KELUARGA PENGARANG

RUMAH DUNIA, MIMPI KAMI DAN TANAH ITU

Posted on: April 9, 2007

tanah.jpgOleh Tias Tatanka Aku sudah bilang ke dia, suamiku yang setengah seniman itu, betapa aku telah nyaman punya sebuah rumah berlantai dua. Halaman depan yang sempit, halaman belakang yang cukup plus ebuah mushola tempat kami mensyukuri nikmat-Nya. Tak begitu luas. Tapi nyaman. Aku jelaskan padanya, rasanya tak perlu lagi mencari tempat jemuran baju, karena di atas, di teras terbuka, dua pembantuku bisa leluasa menjemurnya. Malah seperti panggung, atau sebuah balkon. Lalu sudah ada tangga ulir untuk lalu-lintas jemuran, tak perlu lagi tetes air cucian membasahi tangga kayu di dalam rumah. Segalanya beres. Semuanya enak. Nyaman. Anak-anak masih bisa bermain bebas. Lari-lari dalam rumah, membuat rumah berantakan dengan mainan di mana-mana. Aku masih merasa nyaman. Mungkin aku memang tidak punya mimpi, ambisi dan keinginan muluk-muluk. Cuma satu mungkin: aku ingin bisa bermain organ. Dan itu sudah agak terlambat. Jari-jari tuaku tak selentur anak-anak. Daya pikirku tak seelastis kanak-kanak. Jadilah aku belajar enam lagu pendek selama sebulan penuh. Berbeda dengan suamiku, dia punya mimpi aneh: membeli tanah di belakang rumah. Ia melihat tanah –aku menyebutnya kebon ilalang- di belakang rumah kami, sangat menjanjikan. Ia mimpi bikin villa di situ. Kalau bosan di rumah yang sekarang, dia akan tidur seharian di villa. Cari ilham. Kalau perlu kita pindah ke sana. Aku jadi pendengar mimpi-mimpinya. Dalam hati aku bertanya, uangnya dari mana? Sementara ada beberapa tanggungan yang harus dilunasi. Tapi aku selalu mendoakan niat baiknya. Pesanku: jangan kecewa kalau tak bisa mewujudkannya. Waktu berlalu. Bulan berganti. Kami masih sama: aku latihan musik, anak-anak ikut kelompok bermain, dan suamiku bekerja –sambil memupuk mimpinya. Aku hanya tahu yang sebatas dia ungkapkan. Tapi aku tak tahu yang direncanakan Tuhan dengan mimpi suamiku. Bahkan ketika dia pulang kerja, mengabarkan uang yang bakal didapatnya, aku masih tak percaya. Kucubit lengan suamiku. Ia tersenyum. Aku tak mimpi. Ia yang bermimpi, tapi kali ini bukan mimpi. Lewat beberapa orang yang dikenalnya baik, suamiku gerilya mendapatkan tanah. Incarannya seratus meter. Untuk mertuaku yang sudah tua dan sakit, yang memang tinggal bersama kami. Aku mendukung saja. Sambil berdoa, yang terbaik terjadilah. Yang diridlai Allah, terjadilah. Tak ada mantra, cuma ada rasa cinta dan sayang, pada suami dan mimpinya. Harga tanah yang tiba-tiba menggelembung sempat membuatnya apatis. Aku mendukungnya: untuk apa mengejar sesuatu yang bukan rezeki kita. Suamiku setuju. Tapi ia masih bermimpi: tanah itu. Untung dia seia sekata di depanku. Soal mimpi tak jadi dikejarnya. Tapi tiba-tiba datang kabar: harga sesuai. Suamiku girang. Semangat bekerja keras mendapat uang untuk membeli tanah. Aku sempat khawatir kesehatannya menurun. Tapi ia memang besi. Seperti kekerasan mimpinya. Karena bekerja dengan gembira, tak terlihat lelah. Aku yang menjaga asupan makannya. Tentu, juga dengan doa. Rezeki memang sudah dibagi. Tanah didapat, uang telah dibayarkan. Perantara dapat bagian. Sisa uang yang semula akan digunakan untuk mengurus akta tanah akhirnya diberikan kepada dua orang perantara itu. Kata suamiku, hitung-hitung menolong mereka, juga membersihkan harta kita dari haram. Siapa tahu, kita pernah lupa mengeluarkan zakat. Ya, ada benarnya juga. Dua orang itu mulai merenovasi rumahnya. Syukurlah…Tapi mimpi suamiku juga mengalami renovasi: ia ingin beli empat ratus meter lagi. Aku bangun. Tapi ini bukan mimpi. Aku agak khawatir, kusarankan berpikir lebih jauh, tidak baik mengejar-ngejar mimpi. Suamiku bilang, ia dapat rezeki banyak, biar nggak hilang, investasi ke tanah. Meski, uang belum di tangan. Aku berpikir sebentar, akhirnya kudukung mimpinya. Dengan perhitungan dan rencana matang, suamiku berhasil membujukku: ikut bermimpi. Jadilah tanah belakang rumah mengisi mimpi kami sehari-hari. Untung pemilik tanah mendukung keinginan kami, kendati harga tanah tak turun-turun. Kami tak peduli. Aku jadi ikut bermimpi lebih rumit lagi: punya taman bermain buat dua anak kami. Kalau bisa malah ingin buka taman kanak-kanak. Suamiku tersenyum mendengar mimpiku. Ia senang aku ikut bermimpi. Berarti ia punya teman. Aku tak lagi tertawa mendengar gurauannya. Tapi, terbahak-bahak. Ternyata, bermimpi itu nikmat. Tanah itu terbeli sudah. Suamiku menjebol dinding belakang rumah, memasang pintu besi untuk akses ke belakang –kebon, begitu anak lelakiku menyebut tanah itu. Alang-alang, gundukan sampah, rumpun tanaman yang dicurigai jadi sarang ular, batu-batu besar, mulai dibersihkan. Kami jadi terbiasa dengan bau sampah, tanah pupuk, tai kucing, kadal, bahkan ular. Kedua anak kami jadi punya mainan baru: mengorek-orek tanah, mencari cacing, melihat ular yang dibakar. Sekilas memang sadis. Tapi kata orang kampung, itulah cara membersihkan jejak ular. Entahlah. Aku bersyukur orang-orang sekitar kami baik-baik. Apalagi orang kampung, kalau kami minta tolong, tak segan-segan mereka mengulurkan tangan. Inilah hasil didikan suamiku: hargailah mereka, mereka tentu akan menghargai kita. Tanah itu bersih sudah. Siap untuk dipoles. Dari pintu besi, suamiku ingin ada jalan menurun. Juga jalan sekeliling tanah. Aku jadi bisa main luncur-luncuran di jalan menurun itu. Suamiku cuma tertawa melihatku mewujudkan mimpi: main ice skating. Karena tidak ada es atau lilin, jadilah papan skateboard sasaranku. Anak lelakiku berteriak kegirangan. Anak perempuanku lebih suka memetik bunga yang ditanam suamiku dan ibunya. Ya, suamiku suka berkebun, aku suka bermusik. Atau cuma mendengarkan musik, sambil baca buku. Sekilas memang tidak nyambung, tapi toh tetap bisa berjalan seiring. Suamiku sibuk dengan tanaman, aku temani dengan lagu-lagu dari keyboard. Kalau tidak aku ajak dia ngobrol. Aku tidak begitu tertarik dengan tanaman. Meskipun ketika memilih tanaman yang akan ditanam, suamiku selalu minta persetujuanku. Dan aku memilih dari mimpiku: ingin punya pohon mangga, jambu, pisang, rambutan. Itu semua sedang kami pupuk, kami tanam. Dan kami juga masih punya mimpi, kali ini sama: membangun perpustakaan di tanah belakang rumah. Kecintaan kami pada buku memang menggila. Tak ada hari tanpa bacaan. Tak ada hari tanpa dialog tentang buku dan seputarnya. Bagi kami, buku seperti perhiasan yang harus dijaga benar-benar. Aku sendiri tidak mengoleksi perhiasan emas berlian, karena lebih tertarik pada buku. Seperti perempuan pada umumnya, suka sih suka, tapi tidak maniak asesoris. Tapi maniak buku. Kami memang edan, tapi positif. Untuk mendukung perpustakaan itu, kami memang harus terus bermimpi. Itu yang menjaga spirit kami tetap hidup. Dan di atas semua mimpi itu, cuma Allah Yang Maha Tahu, seperti apa keinginan kami, betapa berwarna dan indahnya mimpi-mimpi kami, apa yang sudah-sedang-akan kami lakukan. Biarlah orang lain tak tahu mimpi-mimpi itu. Biar mereka melihat apa yang sudah terwujud. Subhanallah. Segalanya begitu mudah ya Allah. Hanya Engkau Yang Maha Kuasa, tanpa campur-tanganMu, mimpi kami tak akan bisa terwujud. *** Kampung Ciloang, RUMAH DUNIA, 6 Agustus ‘02  

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: