KELUARGA PENGARANG

ANDAI BUKU BISA BICARA

Posted on: April 10, 2007

wedha-gg.jpgOleh Gola Gong

Ketika saya masih muda dan bujangan, sekitar 1982 – 1995, hidup saya selalu berpindah-pindah, dari tempat kosan ke kosan lainnya. Penghuni tetap di kamar saya adalah buku-buku, televisi 14 inci, tape dan kaset-kasetnya, mesin tik, serta komputer.

Pada awalnya buku-buku itu saya biarkan berserakan di lantai, ditumpuk ala kadarnya. Jumlahnya bisa mencapai ratusan. Jika sudah banyak, saya masukkan ke dalam dus bekas mie instan dan saya fungsikan sebagai tempat duduk atau meja. Andai buku-buku itu bisa bicara, mereka pasti protes disimpan di ruang sempit dan tak berudara. Apa boleh buat. Biasanya saya mengucapkan salam perpisahan saat menutup dus dengan plester lakban, “Tunggu tanggal mainnya, ya! Saya akan buatkan kamu rumah yang bagus dan besar nanti, dimana orang-orang akan datang untuk menemui kamu!”  

***  

Jika pindah kosan, inilah masa-masa terberat. Terutama berdus-dus buku yang harus saya angkut. Biaya produksinya besar. Saya harus menyewa mobil. Kadang dus-dus buku itu merampas setengah badan mobil. Atau jika kosan saya sudah penuh oleh dus-dus berisi buku, setiap akhir pekan, dengan ransel saya mencicil mengangkuti buku-buku ke kamar saya di rumah orangtua di Serang. Setelah rak-rak di kamar saya penuh, dus-dus buku saya mulai memakan ruangan di paviliun. Kemudian Bapak membikinkan rak dan paviliun itu dijadikan perpustakaan kecil. Pesan saya pada Emak dan bapak, tidak boleh meminjamkan buku-buku saya kepada orang lain! Setiap musim liburan di rumah Emak-Bapak, saya selalu memandangi buku-buku, di kamar dan ruangan paviliun. Di dalam hati saya berkata, tunggulah nanti jika saya sudah berkeluarga! Saya ingin membuat sebuah taman bacaan seperti yang pernah NH. Dini – pengarang wanita, lakukan. Saya muda memang terobsesi membuat sebuah gelanggang remaja buah karya Ali Sadikin, gubernur DKI era 1970-an. Selain aktivitas kesenian dan kreativitas lainnya seperti kursus bahasa, bela diri, dan olah vocal, perpustakaan adalah salahsatu penunjangnya. Konsep gelanggang remaja (Bulungan di Jakarta dan Merdeka di Bandung) sangatlah bagus.
Para remaja bisa menyalurkan bakat-bakatnya di bidang seni serta para seniman dan budayawan mempunyai tempat untuk menyalurkan kreatifitasnya.
 

Di Serang, Banten, ketika saya remaja (1970 – 1982) tempat menampung kreatifitas seperti itu tidak ada. Saya baru bisa menemukan tempat seperti Gelanggang Gedung Medeka, di jalan Merdeka Bandung, ketika kuliah di Fakultas Sastra Unpad (1982- 1985). Sesekali saya sering datang ke gedung itu hanya untuk menonton kegiatan anak mudanya. Saya masih merasa minder untuk bergabung, karena tidak mempunyai kemampuan apa-apadi bidang seni. Saya hanya jadi penonton atau penikmat. Begitu juga di hampir setiap ada pertunjukkan kesenian di geung Rumentang Siang, Kosambi,
Bandung. Saya tidak pernah melewatkanya. Selalu api memercik di hati saya saat itu, ”Kelal jika Allah memberiku rezeki berlebih, akan aku bangun tempat seperti ini di Banten.”
 

Waktu terus menggelinding. Kata Bob Dylan, ”… like a rolling stones”. Sampai di bulan Desember tahun 2005 ini, tempat seperti gelanggang remaja dan gedung kesenian yang saya dambakan belum juga dibangun pemerintah. Padahal sejak Serang jadi ibu
kota Provinsi Banten pada tahun 2000, janji akan membuat Taman Budaya Banten pernah didengungkan Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banten. Bahkan ide itu diseminarkan di Hotel Ferry, Merak, pada akhir 2002. Saat itu saya sudah memiliki miniatur gelanggang remaja; yaitu Rumah Dunia, seluas 1000 meter persegi di halaman belakang rumah saya. Dibandingkan dengan rencana Taman Budaya Banten seluas 2 hektar dan menelan biaya milyaran rupiah, jelas Rumah Dunia bukan saingan yang seimbang, Tapi, saya sengaja memprovokasi para peserta seminar dan petinggi di Banten, “Rumah Dunia akan saya posisikan sebagai taman budaya alternatif!” Dan itu saya buktikan. Setiap akhir pekan, di Rumah Dunia selalu ada kegiatan disksi seni dan budaya, perbukuan, pendidikan, dan pertunjukan kesenian; baca puisi, teater, dan musikalisasi puisi.
 

Setidak-tidaknya, keinginan yang membludak sejak saya muda tentang sebuah rumah tempat dimana saya menyimpan buku sudah terpenuhi. Bahkan tempat yang saya namai “Rumah Dunia” itu tidak hanya jadi rumah buku, tapi juga rumah bagi anak-anak dan remaja mengasah bakat mereka dalam berkesenian.  

***  

Setiap melihat buku-buku koleksi saya dirak-rak Rumah Dunia, saya jadi ingat sepenggal kisah Ajip Rosidi, pengarang dan kolektor buku hebat. Buku-bukunya mencapai puluhan ribu buah. Saat remaja, Ajip sudah mengkoleksi buku. Ajip muda juga pernah kerepotan menyimpan buku. Bahkan buku-bukunya yang disimpan di dus-dus pernah hancur terkena rembesan air. Saya sendiri pernah mengalami hal itu. Beberapa ratus buku saya hancur termakan rayap. Itu terjadi sepulang saya melakukan perjalanan mengelilingi nusantara (1985- 1987). Saya sangat marah ketika mendapati rayap memakan halaman-halaman novel pop Indonesia seperti Eddy D. Iskandar, Teguh Esha, Mira W, juga koleksi roman Balai Pustaka, album cerita bergambar, beberapa buku Karl May, buku-buku teori sastra, sejarah, buku seri olahraga seperti Asean games dan PON warisan dari Bapak, psikologi, sosiologi, filsafat, antropologi, buku-buku tua tentang pendidikan anak warisan Emak dan Bapak, dan manuskrip-manuskrip bakal novel dan sajak, sehingga buku-buku berharga itu pada bolong. Juga semut dengan telor-telornya menyarang di kaset The Rolling Stones, The Beatles, God Bless, Deep Purple, genesis, Pink Floyd, Super Kid, Ikang Fawzi, Fariz RM, Guruh Gipsy, dan Opera Ken Arok Harry Roesly. Saya hitung ada sekitar 200-an kaset hancur. Saya ceburkan ke dalam ember berisi minyak tanah dan saya bakar semuanya!  

Ah! Andai buku itu bisa bicara, mungkin mereka akan protes, karena saya sudah mentelantarkannya! Ya, kadang kala saya suka menyesal jika mengingat itu, karena sudah teledor memperlakukan buku. Sebetulnya, hakekat dari buku adalah bukan pada bernafsunya kita mengkoleksi buku sampai ribuan atau puluhan ribu judul berjejer di rak, tapi lebih pada bagaimana kita memperlaukkan buku itu secara ”manusiawi” dan bermanfaat. Buku adalah untuk dibaca. Setelah kita selesai membacanya, janganlah ilmu yang tersembunyi di buku itu didiamkan saja, tapi sebarkanlah kepada orang lain. Memang, ada pepatah yang mengatakan, bahwa jika buku itu dipinjamkan tidak akan hilang, tapi juga tidak akan kembali. Pepatah menakutkan itu mesti kita akali. Itulah sebabnya kenapa saya membuat Rumah Dunia, sebuah pusat belajar dimana perpustakaan sebagai pendukungnya. Ribuan buku koleksi pribadi saya simpan di
sana. Saya ingin masyarakat luas juga bisa membaca buku-buku yang pernah saya baca di tempat, tidak boleh dibawa pulang. Mereka berhak juga mendapatkan apa-apa yang pernah kita dapatkan. Tuhan sudah memerintahkan itu dalam kitab-Nya, bahwa apa-apa yang ada pada kita, juga ada hak orang lain di dalamnya. Kita harus mau membaginya. Begitulah dengan ribuan buku yang saya miliki. Saya tidak ingin menyekap mereka dalam dus-dus kecil dan sumpek lagi. Tapi saya simpan di rak-rak Rumah Dunia. Siapa saja boleh datang dan membacanya di tempat, tidak boleh dibawa pulang. Saya pikir, itu adalah cara terbaik dalam memperlakukan buku.
 

***  

Buku-buku itu ada yang saya beli ketika masih kuliah, pada tahun 1982-an. Saat itu saya rajin mencari buku di Senen, Jakarta, Palasari dan Cihapit,
Bandung. Di Senen saya memborong Karl May. Buku ini sangat luar biasa. Terutama ”Winnetou”-nya. Karl May memberi banyak inspirasi pada saya. Mebuat saya bersemangat dalam hidup. Darah muda sayaselalu mendidih dan memimpikan, suatu saat kelak saya akan menyusuri dunia. Kalau Old Shaterhand dengan kuda, saya dengan sepeda. Itu saya buktikan, bersepeda menyusuri Kuala Lumpur –
Bangkok selama 1 bulan di tahun 1991. Pernah di kereta dalam perjalanan Agra ke
New Delhi, India, saya mendapat teman perjalanan orang Jerman. Si Bule itu mengatakan, bahwa Karl May adalah pembohong besar. “Karl May menulis Winnetou dan Amerika di penjara. Dia belum pernah ke Amerika,” katanya. Tapi saya merasakn, si Bule itu bercerita dengan rasa bangga.
 

Ada juga buku-buku yang saya beli di perempatan Slipi, Palmerah,
Jakarta. Saya sering memergoki Gusur Adhikarya, penulis remaja yang tergabung dalam gerombolan ”Lupus”. Gusur sering saya pergoki asyik memborong buku-buku bekas di Slipi. Ketika saya ke kamarnya, masya Allah, kamarnya penuh dengan buku dan majalah. Jika duduk, kami harus berebut tempat dengan buku. Kini setelah berkeluarga, Gusur ”terpaksa” harus membeli rumah tetangga di depannya, karena rumah yang dia tinggali bersama istri dan anak-anaknya sudah penuh oleh buku dan majalah!
 

Setelah peristiwa mengenaskan itu, saya berusaha membeli edisi terbarunya. Tapi, tetap saja ada peristiwa tidak mengenakkan terjadi terhadap buku-buku saya. Beberapa koleksi buku yang hilang tidak terhitung, karena dipinjam dan tidak dikembalikan. Saya masih ingat beberapa koleksi kesayangan yang raib; Pengakuan Pariyem, biografi Albert Enstein, Monte Cristo karya Alexandre Dumas edisi hard cover terbitan Pustaka Jaya, Albert Camus, Petualangan Jim Bowie karya Paul L. Wellman, Papillon, Sosiologi karya Max Weber, dan Ali Topan Anak Jalanan karya Teguh Esha. Andai buku itu bisa bicara, mereka pasti akan berteriak protes lagi, kenapa saya membiarkan orang lain mengambilnya!  

Saya masih ingat ketika teman saya meminjam buku biografi Enstein sepuluh tahun yang lalu. Saya berterus terang, sangat keberatan meminamkan buku itu. Tapi teman saya memaksa terus. Saya mengingatkan, bahwa buku bagi saya seperti belahan jiwa. Dan saya mempunyai rencana panjang dengan setiap buku yang saya miliki. Buku bagi saya belum selesai perjalanannya, walaupun setelah saya baca. Terbukti, sampai sekarang teman saya tidak pernah kembali lagi dengan buku itu. Setelah menikah, dengan waktu yang semakin terbatas mengunjungi toko-toko buku, saya berhasil membeli lagi Monte Cristo di Tb. Gramedia, Papillon di komunitas Pasarbuku, Jakarta, dan Ali Topan Anak Jalanan di Ommunium Book,
Bandung. Juga buku-buku Karl May edisi trbaru, saya ketiban durian runtuh! Pandu Ganesha dari Paguyuban Karl May menghadiahi saya edisi terbaru trilogi Winnetou! Tapi masih banyak buku-buku yang masih ingin saya cari lagi, misalnya ”Pengakuan Pariyem” yang entah raib kemana..
 

***  

Rumah Dunia, 23 Desember 2005 Ya, andai buku bisa bicara. Mungkin mereka akan protes pada saya, kenapa dibiarkan teronggok berdebu di rak-rak dan sumpek di dus-dus. Bahkan ada yang saya simpan rapat di peti. Setiap saya berada di paviliun rumah orang tua, saya hanya bisa mengulang-ulang janji pada mereka, “Sabar, tunggu saya mempunyai sebidang tanah dulu!” Kini saya bisa bernapas lega. Ajip Rosidi juga begitu. Kini Ajip bisa berbahagia di hari tuanya di desa Pabelan, Magelang, Jawa tengah. Sebelum dia pindah ke
sana, buku-bukunya yang puluhan ribu lebih dulu mendapat tempat. Ya, buku-buku yang dulu saya sekap, sudah disimpan di rak-rak Rumah Dunia. Saya hanya perlu memikirkan tentagn rak-rak yang terlindung dengan penutup kaca, agar tidak terkena tamparan angin dan hujan. Masalahnya perpustakaan Rumah Dunia belum berpintu dan jendela alias terbuka. Raknya juga begitu. Sudah 4 tahun buku-buku itu kepanasan dan kedinginan. Kadang air hujan bercipratan menimpa mereka.
 

Tapi kenapa saya tega menyimpan buku-buku didus, bahkan di peti? Buku bagi saya adalah investasi. Ibarat biji tanaman, saya sedang menanamnya dan kelak anak-cucu memanen hasilnya. Andai saja kami bisa bercakap-cakap, akan saya jelaskan pada mereka, bahwa saya mempunyai rencana besar, yaitu menularkan budaya membaca di tempat tinggal saya kelak. Kenapa saya memasukkan mereka ke dus atau peti, itu supaya mereka aman dari tangan-tangan jahil. Buku-buku itu adalah modal saya nanti. Pekerjaan kultural yang saya lakukan ini memang tidak populer. Itulah sebabnya saya harus hati-hati merencanakannya. Dengan buku, saya bermimpi bisa melakukan sesuatu.  

Ketika saya membaca di koran, bahwa Wanda Hamidah – artis dan aktivis partai, selalu menyimpan buku-buku yang sudah dia baca di peti, bagi saya itu sangatlah wajar. Dia pasti tidak ingin buku-bukunya mejeng mentereng di rumah, yang setiap saat dicomot oleh rekan-rekannya yang datang berkunjung. Saya sering mengalami itu sejak masih mahasiswa. Kamar kosan saya penuh buku dan selalu saja ada buku yang hilang. Memang aneh sifat manusia. Sebetulnya mereka bisa membeli buku. Tapi, mereka memilih membeli jajanan, yang nanti akan jadi kotoran. Mereka tidak membeli buku, karena bagi mereka buku tidak bisa mereka nikmati kelezatannya. Tapi, sebaiknya Wanda sudah harus meniru Marissa Haque Fawzi. Buku-buku koleksi pribadinya disumbangkan ke Rumah Dunia. Bahkan satu set ensiklopedi Amerika diberikan pula. Kata Marissa, “Ensiklopedi ini menghantarkan saya menerima beasiswa S2 di Amerika. Saya ingin anak-anak Rumah Dunia juga seperti saya,” katanya, seolah berat melepaskan buku-bukunya. Tapi kini buku-bukunya sudah tersusun rapih di rak Rumah dunia. Bahkan lewat supirnya, pada kesempatan berikutnya, Marissa mengirimkan koleksi lama buku-bukunya lagi, ada novel berbahsa Inggris dan
Indonesia. ”Daripadi menumpuk di rumah. Anak-anak saya sudah mebaca semua.”
 

Saya yakin, buku bukanlah sekedar seonggok kertas tebal dengan huruf-huruf yang tercetak. Saya yakin di dalamnya ada gagasan-gagasan atau buah pikiran dari para penulisnya. Dari buku kita bisa belajar banyak tentang sosiologi seperti saat membaca trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad tohari, Gramedia Pustaka Utama), tentang kebudayaan dalam Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi AG) , ideologi di tetralogi Bumi Manusia milik Pramoedya Anantoer, kekerasan dan keteguhan hati di dalam buku-buku biografi orang-orang hebat seperti Muhamamd, Mahatma Gandhi, Che Guevara, Thomas Alfa Edison, dan masih banyak lagi.  

Setelah menikah dengan Tias Tatanka, di masa-masa awal, kami sering meluangkan waktu mengunjungi pameran buku dan toko-toko buku. Kamar kontrakan kami yang kecil di gang Mawar, Pejuangan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pun akhirnya sumpek dengan dus-dus berisi buku. Bahkan kami nekad membeli dua rak yang merampok ruangan depan kontrakan kami. Ruang kerja, tempat menggosok, televisi, dan “kamar” pembantu saling berebut. Hampir setiap akhir Minggu, kami plesiran ke mall dan selalu mampir di toko buku atau kaset dan VCD. Lagi-lagi di akhir pekan, saya angkuti dus-dus itu ke rumah orang tua.  

Pada akhirnya, kami behasil membangun sebuah rumah di Komplek Hegar Alam 40, kampung Ciloang.
Ada banyak ruangan kami perutukan untuk kamar dan ruang kerja. Buku-buku yang tadinya teronggok di ruang paviliun rumah orangtua, kami angkuti. Rak-rak kami jejerkan di ruangan di lantai atas. Tapi, tetap saja masih ada yang kami simpan di dus-dus. Saat itu juga saya resmi bergabung di RCTI sebagai script writer. Praktis, waktu membaca saya tergusur. Sepulang kerja, saya masih juga mengerjakan pekerjaan kantor. Menulis skenario seolah tidak pernah ada ujungnya; membutuhkan waktu panjang, karena harus berkali-kali melewati proses revisi. Kata Joanne Brough, advisor kami dari Amerika, “Sebuah skenario yang baik adalah yang melewati berkali-kali revisi!”
 

***  

*) Foto bersama Mas Wedha, ilustrator novel-novel saya. Misalnya novel “Balada Si Roy”. (foto dok pri)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: