KELUARGA PENGARANG

RUMAH DUNIA DAN CITRA ANTAR BANGSA

Posted on: April 9, 2007

Oleh Halim HD*)

“Simpan golokmu, asah penamu!” (Toto STRadik) *** 

            Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan ke-60, jurusan Sosiologi Unika Atmajaya menyelenggarakan diskusi dua buah buku karya seorang doktor sejarah lulusan Paris, Jean Jacques Kusni, seorang penulis kelahiran Katingan, Kalimantan Tengah, yang selama ini bermukim di Paris, Perancis, yang sebelumnya berkelana di berbagai Negara seperti Cina, Vietnam dan juga Australia.

 

Disamping doktor sejarah, Kusni juga pernah kuliah ekonomi pembangunan, Sosiologi dan Antropologi, serta hukum internasional pada bidang diplomasi. Saya mengenal penulis itu sejak 20-an tahun yang lampau melalui sebuah bukunya yang terbit pada akhir tahun 1970-an, yang saya baca pada awal tahun 1980-an, kiriman seorang teman dari
Nederland. Sejak itu saya berkorespondensi dengannya. Dan jika kali ini saya datang pada diskusi bukunya, saya bukan hanya ingin menambah gizi intelektual, tapi juga silaturahmi dengan seorang sohib yang jarang ketemu. Dan kebetulan juga Kusni menyertakan isterinya untuk kunjungannya kali ini, yang selama ini saya hanya mengenal namanya saja, Didien.
            Pagi itu, di kampus Unika Atmajaya, saya bertemu dengan Kusni dan Didien dan seorang peneliti dari Finlandia, serta beberapa dosen serta aktivis dan seniman
Yogyakarta. Silaturahmi itu mengantarkan kami ke dalam perbincangan tentang kesehatan, dan obrolan mengalir bagai air sungai yang jernih yang merunuti celah-celah bebatuan. Di antara obrolan itu, terbetik tentang Rumah Dunia (RD), yang dilontarkan oleh Didien, yang menurutnya selalu mengikuti perkembangan dan kegiatan RD dari jagat maya, internet. 
Bagi Didien, RD merupakan suatu bentuk kegiatan kebudayaan yang sangat menarik dan sangat dibutuhkan oleh kaum muda di dalam mengolah pikirannya melalui dunia tulis-menulis, membuat cerpen, novel, penulisan jurnalistik. Ternyata, ketika kami kongko soal RD, bukan hanya Didien yang mengetahuinya. Sejumlah penulis di
Yogyakarta yang hadir pada acara itu juga mengetahui kegiatan RD yang mereka anggap sebagai investasi kultural yang penting bagi kehidupan generasi muda dan kaum remaja. “Saya senang dengan kegiatan dan program RD”, kata Didien. “Mereka nampak bagus kerjanya jika kita melihat dan membaca pada jagat maya”, lanjutnya. “Juga yang penting”, tandasnya. “Rumah Dunia banyak kerja tanpa banyak cakap!”
            Didien hanyalah salah satu orang yang mengikuti kegiatan RD, seperti juga Kusni, suaminya. Sementara itu dibagian dunia lain, Ben Abel, staf ahli kepustakaan pada Echols Collection, Southeast Asia Library, Cornell University, Ithaca, Amerika, juga tak ketinggalan, sama halnya dengan beberapa mahasiswa di Mesir, Arab, dan beratus orang lainnya di berpuluh kota di Indonesia yang selalu rajin memantau RD. Semuanya terikat kepada komitmen untuk memajukan dunia pemikiran di Indonesia melalui tulis-menulis, sebuah lahan yang selama ini dilupakan oleh dunia pendidikan kita, dan juga dilalaikan oleh para pengelola daerah yang selalu cenderung bermain politik-ekonomi.             Secara pribadi, saya mengenal RD sejak 2 tahun terakhir. Dan baru mengenal langsung beberapa waktu yang lalu, melalui kunjungan singkat yang hanya beberapa jam ke RD di desa Ciloang. Kunjungan saya itu ketika saya diundang oleh panitia Festival Teater Rakyat Lintas propinsi 2005 (FTRLP-2005). Saya dengan antusias datang ke Serang, kota kelahiran saya, dan sekaligus bersilaturahmi dengan Gola Gong, pendiri RD, serta rekan-rekan RD lainnya, Toto St. Radik, Firman Venayaksa, Aji Setiakarya, dan sejumlah penulis muda lainnya. Silaturahmi diantara penulis. Rasa penat dari perjalanan Solo-Jakarta-Serang yang selama belasan jam, dari rasa kurang tidur, kemacetan
kota Serang, udara
kota yang pengap serta debu dan asap kendaraan yang membuat mata dan hidung saya pedih, semuanya sirna ketika memasuki halaman kampus RD yang sederhana namun asri. Yaa, kampus! Bagi saya, RD adalah sebuah kampus, sebuah lembaga pendidikan informal di sebuah desa, Ciloang, walaupun jalan desa itu amburadul oleh truk-truk besar Pusri (Pupuk Sriwijaya) yang berlalu lalang, yang nampak tak pernah diperhatikan dan diperbaiki oleh pihak yang bersangkutan. Di
sana pula saya dapatkan beberapa kaum muda dan remaja yang sedang menyampul buku sambil bercengkerama. Sementara itu beberapa rekan lainnya diskusi dan merencanakan beberapa program kerja yang akan digarap untuk mengisi kegiatan RD: pembacaan puisi, diskusi buku, kegiatan kesenian, woksyop teater, musikalisasi puisi. Siang harinya woksyop penulisan yang diadakan setiap minggu yang diikuti oleh 30-an peserta kaum muda diberikan oleh Gola Gong.

Apakah saya harus malu jika diam-diam saya menghapus pelupuk mata saya, ketika menyaksikan semua kegiatan itu, walaupun saya baru dan hanya beberapa jam kunjungan pribadi? Dalam hati saya bangkit rasa optimis dan mendekati rasa bahagia ketika sempat memasuki ruang kegiatan RD, yang selama ini hanya saya kenal melalui jagat maya. Tak ada sesuatu yang bisa saya janjikan untuk rekan-rekan RD. Saya hanya bisa menyimpan harapan dan hanya ada janji dalam hati saya. Untuk itulah saya menulis tentang RD, dan saya sampaikan kehadapan publik, khususnya di
kota Serang, Banten, lantaran hal itu saya anggap penting. Sebab, Serang dan Banten yang selama ini hanya dikenal dengan kultur jawara yang sudah identik dengan bentuk kekerasan akibat politisasi dan interest pribadi sekelompok elite lokal dalam membentuk kepentingan politik-ekonominya, membuat Serang dan Banten menjadi wilayah yang hanya dikenal sebagai pengekspor para jagoan yang hidup disekitar terminal, pelabuhan dan hiburan malam.

Dalam kaitannya dengan citra yang cenderung negatif itulah posisi dan peran RD sangat penting, bahwa di Serang, di propinsi Banten bukan hanya ada golok yang selalu diselempangkan dipinggang yang siap dicabut. Tapi, ada kegiatan yang visoner, suatu bentuk kegiatan investasi kultural yang bisa kita harapkan pada masa yang akan datang akan lahir para penulis, peneliti dan penggiat kebudayaan yang akan mewakili citra Serang-Banten sebagai wilayah yang budayawi, yang memandang suatu masalah dengan nilai-nilai manusiawi, yang lahir dari permenungan tentang posisi dan fungsi manusia dalam rasa keadilan dan kesetaraan. Dan itulah salah satu kontribusi terpenting dari Serang-Banten untuk
Indonesia yang akan datang.

Maka, “simpan golokmu, asah penamu!”

                                                                -o0o-

Halim HD. – Networker Kebudayaan, kelahiran Serang, tinggal di Solo.  

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: