diamputasi sebatas sikut pada tahun 1971, karena terjatuh dari pohon. Cerita tentang ini ada di buku saya; MENGGENGGAM DUNIA (DAR! MIZAN, 2006) yang sejak Desember 2004 dimuat bersambung di “Cermin” majalah MATABACA.

 Ketika saya tahu, bahwa orang cacat itu sulit sekali mencari pekerjaan, terutama jadi pegawai negeri (guru), saya memilih masuk fakultas sastra. Hobi membaca dan menonton film yang tertanam sejak dini, mencuat dan muncul ke permukaan, menjadi modal untuk saya bertahan hidup. Saya akan menggeluti dunia kepenulisan sebagai profesi, sebagai sarana untuk mencari nafkah, untuk beribadah, dan untuk menghidupi keluaraga kelak. Emak sudah mendukung sejak awal. Tapi Bapak masih setengah-setengah. Bapak hanya menyuruh saya untuk merasakan dulu jadi seorang pengarang. Pada tahun 1988 umur saya genap 25 tahun. Saya memutuskan berhenti kuliah dan ada manuskrip cerita fiksi remaja menumpuk di kamar saya! “Saya akan ke
Jakarta, Mak. Menyerahkan cerita serial ‘Balada Si Roy’ ini ke majalah HAI. Saya yakin akan nembus. Akan goal!” saya meyakinkan Emak waktu itu.
 

Emak mendukung. Dan Emak memecahkan celengannya. Sebanyak Rp. 1,5 juta diserahkannya pada saya. Pada tahun 1988 uang itu sangatlah banyak. “Uang ini sebetulnya Emak simpan untuk bekal pernikahan kamu,” kata Emak. Tapi saat itu Emak menyuruh saya membeli tangan palsu. “Untuk apa tangan paluu, Mak?” Emak menjelaskan, bahwa
Jakarta itu kejam. Bahwa orang-orang
Jakarta selalu menilai orang dari kulitnya dulu. “Bisa-bisa, ketika kamu hendak masuk ke redaksi HAI, satpam di lobbi sudah mengusir kamu, karena tanganmu yang buntung itu! Dikiranya kamu mau minta sumbangan nanti!”
 
Emak beralasan bicara seperti itu. Saya memang temperamental! “Bisa-bisa cita-citamu kandas di tengah jalan hanya karena soal sepele. Untuk orang yang mempunyai kekurangan seperti kamu, hidup mesti punya strategi!” Hidup mesti punya strategi! Kalimat Emak terngiang-ngiang terus di telinga. Betul juga. Saya turuti permintaan Emak. Saya ke Sunter, Jakarta Utara, membeli tangan palsu. Buatan
Taiwan. Harganya Rp. 1,3 juta. Sisa Rp.200.000,- saya gunakan untuk modal hidup di Jakarta.
 

Sebelum berangkat, saya pakai dulu tangan palsu itu di Serang. Saya tunjukan pada teman-teman saya di jalanan. Hah! Mereka rata-rata tidak menyetujui saya memakai tangan palsu! Sialan! Padahal saat itu saya memakai jaket kulit, berlagak jadi “Ali Topan Anak Jalanan”! Saya jelaskan pada mereka, bahwa ini adalah strategi hidup. Bagian dari membangun imej diri. Bagian dari pemasaran (menjual diri, hahahaa…!) Maka berangkatlah saya ke
Jakarta di akhir Desember 1987. Tujuan saya ke alamat kos Herdi Kusmayadi, kawan dekat (anak asuh Emak, yang di “Balada Si Roy” saya jdikan tokoh “Edi”) di SMAN 1 Serang. Herdi mengontrak kamar di perkampungan padat di belakang Polda (sekarang sudah jadi kawasan bisnis). Saya menginap di
sana. Herdi kaget melihat saya memakai tangan palsu.
 
“Untuk menaklukkan
Jakarta!” kata saya. Lalu Saya serahkan 4 episode “Balada Si Roy” pada Herdi. “Bacalah!” Herdi pun membaca. “Besok akan saya serahkan ke majalah HAI.”
 Sementara Herdi asik membaca, saya tertidur. Pagi hari, Herdi membangunkan saya. Dia menatap saya dengan wajah berbinar, “Itu tulisanmu?” Iya! “Bagus!” pujinya jujur. Dia tidak merasa heran, karena saya sudah pernah memulis puisi di majalah HAI. Dialah orang pertama yang “merampok” honorarium puisi saya (sebesar Rp. 3500,-). Bahkan saya sering mengisi rubrik puisi majalah dinding sekolah (yang digawangi Toto ST Radik, tapi kami belum akrab waktu itu!) dan pernah membuat majalah kumpulan cerpen seperti Anita Cemerlang (sudah almarhum). Majalah itu saya gawangi sendiri. Cerpennya saya yang buat. Begitu juga ilustrasinya. Majalah itu berputar dari satu kelas ke kelas lain. Majalah itu masih saya simpan dan jadi artefak berharga buat saya. Kondisi memang rapuh. Usia majalah itu sudah 22 tahun!  Dengan tangan palsu dan jaket jeans Levi’s yang saya beli di Pasar Ular, Jakarta Utara, saya masuk ke gedung Kompas di Palmerah Selatan. Semuanya lancar. Satpam di lobi tersenyum dan menayakan mau ketemu siapa? Saya jawab santai, “Mau ada pemotretan di majalah HAI!” Hahahaha! Satpam itu menganggap saya sebagai cover boy! Saya naik ke lantai 3. Saya masuk ke redaksi HAI. Menunggu sebentar di ruang tungu. Saya diterima Mbak Retno, redpel HAI waktu itu (Pemrednya Arswendo Atmowiloto). Dengan yakin, saya sodorkan manuskrip “Balada si
Roy” ke Mbak Retno. “Saya punya serial yang berbeda. Kalau Lupus itu permen, yang ini batu. Kalau Lupus itu musik pop, yang ini rock!” Saat itu serial Lupus (Hilman) sedang mewabah. Rambut John Taylor “Duran Duran” dan permen karet jadi ikon remaja!
 Saya meminta jawaban cepat. Mbak Retno menyuruh saya kembali seminggu lagi. Dalam hati saya merasa yakin, bahwa serial “Balada Si Roy” ini akan terpampang di majalah HAI dan disenangi pembaca! 

Foto: Saat saya mencoba tangan palsu yang dibelikan oleh Emak (1988). Saya hanya tahan memakai beberapa saat saja. TEman-teman saya lebih suka saya apa adanya.

*) Foto saat saya berumur 11 tahun, di CBZ, Jakarta, 1974

1 Response to "[Di balik Layar 2] TANGAN PALSU MENAKLUKKAN JAKARTA"

allohuakbar…
kalo boleh ngacungin jempol
saya acungi jempol empat buat mas gong…
waktu balada si roy muncul di majalah hai say baru sma
dan sekarang udah ada dalam bentuk novel
saat ini udah bisa beli sendiri (dulu masih minjem he he he)
sekali lagi salut buat mas gong..
salam kenal dari saya
yudi (teman teman panggil saya yudex, kalo diterusin jadi yudex elex koyox telex)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: