KELUARGA PENGARANG

SERANG & PERPUSTAKAAN

Posted on: April 9, 2007

Oleh Halim HD            

Kalau kita ingin meminjam buku dan membaca dengan tenang, di mana kita bisa mendapatkannya? Umumnya banyak orang akan menyatakan di perpustakaan. Sebuah jawaban yang bukan hanya jitu, tapi juga cerdas dan sangat beradab. Namun, dimana pula perpustakaan yang bisa kita datangi; dan jika ada perpustakaan, adakah perpustakaan itu memiliki koleksi buku yang lumayan baik, up to date, dan adakah suasana yang diciptakan oleh pengelolanya benar-benar tenang, tenteram; ada keheningan yang kreatif dan mampu serta bisa mendatangkan inspirasi, ilham bagi siapa saja yang tekun membaca, yang membangkitkan gairah untuk menguak dan mengeksplorasi berbagai kemungkinan pemikiran untuk kebutuhan masa kini dan yang kan datang?

Saya teringat esai yang saya baca pada tahun awal 1970-an yang ditulis oleh W. W. Rostow, gurubesar Massachussets Institute Technology (MIT), pemikir sejarah politik-ekonomi yang bukunya, “Tahap-Tahap Pertumbuhan”, pada tahun 1950-60-an dianggap sebagai salah satu textbook yang perlu dibaca bagi mereka yang studi politik dan ekonomi. Dalam esainya yang dimuat dalam majalah “Dialogue”, Rostow yang juga pernah menjadi penasehat Bappenas pada tahun 1968-70, menulis tentang betapa seorang dosen (atau guru) yang menguasai ilmu secara mendalam yang disampaikannya kehadapan para mahasiswanya akan bisa menghantarkan sang mahasiswa ke dalam suatu pencarian. Karena itu pula, Rostow tertarik kepada sejarah politik-ekonomi, karena terpukau ketika dia pada masa-masa awalnya kuliah di Harvard
University. Dosen yang baik memang bukan hanya selalu terbuka kepada gagasan kritis yang didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam, yang bisa membangkitkan rasa ingin tahu, kuriositas, sehingga sang mahasiswa atau anak didik mengejar ke dalam suatu dunia yang terbuka yang penuh dengan tantangan. Dan bukan sekedar mencetak beo atau bebek-bebek yang hanya mengutip apa yang disampaikan oleh sang dosen (atau guru).             Dosen (atau guru) yang baik, seperti juga orangtua yang bijaksana, tak pernah menutup kemungkinan untuk diskusi dan dialog. Pertemuan antar pribadi di dalam dan luar kelas atau dimana saja, senantiasa mampu mencipta suatu suasana yang menantang yang membangkitkan gairah pencarian dan mengajak sang mahasiswa (atau anak didik) kearah riset, pelacakan kepada akar persoalan yang mendalam. Dalam kaitan itulah makanya seorang dosen atau pendidik selalu mengajak mahasiswa untuk memasuki suatu ruangan yang tenang dan menimba kembali, belajar bersama di dalam sebuah ruang yang dinamakan perpustakaan. Dan Rostow menyatakan, dalam sebuah ruang perpustakaan yang tenang, penuh dengan keheningan, siapapun akan mendapatkan ilham. Ilham atau inspirasi yang bukan lantaran dinanti-nanti tapi dari hasil pelacakan kepada sumber masalah yang telah dilacak dan dirumuskan oleh penulis dan pemikir masa lampau dan kembali dipertanyakan berdasarkan kondisi riil yang ada. Disitu pula maka terjadi suatu usaha dan dialog yang bersifat meditatif untuk menguji kembali berbagai metode dan konsep serta filasafat dan sistem ilmu pengetahuan yang telah ditulis. Sesungguhnyalah sebuah perpustakaan adalah sebuah ruangan di mana diri kita melakukan silaturahmi historis, suatu pertemuan dari hati ke hati dan dari permenungan ke permenungan antara diri kita dengan para pemikir dan penulis dari suatu rentang waktu yang lampau kedalam rentangan waktu masa kini. Betapa nikmat dan penuh berkah didalam suatu ruangan yang diliputi oleh keheningan, dan disitu kita melakukan dialog dan silaturahmi pemikiran, yang membawa kita ke dalam bentangan ruang dan waktu untuk masa yang akan datang.            Gambaran ideal seperti itu bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk diwujudkan disebuah kota seperti Serang, yang konon saya dengar pada waktu kampanye pilkada salah seorang calon bupatinya, Taufik Nuriman, mencanangkan kontrak politik untuk membuat perpustakaan yang memadai dan dapat dijadikan sebagai ruang bagi warga untuk membaca dan menimba ilmu pengetahuan. Lalu kita membayangkan betapa indahnya (ingat: bukan mewah!) disain tata ruang perpustakaan yang akan dibangun, dan koleksi bukunya bukan hanya memadai tapi juga selalu up to date, agar dari siswa sekolah dasar sampai mahasiswa dan dosen serta guru dan seluruh warga bisa menikmati bahan bacaan yang bisa mencerdaskan. Dan menikmati perpustakaan itu tentunya pula didukung oleh manajemen, pengelolaan yang ramah serta sigap. Sebab, kita juga tahu, salah satu kelemahan pengelolaan perpustakaan kita adalah oleh orang-orang yang bukan pada bidangnya, bukan yang mencintai dunia buku dan ilmu, sehingga kita selalu berhadapan dengan cara-cara birokratis. Pengelola yang baik serta cerdas dan bijaksana adalah mereka yang selalu bukan hanya melayani tapi juga mengajak siapa saja untuk menikmati keheningan yang inspiratif dan kreatif itu. Dengan perpustakaan dan tumbuh serta berkembangnya berbagai sarana lembaga pendidikan lainnya, maka kita berharap akan makin berkembang pula suatu arus pemikiran yang cerdas dan bijak, yang selama ini Serang dan Banten didominasi oleh suatu citra kultur kekerasan, yang sesungguhnya fatalistik namun selalu dibangga-banggakan. 

Kini sang bupati telah dipilih, didaulat oleh warga untuk mengelola
kota Serang. Dan kita sebagai warga menunggu wujud janji dari kontrak politik yang telah dilontarkannya itu. Semoga kata-kata yang telah disampaikannya itu benar-benar kata-kata dan kalimat yang muncul dari hati nurani Taufik Nuriman (cahaya keimanan berkat pertolonganNya) yang bisa menghantarkan seluruh lapisan warga ke dalam cara berpikir yang visioner yang digali dari sebuah perpustakaan yang telah lama menjadi idaman siapa saja di Serang.***

*) Halim HD. – Networker Kebudayaan, kelahiran Serang.                           

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: