KELUARGA PENGARANG

BEBEGIG DI ODE KAMPUNG

Posted on: April 10, 2007

bebegig.jpgOleh Gola Gong

orang-orangan sawah tak ada lagi
belantara sawah petak-petak padi
mengusir burung-burung
mengusir kantuk petani
mengusik angin-angin
tak ada cerita kancil menempel di badanmu
tak ada topi petani menakuti burung
tak ada rentang tangan kaku
tak ada gubuk
tak ada orang-orangan di sawahku
*** Beberapa relawan Rumah Dunia; Ibnu, Rimba, Ferry, Qopal, Muhzen Den, Roni, dan Aji memasang bebegig – orang-orangan sawah, di pintu masuk jalan Kemang Pusri yang rusak parah, menuju kampung Kesuren, Ciloang, Komplek Hegar Alam, dan Kubil. Dua bebegig – lelaki dan permpuan, bertulang bambu, berotot jerami, bertopi caping, dan berbaju loakan seharga 3000-an rupiah yang dibeli di pasar loak gang rendah, Pasar Lama, mengapit replika saung, tempat melepas penat petani sambil menikmati makan siang. Beberapa ikat padi digantung di tiang penyangga. Mereka sedang memasang tanda atau rambu ”Ode Kampung: Temu Sastra(wan) se-Kampung Nusantara” di Rumah Dunia, 3 – 5 Februari, agar para peserta yang berdatangan dari luar Serang tidak tersesat.  

Orang-orang yang melintas di jalan Jendral Sudirman, mencuri pandang sejenak, melepas senyum dan ada yang tertawa lucu. Tukang ojek motor dan becak yang sedang mangkal, menatap peristiwa itu dengan tatapan aneh. Mata mereka menerawang ke suatu waktu, dimana mereka pernah memiliki berpetak atau sepetak sawah; kerbau, cangkul, lumpur, bibit padi, belut, dan nyanyian kodok yang memanggili hujan. Bacalah sepenggal sajak “Tembang” karya Asep GP ((Bebegig, Kumpulan Puisi 7 Penyair Serang, LiST, 1998): aku dengar sayup-sayup/kodok-kodok menembang/minta hujan/suranya tersangkut di tenggorokan/sungai/sawah/di belakang rumah/kering.  

Kehidupan luhur mereka lenyap, karena orang tua mereka tak tahan dengan status sosial dan modernitas yang menyeret mereka ke konsumerisme. Sawah-sawah dijual oleh orangtua karena tidak tahan oleh intimidasi para calo. Lalu mereka pergi haji dan membeli sepeda motor atau membangun rumah. Sepulang dari haji, mereka tidak lagi pergi ke sawah, tapi menyuruh anak-anaknya jadi pengojek tanpa peduli pendidikan. Sebagian lagi ada yang jadi petani penggarap. Sebagian lagi ada yang beralih profesi, berjualan pakaian di Pasar Rawu, atau menjadi pemulung dan pengangguran.  

Bebegig dalam peristiwa sosial dan budaya. Bagi Pak Tani, itu adalah untuk menakut-nakuti burung pipit, dan tikus sawah. Sedangkan bagi para relawan Rumah Dunia sebagai pertanda bagi para peserta ”Ode Kampung”. Dan apa arti bebegig bagi Anda?  

*** 

Bebegig atau jejodog (bahasa Jawa Serang) adalah cermin diri kita sendiri. Lihatlah, jika panen tiba, Pak Tani membuat orang-orangan sawah, agar burung-burung pipit dan tikus sawah tidak rakus mengambili bulir-bulir padi yang ranum. Atau seperti dongeng si kancil, yang mencuri ketimun Pak Tani. Dengan kaleng-kaleng yang diikatkan tali ke tubuh bebegig, bunyiannya menggema ke seluruh sudut persawahan, membuat takut burung dan tikus. Pak Tani menitipkan sawah atau ladangnya kepada bebegig.  

Tapi, apa yang terjadi sekarang? Terjadi dekontruksi nilai dan fungsi. Jika malam tiba, bebegig berubah jadi hantu berdasi dan berhandphone. Mereka bermunculan dimana-mana, mengukuri sawah-sawah dan ladang Pak Tani. Mereka – para bebegig itu, menebar teror; mengancam kepada siapa saja yang tidak mau menjual tanahnya. Mereka mengangkuti aspal dan koral di jalan-jalan kampung, sehingga berlubang dan hancur. Mereka menculiki gadis kampung.  

Itu terasa dalam sepenggal sajak “Elegi Serang” (Ode Kampung, LiST, 1995) karya Toto ST Radik: selamat pagi, cintaku/tanah sebelah mana lagikah/bakal kautanam pabrikpabrik/dan mimpi buruk?  

***  

Bebegig itu tergambar pula di puisi ”Orang-orangan Sawah” karya Tias Tatanka (Bebegig, Kumpulan Puisi 7 Penyair Serang, LiST, 1998) di awal tulisan ini. Itu mengingatkan kita tentang suatu kehidupan terlupakan bahkan terpinggirkan, yaitu para petani yang selalu membungkuk ikhlas menanami bumi dengan padi, sumber kehidupan kita.  

Sempatkah kita berpikir saat hendak menyantap nasi di meja makan, tentang bebegig atau orang-orangan sawah? Pernahkah kita merasakan peluh petani dan lenguh kerbau, saat membajak sawah?  

Tidak. Yang selalu kita lakukan adalah menyakiti mereka, para petani. Kita dengan sombongnya menggusuri sawah-sawah mereka dengan alasan pembangunan. Kita kencingi sungai mereka dengan limbah pabrik, sehingga anak-anak mereka gatal dan korengan. Kita hargai kehidupan mereka sepadan dengan sebatang rokok dan segelas kopi. Kita menekan mereka, agar harga gabah rendah dan pupuk mahal. Kita tidak rela kalau mereka pintar dan kaya. Kita membunuh mereka dengan mengirim beras dari negeri tetangga dengan dalih menjaga keseimbangan. Kita sudah berlaku tidak adil terhadap mereka. Kita membiarkan anak-anak mereka kurang sandang, pangan, dan pendidikan. Kita membiarkan mereka menanam padi, tapi setelah panen mereka tidak memakan padi yang mereka tanam sendiri, karena kita mencurinya.  

Semuanya diingatkan di ”Ode Kampung Rumah Dunia”, 3 – 5 Februari 2006. Bebegig-bebegig itu memenuhi areal Rumah Dunia, dicengkram potongan-potongan kayu pohon mangga. Topi caping menyembunyikan kesedihan wajah mereka. Ibarat pesakitan, bebegig itu menunduk dengan wajah pilu, mencoba menegur agar kita tidak seperti kacang lupa pada kulitnya.  

Jika kita memang berotak bebal, tinggal ambil minyak tanah, guyurkan saja. Lalu nyalakan api…., blup! Hangus dan matilah para bebegig itu, sehingga kita nanti hanya bisa meratapi mereka dalam bingkai foto atau lukisan.  

Lantas, setelah itu kita mau ke mana? Atau seperti kata Toto ST Radik di penggalan sajak ”Elegi Serang” yang lain: kuntum mawar tanggal dari tangkai/tersesat di warungwarung kelam/mencari harum dalam botolbotol parfum/yang kau jaja dengan gairah berlebihan..  

. ***  

Rumah Dunia, 1 Februari 2005

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: