KELUARGA PENGARANG

ALLAH SAYANG SAMA SAYA

Posted on: April 10, 2007

gg_10.jpgTabloid Dialog Jum’at, REpublika, 29 Juli 2005   ”Saya belum mengerti tentang Islam, tapi saya ingin menulis sesuatu yang baik.”  Kalimat tawadhu itu meluncur dari bibir Heri Hendrayana Harris, atau lebih dikenal dengan nama Gola Gong (41 tahun). Penyair, cerpenis, novelis, penulis skrip, dan wartawan itu telah melewati hari-hari panjang dalam pencarian Islam.  Meski lahir dari keluarga Muslim, penulis yang terkenal dengan karyanya Balada Si Roy (terjual lebih 100.000 kopi) itu pernah menjalani hidup jauh dari nilai-nilai keislaman. Ia mengaku pernah menolak shalat selama beberapa tahun. Pernah mau menjadi atheis. Pernah menolak perkawinan. Pernah mengatakan bahwa Alquran hanyalah sebuah karya sastra.   ”Saya pernah berkata kepada orang-orang, bahwa saya akan belajar sebaik mungkin dan akan membikin puisi seperti Muhammad berlindung di balik Alquran sebagai karya sastra,” ungkap Gola Gong saat berbincang dengan wartawan Republika, Irwan Kelana, di tepian Sungai Nil, Cairo, Mesir, awal Juli 2005.  

Namun, ibunya, Atisah, maupun ayahnya, Harris Sumintapura, tak pernah putus asa untuk mengingatkan anaknya agar kembali kepada Tuhan. Salah satu nasihat Ibu yang selalu diingatnya adalah, ”Kalau bagun tidur di pagi hari, ternyata kamu tidak bisa bangun lagi, kamu bisa bayangkan apa yang terjadi. Di
sana, kubur dan alam akhirat, ada penguasa baru, kamu tidak bisa apa-apa.”
 Ibunya yang orang Muhammadiyah itu lalu menyebutkan hadis Nabi yang mengatakan bila seorang manusia meninggal, putuslah semua amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh yang selalu mendoakannya.  

Suatu hari di tahun 1994, saat menjadi wartawan sebuah majalah wanita, ia sedang tidur sore, di kota
Bandung. Tiba-tiba ia terjaga, karena melihat bayangan laki-laki tinggi, besar dan menakutkan. ”Saya pernah melihat makhluk yang sama tahun 1992 saat berada di
India dan menjalani kehidupan sebagai hippies. Saya lari ketakutan hingga tiba di sebuah masjid. Saya baru merasa tenang setelah melihat masjid. Lalu saya berwudu dan shalat,” tuturnya.
 Peristiwa itu amat membekas dalam kehidupan Gola Gong. ”Saya sadar, betapa Allah sayang sama saya. Saya sudah diingatkan (waktu di
India) tapi masih membandel, namun Allah masih memberi kesempatan kedua. Padahal beberapa teman saya sudah meninggal dunia gara-gara hidup tidak benar,” ujar lelaki kelahiran Purwakarta, 41 tahun silam. Sejak saat itulah, bibit-bibit kesadaran sebetulnya sudah mulai tumbuh dalam diri Gola Gong.
 

”Setelah kejadian tersebut, saya ikuti pesan Ibu untuk mencari pekerjaan tetap, mencari jodoh, hidup teratur, dan belajar menyempurnakan shalat,” papar lelaki yang sudah menghasilkan lebih 35 novel.  Penulis yang ramah dan sangat senang berbagi ilmu menulis kepada siapa saja itu menambahkan, ”Setiap orang yang dihadapkan pada kematian akhirnya takut. Membayangkan diri kita di kubur di dalam tanah sendirian, kita pasti takut. Saya bayangkan bagaimana pedihnya keluarga kita kalau orang yang mengantar  

jenazah kita ke pekuburan munafik dan menjelek-jelekkan kita. Lalu bagaimana kita sendiri di alam kubur?” Menurutnya, supaya kita bisa tenang di alam kubur, kita harus mempercayai sesuatu. ”Saya sempat mempelajari beberapa agama. Akhirnya saya lihat hanya Islam yang bisa memberikan ketenangan,” tuturnya.  Harus diakui, momentum keislaman Gola Gong adalah ketika ia memutuskan untuk masuk ke dunia fiksi Islam. Tahun 2000, ia ditelepon oleh Muthmainnah, yang mengaku dari Forum Lingkar Pena (FLP). ”Siapa Muthmainnah? Apa itu FLP? Apakah ada fiksi Islami?” tanya Gola Gong ketika itu. Ia tidak hanya bertemu dengan Muthmainnah, tapi juga Helvy Tiana Rosa (ketua umum FLP dan pemred majalah An-Nida), dan Helvino (Penerbit Syamil).  

Itulah awal perkenalannya dengan fiksi Islami. Setelah itu, terbitlah karya-karya Gola Gong yang bernafaskan Islam seperti Albahri, Nyanyian Perjalanan dan Pada-Mu Aku Bersimpuh. Bahkan peluncuran buku Nyanyian Perjalanan dilaksanakan di Masjid Salman ITB,
Bandung.
 Banyak penggemarnya yang menangis dan berduka cita ketika Gola Gong memutuskan untuk masuk ke dunia fiksi Islam. ”Mereka menyesalkan saya mengapa berpindah haluan ke fiksi Islam. Setelah saya jelaskan alasan-alasan saya, mereka akhirnya bisa menerima, meskipun tetap menyesalkan keputusan saya.”  

Gola Gong mengatakan fiksi Islam yang ditekuninya sejak tahun 2000, bukanlah tren, melainkan pilihan. ”Ini adalah sikap hidup. Yang membuat saya berubah adalah fiksi Islam.” Bagi Gola Gong, art atau seni itu hanya ada dua fase. Pertama, art for art, seni untuk seni. Yakni, ketika ia hidup di masa muda, belum punya pegangan kuat dan pemahaman terhadap Tuhan. Kedua, fiksi Islam. ”Di sebuah negeri yang mayoritas Muslim, fiksi Islam harus mendominasi. Fiksi Islam adalah milik kita, harus menjadi fase terakhir, harus menjadi pilihan,” tegasnya.  Kini, setelah menekuni fiksi Islami, Gola Gong merasa bahwa menulis itu ada tujuan. ”Saya jadi lebih bersemangat untuk berkarya dan hidup. Saya lebih tenang hidup, karena hidup lebih berguna. Menjadi berguna jauh lebih penting daripada jadi orang penting,” paparnya.  

Setelah masuk ke dunia fiksi Islam, hidupnya sangat berkah. ”Suasana dalam rumah tangga saya terasa lebih bahagia. Tubuh bersih, jauh dari rokok, jauh dari intrik-intrik telepon tentang pesta. Teman-teman yang brutal dengan sendirinya menyingkir. Kalau mau pergi kerja, selalu didoakan oleh istri. Rumah tangga lebih harmonis, lebih indah,” ungkapnya.  Hidupnya semakin sempurna dengan adanya pendamping setia, bernama Asih Purwaningtyas atau lebih dikenal dengan nama Tyas Tatanka. Wanita Yogya itu telah memberinya empat orang anak. Di mata Gola Gong, peran istri sangat penting. ”Yang jaga martabat rumah tangga adalah istri. Suami hanya mendampingi.”  

Gola Gong mengaku selalu berpesan kepada istrinya untuk menjaga tiga hal. Yakni, jangan menggunjingkan orang lain, selalu menjadi orang pertama yang menolong orang yang kesusahan, dan jaga aib keluarga.  Bersama istrinya tercinta, Gola Gong membangun komunitas Rumah Dunia di Serang, Banten, tempat anak-anak dan remaja bebas belajar berkreativitas.

***

Foto: Bersama Ustad Faudhil Adzim dan Pipit Senja di bandara Changi Singa[ore, ketika hendak ke Mesir

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: