KELUARGA PENGARANG

TUJUAN MENULIS, ISI TULISAN, BUKU HARIAN, DAN RISET [1]

Posted on: April 9, 2007

ke-langit.jpgOleh Gola Gong

Sudah puluhan kali saya jadi montir di bengkel-bengkel cerpen. Rata-rata para (calon) pengarang pemula kesulitan menemukan ide dan bingung saat menuliskannya. Begitu juga di kelas menulis Rumah Dunia, yang saya asuh di akhir pekan. Mereka berpikir, apakah kalimat pembukanya bagus atau cerpennya berjenis sastra atau populer.

ISI TULISAN

     Ah, belum juga menulis, otak sudah dijejali hal remeh-temeh seperti itu. Padahal yang terpenting tujuan menulis itu untuk apa. Isi tulisan kita itu apa. Kalau di sastra islami yang diusung Forum Lingkar Pena, tujuannya bukan sekedar mendapatkan puji-pujian duniawi, tapi dakwah bil qalam. Kalau di kelas menulis Rumah Dunia: memerangi kebatilan dengan pena. Walaupun kata Asma Nadia, ”Jika mendapatkan penghargaan, itu adalah prestasi.” Tapi, itu tetap bukan tujuan utama kita. Saya sendiri menginginkan, setiap saya hendak menulis, kelak pembaca mendapatkan sesuatu yang berguna.  Saya tidak akan egois bereksperimen untuk pencapaian nilai estetika belaka. Tapi, juga dampak positif dan negatif kepada pembaca. Jelas saya menghindari tulisan yang akan menimbulkan daya rangsang seksual luar biasa pada pembaca.

     Eka Budianta, cerpenis dan penyair senior kita, mengingatkan di buku terbarunya  ”Senyum untuk Calon Penulis” (Pustaka Alvabet, September 2005), bahwa setiap kita hendak menulis haruslah selalu ingat: mengapa kita menulis? Eka menegaskan niat hati dalam menentukan tujuan menulis adalah hal paling penting dalam menulis. Bukan kita dipusingkan oleh teknik, keindahan bahasa, plot, tetapi intinya. Isi cerpen, isi novel, isi puisi, itulah yang akan abadi dikenang pembaca. 

HATI-PIKIRAN

     Untuk para (calon) penulis pemula, tidak usah bingung dengan segala macam teori atau kaidah sastra. Ada dua tahapan yang harus kita lalui. Pertama, menuliskannya terlebih dahulu dengan hati. Setelah itu baru tahapan kedua, membacanya lagi dengan menggunakan pikiran. Segala macam teori menulis yang kita baca di buku-buku panduan bisa kita terapkan pada tahapan kedua ini.

     Ya, menulis dengan hati adalah membiasakan diri kita menulis buku harian. Tumpahkan semua yang ada di hati kita. Jangan batasi gelombang kata-kata, biarkan saja itu (kata-kata) tumpah. Biarkan itu memenuhi baris demi baris di lembaran kertasmu. Jangan ada rasa takut. Kamu hanya perlu mengaturnya saja. Misalnya, apa yang akan kamu tulis. Hari ini kamu ingin menulis tentang sahabatmu, maka tuliskanlah. 

     Saya pernah mempunyai 2 karung buku harian, yang saya tulis sejak SMP hingga di universitas. Ini saya anggap bagian dari proses kreatif. Tapi, saya memperlakukan buku harian bukan sekedar ajang curhat, tapi media berekspresi. Tepatnya media melatih kepekaan panca indra. Sebagai (calon) pengarang pemula, siapa pun dia, harus terus berlatih menulis. Saat mendengar wilayah Kuta, Bali, dibom lagi, saya langsung menulis beberapa baris puisi: bunga mawarmu terkoyak/ini susu buat anak cucu/kematian di pasang di televisi/namamu tertera di
sana: tertawa/stop! di Bali kami kembali/ini iklan nikmat sekali. Ini untuk melatih kepekaan panca indra kita.

 

RISET

      Supaya tidak menghabiskan waktu, enerji, dan pikiran, tentu harus tahu apa yang hendak dituliskan. Ini terkait dengan ide yang sulit. Tapi, ada cara  mudah menemukan ide, dengan riset. Bisa terjun ke lapangan (field research) melakukan observasi atau di rumah saja (desk research), membaca buku dan menjelajahi internet. Ini cara ampuh menemukan ide.

     Sekedar contoh, suatu hari, saya terdampar di stasiun. Seorang anak penyemir sepatu menghampiri. Saya ingin menemukan ide, maka saya mempersilahkan anak itu menyemir sepatu saya. Kemudian metode jurnalistik dengan unsur berita (5W plus 1H; when, where, why, what, who, dan how) saya terapkan. Saya mengajak anak itu mengobrol ngalor-ngidul. Ini bagian dari riset lapangan.
Ada observasi dan wawancara.

     Banyak hal saya peroleh di stasiun itu. Ketika ada waktu luang, saya menuliskannya di buku harian. Segalanya saya tumpahkan. Tentang si penyemir (who/siapa/karakter). Tentang stasiun dan keretanya (where/setting/latar tempat). Tentang orang-orang yang baru datang dan hendak pergi. Tentang para pedagang. Tentang apa saja, yang begitu melimpah ruah di stasiun. Itu melatih saya membiasakan diri menuliskan tentang suasana. Juga melatih diri kita untuk terus berempati dengan masayarakat di sekeliling. Bukankah pengrang itu juga tidak akan pernah terlepas dari peran sosialnya?

     Setelah usai menuliskannya, di hari lain, saya membaca lagi buku harian. Nah, saat itulah saya menggunakan pikiran. Pakailah aturan-aturan seperti: 1) sinopsis, b) plot, c) karakter, d) konflik, dan e) ending. Coba pikirkan apa yang kamu tulis itu. Adakah di dalamnya terdapat sinopsis, kerangka ceritanya? Terasakah plot, alur ceritanya? Adakah karakter, para tokohnya yagn bisa kita kembangkan? Konfliknya, bagimana? Serta endingnya? Jika ada peluang, gunakan sayap-sayap imajinasi kita!

***


Bengkel Cerpen Annida – Edisi 15 November 2005:

 

BAGAIMANA MEMBUAT SINOPSIS YANG BAIK

Oleh Gola Gong

 

Sekedar mengingatkan saja, di Annida edisi November kita sudah paham “mengapa kita menulis” dan ”untuk apa kita menulis”. Kita sepakat, bahwa menulis adalah bagian dari da’wah bi al-qalam untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran Kemudian secara teknis, agar kita mudah mendapatkan ide, yaitu terjun ke lapangan (field research) melakukan observasi atau di rumah saja (desk research), membaca buku dan menjelajahi internet. Metode jurnalistik (5W + 1H) pun bisa diterapkan dengan memperhatikan peristiwa atau fenomena sosial yang terjadi di sekitar kita. 

Sumbe ide begitu melimpahruah. Tinggal bagaimana kita memilah-milah dan memungutnya. Ada pedagang sayur, tukang becak, pemulung, pengemis, bahkan tetangga kita. Jangan takut salah, tuliskan semuanya di buku harianmu sebagai bagian dari proses kreatifmu. Angap saja menulis di buku harian, adalah langkah awal dari karir kepengaranganmu.  

Sekedar  berbagi pengalaman. Setiap pagi saya berangkat kerja dari tempat kos di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, melewati gang-gang sempit. Kesempatan ini saya pergunakan juga utuk riset lapangan. Saya memperhatikan sekeliling. Tembok-tembok mengungkung dengan pintu kecil sebagai jalan tembus, dibuka jam 06.00 dan ditutup jam 22.00 WIB. Jika melewati jam itu, semua orang harus memutar jika ingin pulang. Di parkiran gedung, saya biasa membeli sarapan bungkus dari lelaki setengah baya. Sambil membeli sarapan, saya melakukan wawancara. Saya perhatikan sepedanya yang sudah tua. Di jok belakangnya ada dua kotak besar seperti para penjual koran. Di dalam dua kotak itulah puluhan nasi bungkus disimpan.  

Lantas ketika saya hendak menuliskannya, janganlah terlalu banyak berpikir ini-itu; khawatir kosa kata kita tidak bagus. Tuliskan saja. Jika ada batu menghadang, hantam saja. Mengawali menulis itu perlu keberanian. Bahkan keberanian melawan perasaan takut salah. Bacalah apa yang saya tulis:  

Pak Adil menuntun sepeda gunung tuanya di gang perkampungan. Tangan kanannya memegangi kotak besar yang diikatkan di boncengan dan tangan kirinya mencengkram stang sepeda. Di kotak besar itulah selama 7 tahun hidup diri, anak, serta istrinya bergantung. Di sisi kanannya tembok tinggi pembatas sebuah perusahaan besar, yang dibatasi oleh selokan selebar 2 meter. Jika hujan lebat, kampungnya akan kebanjiran setinggi lutut. Kampungnya persis terkurung di tengah-tengah perkantoran dan pertokoan. Untuk mencapai jalan raya, pihak menejemen pertokoan membuatkan pintu masuk, yang dibuka pada jam 6 pagi dan ditutup jam 10 malam. Jika pintu ini ditutup, mereka harus memutar sejauh 2 kilometer.Kemudian “catatan” itu saya jadikan kalimat pembuka cerpen saya; Pak Adil Mencari Keadilan (dimuat di Republika Minggu, April 2005). Kalau kita bedah, akan terdapat banyak unsur jurnalistik di dalamnya; Pak Adil (who), gang perkampungan (where), dll. Mudah, ya. 

Saat itulah saya menggunakan pikiran. Pakailah aturan-aturan seperti: 1) sinopsis, b) plot, c) karakter, d) konflik, dan e) ending. Coba pikirkan apa yang kamu tulis itu. Adakah di dalamnya terdapat sinopsis, kerangka ceritanya? Terasakah plot, alur ceritanya? Adakah karakter, para tokohnya yang bisa kita kembangkan? Konfliknya, bagimana? Serta endingnya? Jika ada peluang, gunakan sayap-sayap imajinasi kita!

 

 

1 Response to "TUJUAN MENULIS, ISI TULISAN, BUKU HARIAN, DAN RISET [1]"

kalo ibarat kepala, kata-kata mas golagong itu “botak licin” dikasih minyak goreng pula. bener-bener buka pikiran yang baca. moga aja nasihat-nasihat dari mas golagong jadi “minyak” di “rambut botak” saya.
RAMBUT SAYA RAMBUTNYA TEBAL

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: