KELUARGA PENGARANG

SEORANG AYAH BERPETUAH

Posted on: April 9, 2007

Oleh : Tias Tatanka*)

Judul Buku        : Balada Jiwa Gadis Remaja

Pengarang        : Dibyo Soemantri PriyambodoPenerbit            : Cakrawala, Yogyakarta

Tahun cetakan  : Januari 2006, cetakan pertamaJumlah Halaman : 152  Tahukah anda, jika rasa suka pada Ariel Peter Pan, atau sosok artis terkenal lainnya digolongkan sebagai Crush Period?

Atau saat seorang pria begitu berhasrat pada  Britney Spears meski hanya melihat foto-fotonya di majalah, adalah termasuk Hero Worshiping? Atau depresi itu bermacam jenisnya, seperti Depresi Neurotic atau Gangguan Distimik, ada juga Gangguan Kepribadian Siklotimik. Sementara gejalanya antara lain: insomnia, atau malah kebalikannya, hipersomnia, lesu, rendah diri, konsentrasi berkurang, pesimis dan penuh penyesalan.

IItulah yang tertangkap ketika membaca Balada Jiwa Gadis Remaja (BJGR) karangan Dibyo Soemantri Priyambodo (DSP), yang diberi pengantar oleh Shahnaz Haque dan Gilang Ramadhan. Sebagai seorang yang berlatar belakang ilmu psikologi, DSP tampak lincah menuliskan buku berupa kumpulan esai psikologi remaja yang menurutnya, tidak hanya ditujukan untuk gadis remaja semata.  Dan memang buku ini bisa dinikmati oleh siapapun, pria-wanita, tua-muda, dan kalangan manapun karena sifatnya universal. Yang sedang gembira atau sedih, sedang punya uang atau bokek, barangkali akan lebih terinspirasi dengan tulisan-tulisan DSP yang penuh semangat. 

Sayangnya dalam penyusunan bagian subyek penulisan terkesan melompat-lompat, ini entah disengaja atau tidak, semisal untuk menarik perhatian pembaca. Seperti bagian 11 tentang Intelegensia, Bakat dan Minat (hal 76) yang dipisahkan dari esai Perlukah Kalian Ikut Psikotest (bagian 16, hal 112), dua tulisan itu berkaitan meski tidak dapat disambung begitu saja. Juga bagian 1 dan 12 yang sama-sama membincangkan tentang pesona dengan sudut pandang berbeda. Jika diurutkan sesuai tema  dan isinya, saya mengategorikan esai-esai tersebut dalam tiga bagian: mengupas kepribadian remaja, menyodorkan permasalahan dan solusi, terakhir memberi semangat. Perhatian saat membaca buku ini makin tersedot ketika DSP mengutip Schiller (1759-1805) seorang sastrawan Jerman, yang diterjemahkan bebas sebagai: “Hormatilah wanita! Mereka yang menyulam dan menata mawar surgawi dalam hidup kita di dunia!” (hal 84). Juga petikan tulisan Kahlil Gibran tentang kasih sayang. Syair filosofis yang sangat indah untuk direnungkan. Pembaca juga diajak untuk  tersenyum ketika menyinggung masalah pacaran dan sindrom 4L: Loe lagi, loe lagi (hal 110). Atau berserius dengan Millenium Development Goals (MDG’S) yang diartikan sebagai tujuan pembangunan millenium. Delapan tujuan utamanya dipaparkan juga dalam buku ini, berikut saran-saran untuk melaksanakannya. Perlu diketahui, MDG’S ini telah disetujui 189 negara, termasuk Indonesia (hal 145). Selain MDG’S, informasi penting di luar kasus psikologi adalah tentang narkotika dan obat-obat terlarang (hal 136-140). Dari keseluruhan isi buku BJGR, saya sangat respek pada tulisan DSP tentang penghargaan terhadap benda dari nilainya (hal 124). DSP menyenggol cara pandang orang
Indonesia umumnya yang brand minded, dan made in negara asing. Sementara buatan dalam negeri hanya dipandang sebelah mata. Tetapi jika dibandingkan dengan pola pikir di negara yang tingkat peradabannya lebih maju, orang diajarkan untuk menghargai suatu benda atau produk berdasarkan nilai hakiki yang ada dalam benda itu sendiri (hal 125). Itu lantaran rasa cinta yang mendalam masyarakat pada sebuah “proses berkarya” (hal126). Dalam bagian ini DSP mengajak untuk belajar mencintai dan menghargai suatu benda dari hasil karya atau jerih payah kita sendiri, dan seharusnya kita menciptakan sebuah budaya baru, yaitu budaya produktif, bukan sebaliknya,budaya konsumtif (hal 128).
 

Menginjak bagian penutup BJGR, yaitu biodata, saya lebih respek lagi terhadap DSP, karena profesi beliau sebagai seorang General Manager PT Krakatau Steel, dengan tanggung jawab berat dan urusan bejibun, masih sempat menulis di kolom surat kabar dan telah menghasilkan empat buah buku, dua di antaranya berkaitan dengan lingkungan profesinya. Kendati berhubungan dengan korporasi yang tentu serba ewuh-pakewuh, ini sudah langkah maju yang dilakukan DSP dalam memberikan sumbangsihnya pada masyarakat dengan menuangkan gagasannya lewat tulisan. Sebuah ranah kegiatan yang jarang dipilih birokrat, apalagi di Banten, di mana budaya literasi amat lambat berjalan, apalagi untuk berkembang. Barangkali para birokrat itu perlu meluangkan waktu membaca BJGR, agar spirit dalam buku ini meletikkan budaya ”kecemburuan” literasi, sehingga para birokrat berlomba-lomba memenuhi isi otaknya dengan banyak membaca buku, menuliskan gagasannya di media cetak dan beramai-ramai mendiskusikan topik terkini. Atau perlu sebuah peraturan pemerintah yang mewajibkan birokrat untuk menulis minimal sebuah buku sepanjang karirnya?  Kiranya saya tak perlu berpetuah, karena membaca buku BJGR ini seperti mendengar petuah seorang ayah kepada anaknya, dalam menapaki kehidupan, merencanakan cita-cita dan menghadapi cinta.*** *)Penulis lepas, penikmat buku, ibu 4 anak, Penasehat Rumah Dunia.

1 Response to "SEORANG AYAH BERPETUAH"

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: