KELUARGA PENGARANG

TOTALITAS SEORANG PENULIS DALAM MEMERANGI KEBATILAN

Posted on: April 9, 2007

mesintik.jpgPengantar Buku “Harta Karun” Karya Abu Al- Ghifari

Oleh Gola Gong  Ketika pada 1987 saya memutuskan hidup dari menulis, orangtua saya mengingatkan, “Bagaimana kalau kamu kehabisan ide?” Saya sempat berpikir keras untuk menjawabnya. Lalu pertanyaan lain muncul lagi, “Kalau Allah mentakdirkan kamu kecelakaan, sehingga otakmu tidak bisa dipergunakan, bagaimana?”

Begitutah  orangtua saya, selalu menyuruh anak-anaknya berpikir luas, agar kalau terjadi sesuatu yang buruk terhadap diri kita, antisipasinya sudah kita siapkan. Itu bukan soal mendahului kehendak Allah SWT. Kami – anak-anaknya – diharuskan berpikir beberapa langkah ke depan. Orangtua saya adalah guru. Awalnya mereka menyodorkan, bahwa jadi guru itu enak, karena di hari tua akan mendapatkan pensiun. Tapi, jadi penulis? Saya bisa memahami kekhawatiran orang tua, bahwa di
Indonesia pada masa itu minat beli dan baca masyarakat pada buku-buku fiksi sangatlah kurang. Jawabannya, memiliki pekerjaan tetap adalah yang terbaik. Urusan keluarga diselamatkan dulu, sehingga saya bisa berkonsentrasi menulis novel tanpa harus dibebani urusan dapur. Saya pikir, ini adalah sebuah kompromi di era industri. Ya, saya memilih bekerja di dunia industri, sehingga idealisme saya bisa saya subsidi. Memiliki pekerjaan tetap bagi saya sama saja dengan memelihara mimpi memiliki penerbitan sendiri.
 Untuk kebahagiaan orang tua dan mendapat ridho dari mereka, saya memilih bekerja menjadi wartawan. Pekerjaan itu masih seputar dunia tulis-menulis. Saya betul-betul enjoy menjadi seorang wartawan, karena selain menulis breita, feature, juga tetap bisa menulis cerpen atau novel. Bahkan saya semakin banyak mempunya ide menulis fiksi dari berita-berita atau feature yang saya tulis. Dari penghasilan bulanan yang tetap itu, saya masih bisa mensubsidi mimpi saya yang tertuda, membuat penerbitan sendiri (menerbitkan jurnal, antoloji puisi, serta koran lokal), walaupun tidak berumur panjang karena kendala SDM dan modal. Kini saya bekrja di RCTI sebagai creative team. Pekerjaan itu tetap tidak jauh dari dunia tulis-menulis yang sejak awal saya geluti. Setiap hari saya membuat usulan program dan mendiskusikannya. Bahkan di sela-sela waktu luang, saya masih bisa mengembangkan ide-ide itu menjadi novel. 

*** Tanpa diduga, di awal September 2005 saya mendapat paket dari Mujahid Press. Saya sudah lama mengenal penerbitan dari
Bandung selatan ini dengan buku “Kudung Gaul, Berjilbab tapi Telanjang” karya Abu al-Ghifari (nama pengarang ini sebetulnya pernah hendak saya pakai, karena anak ketiga saya bernama “Jordi Al Ghifary”). Lebih terkejut lagi saya, ketika di dalamnya selain ada buku-buku terbitan terbaru Mujahid, juga manuskrip calon buku  berjudul “Peta Harta Karun: Sukses Mengelola Penerbitan dengan Self Publishing” karya Toha Nasrudin S.Ag alias Abu Al-Ghifari. Saya buka halaman demi halamannya dengan perasaan berdebar-debar. Mimpi saya yang tertunda; memiliki penerbitan sendiri mendesak-desak lagi, seolah hendak menjebol dinding dadaku!  Bakal buku ini secara rinci menjelaskan perjuangan Toha mendirikan Mujahid Press dari awal (Toha menyebutnya “dari lumpur ke buku”). Saya betul-betul tercengang! Hanya dalam waktu
lima tahun, omzet Mujahid mencapai 5 milyar rupiah! Subhanallah!
 Abu Al-Ghifari sudah mewujudkan keinginannya memiliki penerbitan sendiri (self publishing), sedangkan saya bertahun-tahun masih saja bermimpi memilikinya. Dan ketika saya membaca Bab III buku ini,  bahwa jika mengikuti petunjuk di buku yang sedang Anda baca,
lima atau sepuluh tahun ke depan penerbit yang saya impikan, insya Allah akan terwujud. Subhanallah, saya sangat antusias jadinya! Pesannya sangat sederhana, jika ingin memiliki penerbitan sendiri, apa pun latar pendidikannya, syaratnya ada dua; motivasi yang lebih (antusiasme) dan konsentrasi! Saya jadi ingat Sofia Ahmad, distributor sukses Tupperware
Indonesia, yang percaya bahwa direct selling sesungguhnya bisa memberdayakan kaum perempuan
Indonesia.
Sofia sangat yakin, kalau kita fokus pada sesuatu yang kita geluti pasti bisa! Sedangkan Gede Prana mengingatkan, bahwa kunci keberhasilan seseorang itu terletak pada keyakinannya. “Walau pun sebetulnya potensinya rendah, tapi jika dibarengi dengan raksasa keyakinan, maka orang itu akan behasil. Tapi sebaliknya, potensi tinggi minus keyakinan, gagallah orang itu!”
 

Rupanya itulah yang melekat pada seorang Toha; motivasi dan konsentrasi yang membuatnya merasa yakin, bahwa jika menerbitkan buku sendiri segala kendala klasik yang dialami penulis; misalnya jadi atau tidaknya buku diterbitkan, royalti yang macet, oplah yang tidak jelas, akan teratasi.  Kata Toha, “Menerbitkan buku dengan penerbitan sendiri adalah jalan pintas terbaik.” Sejak berdirinya Mujahid Press pada 2001 (didaftarkan ke notaris pada September 2003), Toha tidak pernah berpaling ke lain hati alias tetap pada koridor antusiasme dan konsentrasi! Hasilnya kini terlihat, omset Rp 5 Milyar! Siapa yang tidak tergiur? Bagi saya self publishing atau trend sebagai indi label sangatlah menantang. Kawan-kawan kita di Yogya sedang giat mengoptimalkan ini. Berbekal kantor ukuran kamar kost dan sebuah komputer, mereka meggempur penerbit-penerbit raksasa di
Jakarta dan
Bandung. “Supernova” karangan
Dee dilahirkan dari spirit rahim self publishing. “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan awalnya juga nge-brojol dari ibu bernama self publishing sebelum dicaplok ibu raksasa.
 

Toha sewaktu muda tak ubahnya saya sewaktu muda juga. Saat saya SMA, dengan mesin stensilan dan fotokopian membuat buku puisi. Spirit ingin menjadi boss kecil begitu kuat pada diri Toha, sehingga pada 2001 menerbitkan buku karangannya sendiri; Muslimah yang Kehilangan Harga Diri. Dengan modal Rp.1.500.000,- Toha mengerjakan semua prosedur percetakan sendirian; editing, setting, lay out secara manual dan mencari kertas murah. Kemudian dari kampungnya di Pameumpeuk ke
Bandung untuk di-plate kertas. Toha pun mencari percetakan yang mau mencetak 1000 eksemplar saja dengan harga murah. Usai itu, Toha begadang menyatukan lembar perlembar halaman. Semuanya dikerjakan sendiri.  Heroik! Mengingatkan saya pada kisah-kisah sukses seperti Ciputra, Bob Sadino, dan Lim Sioe Liong. Bermula dari yang kecil, kemudian jadi besar. Semuanya dibarengi dengan sikap sabar; berdoa dan berusaha. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang, jika orang itu tidak berusaha.
 *** 

Selain antusiasme dan konsentrasi, yaitu totalitas. Saya merasakan Toha memiliki totalitas itu sejak di usia belia, saat sekolah di tsanawiyah. Dia rela mengabiskan masa kecil dan remajanya di aliyah (Pesantren Persis  Bandung) dengan berjualan kue dan tidur di teras mesjid, sementara teman-temannya bergembira. Betapa romantik dan heroik perjalanan hidupnya. Bukankah orang-orang besar dibentuk oleh penderitaan? Di lingkungan para penulis Forum Lingkar Pena, saya mendengar Arlen arya Guci juga orang yang menderita. Bahkan sastrawan Johny Ariadinata pernah mengayuh becak dan jadi marbot mushola! Ya, penderitaan telah menempa seorang Toha menjadi manusia berbeda. Dan perpustakaan umum Bandung di Cikaundung berhasil menariknya menjadi manusia gila membaca. Saat di IAIN SGD
Bandung, Toha menceburkan diri di penerbitan kampus. Sungguh, inilah cikal-bakal darinya untuk menggapai tangga kesuksesan. Proses kreatifnya sudah dia lakkan sejak masa kecil; saat dengan kaki telanjang menjajakan kue kampung; bala-bala, perkedel, dan pisang goreng.
 

Saya mulai memahami, bahwa Mujahid Press bukanlah keinginan Toha dalam wakut semalam, lalu… sim salabim.. jadilah ia! Tapi, Mujahid Press adalah pergulatan dan totalitas seorang Toha sepanjang hidupnya. Saya ingin mengikuti langkahnya. Dan kita semua harus berada di sekelilingnya, mendoakannya selalu, karena Mujahid Press bagi Toha bukan semata-mata menumpuk harta, tapi berdakwah dan berjihad lewat tulisan di dalamnya. Perang melawan kebatilan sudah ditunjukkan Toha, ketika dia menolak harus memberi uang pelicin sebesar Rp 6 jt untuk jadi guru SMP dan Rp 8 jt jadi guru SMA. Mari!  *** *) Penulis adalah Penasehat Rumah Dunia, pusat belajar bagi anak-anak, pelajar, dan mahasiswa di Komplek Hegar Alam,  Kampung Ciloang, Serang-Banten.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: