KELUARGA PENGARANG

PUTRIKU JADI PENGARANG

Posted on: April 9, 2007

Oleh Gola Gong

Ketika kecil, saya bercita-cita ingin jadi pilot. Padahal Bapa dan Emak adalah guru.  Jadi adagium bahwa ”like father like son” atau ”buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya’ terpatahkan di sini. Itu hanya mitos. Di usia kesebelas, karena otak kananku terlalu aktif akibat sering membaca  dan menonton film, saya harus merelakan tangan kiriku diamputasi sebatas sikut (1974). Saat itu saya melompat dari pohon; membayangkan sedang terjun payung, tapi tanpa parasut. 

CITA-CITA            Ketika dewasa  cita-citaku berubah. Malah ”buahnya jatuh lebih jauh lagi dari pohonnya”. Pada 1988 saya memilih profesi jadi penulis (wartawan, pengarang, penulis naskah televisi), karena tidak memersoalkan kecacatan phisikku.  Sejak itul profesi saya betambah jadii pembicara dalam diklat kepenulisan (fiksi an jurnalistik).  Saya muda bermimpi menjadi Rabindranath Tagore dengan Santi Niketan. Saya duduk di bawah pohon,  membacakan puisi dan prosa kepada anak-anak. Atau Ki Hajar Dewantoro dengan Taman Siswa; ing ngarso sung tulodho ing madyo mangun karso tut wuri handayani. Sang guru merupakan pemimpin yang memberi teladan baik. Juga aktif, kreatif, konstruktif, dan produktif. Dia bersedia mengikuti anak didik dari belakang sambil membimbingnya. Konsep pendidikannya mengakui hak anak atas kemerdekaan untuk tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan pembawaannya. Dalam  perkembangan psikologi anak kontemporer, Howard Gadrner memopulerkan istilah kecerdasan majemuk (multiple intelligences), dimana setiap anak dapat memmunyai lebih dari satu kecerdasan dan bakat.Mimpi itu terwujudkan pada 2002. Dari honorarium sebagai penulis, di halaman belakang rumah saya membangun ”Rumah Dunia: Rumahku Rumah Dunia, Kubangun Dengan Kata-kata”. Di sini saya memaksimalkan otak kanan; saya membentuk iklim diskusi (accelarated learning) berbeda dengan yang terjadi di sekolah umumnya saat kita selalu harus menjadi murid yang penurut, nilai tidak boleh berwarna merah, dan siap mencatat apa yang didiktekan guru.                Setiap Minggu, dari pukul 14.00 – 17.00, saya berbagi ilmu kepada para pelajar dan mahasiswa di Banten dalam bidang jurnalitik, fiksi (cerpen/novel), dan film. Beberapa ada yang berhasil jadi wartawan, penulis skenario, dan pengarang. Karya-karya mereka sudah tersebar di media massa; cetak dan elektronik. Ada yang memeroleh prestasi sekelas UNICEF Award hingga perlombaan menulis IKAPI BOOK FAAIR 2004 dan tingkat lokal. Saya merasa senang, walaupun selalu muncul kecemasan: Apakah keempat anakku akan menjadi penulis seperti ayah dan ibunya?              TIDAK MEMAKSA            Betul kata Kahlil Gibran, bahwa anak kita bukanlah lagi milik kita tetapi milik zamannya yang merindukan dirinya sendiri. Kita yang di atas 40 tahun sudah bukan anak zaman lagi. Saya ingat saat remaja bertanya kepada Emak, ”Emak ingin saya jadi apa?” Emak menjawab, ”Emak ingin melihat kamu bahagia.” Setelah saya jadi orang tua, pernah ada yang bertanya, ”Kamu ingin anak-anakmu jadi apa? Jadi pengarang seperti kamu? Jadi orang sukses dan kaya?”  Saya menjawab, ”Saya ingin melihat mereka jadi dirinya sendiri.”  Saya juga teringat lagi pesan Bapak dan Emak, ”Jangan pernah menyuruh anak-anakmu jadi pengarang seperti kamu. Jika anak melakukan sesuatu yang bukan timbul dari keinginannya, tapi karena perintah orangtuanya, maka kamu sudah ’membunuh’ anak-anakmu.” Apa yang dikatakan mereka betul. Ketika kecil, saya tidak pernah dipaksa mereka untuk menjadi guru. Mereka membiarkan saya ”menjadi diriku sendiri”. Kini saya menjadi ”buah yang jatuh sangat jauh dari pohonnya”. Tentu saja saya dan istri tidak ingin jadi ”pembunuh”. Saya tidak ingin menjadi orangtua yang selalu tergesa-gesa. Kami menanamkan kepada mereka, bahwa memahami atau mengerti sebuah persoalan jauh lebih penting dari sekedar nilai berwarna biru di rapot. Atau jika ada anak yang kursus balet, kursus piano, saya tidak akan memaksa mereka untuk melakukan itu,  kecuali kalau itu muncul dari keinginan mereka. Tapi tahukah pembaca, putriku sekarang jadi pengarang! Ternyata kali ini mitos itu betul: buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Saya si pohon dan Bella si buah. Kami tidak memaksa Bella jadi pengarang seperti kami – ayah dan ibunya. Kami  hanya mengenalkan sastra kepada anak-anak dengan cara membaca di depan mereka. Nabi Muhammad saja pernah berkata, ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, karena sastra membuat hati menjadi lembut. Jika hati lembut, maka keinginan untuk berbagi selalu ada. Kami ingin anak-anak memiliki kepedulian; bahwa hidup itu tidak melulu mengejar harta dan tahta, tapi berbagi dengan sesama juga penting.   DISKUSISetiap sebelum tidur, kami memang memberi menu tambahan ”dongeng sebelum tidur”. Buku-buku juga kami biarkan berserakan di ruang keluarga dan tentu di  depan televisi. Di kamar mereka kami sediakan rak dan bukunya. Jika mereka tertarik ingin membaca, kami tinggal menunjukkan saja buku apa yang harus mereka baca. Setelah membaca, kami meminta mereka menceritakan isi buku; sinopsis, tokoh, karakter, konflik, alur, plot, setting, dan endingnya. Diskusi berlangsung bisa menjelang tidur, di kala senggang atau di meja makan. Pelan-pelan kami menyuruh mereka menuliskan resensinya, tentu dengan iming-iming hadiah. Dengan cara seperti itu, kami mulai mengenalkan empat ketrampilan berbahasa kepada anak-anak kami; mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.Bella (9 th) memang lebih antusias ketimbang Abi (8 th), adiknya. Sering Bella berdiri di belakang ketika saya membuat cerita. Jika dia bertanya tentang cara-cara mengarang, saya menjawabnya dengan langsung memberi contoh. Saya juga sering memergoki putriku hadir di kelas menulis, jumpa pengarang dan peluncuran buku di Rumah Dunia.            Suatu hari, Bella minta diantar ke pasar. ”Ajari Bella mengarang, Pah!” pintanya.  Saya sangat senang mengantarnya. Saya bawa dia ke Pasar induk. Saya ajak dia duduk di suatu tempat, yang bisa memandang ke seluruh sudut pasar, memerhatikan bagaimana dagangan-dagangan seperti pecah-belah, sayur-sayuran, dan buah-buahan ditumpuk. Saya mengenalkan dia pada sudut pandang crita (point of view) Saya tawarkan dia membayangkan (proses menjadi) jadi pedagang bubur ayam, pedagang kelapa, atau jadi tukang parkir. Bahkan dia “mewawancarai” pedagang ketupat sayur; mulai dari modal dan keuntungannya hingga punya anak berapa. Pada Februari 2005, Bella bertanya,  ”Berapa halaman bikin novel, Pah?” Saya jawab empat puluh halaman. Setahun kemudan, April 2006, Bella menyerahkan naskah novel pertama: Kisah Bunga (kemudian digani penerbit jadi ”Beautiful Days”). Saat itu Bella berumur 7 tahun. Selama setahun dia menulis novelnya. Saya kaget. Putriku jadi pengarang? Saya merasa gembira. Tadinya saya menyangka, putriku lebih menjurus ke kecedasan kinestetik (olahraga), karena kalau dia makan atau melakukan apapun, tubuhnya tidak pernah diam. Tapi ternyata kecerdasan linguistik putriku cukup baik.  Kini  dia sedang menyelesaikan dua novel terbarunya sekaligus; It’s My Bedroom dan Ada Deh.Saya dan Tias membebaskan mereka. Kami hanya menyediakan sarananya dan membiarkan mereka bebas mengalir menemukan jalannya sendiri, mengembara dengan kecerdasan majemuk yang mereka miliki. Kami yakin, mereka akan menemukan muaranya sendiri.    Dan Tuhan membuktikannya. Putriku kini jadi pengarang. Yang membuat saya bahagia, jauh melebihi kebahagiaan ketika novel terbaru saya terbit atau mendapatkan bonus tahunan dari tempat bekerja, adalah ketika Bella jadi pengarang bukan atas kemauan kami, tapi itu muncul dari keinginan dirinya sendiri.              Ya, kini putriku jadi pengarang! ***

*) Penulis adalah pengarang dan pengelola komunitas belajar Rumah Dunia di Serang Banten.

*) Dimuat di Humaniora,Kompas, 9 Februari 2007

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: