KELUARGA PENGARANG

PERS MUTAKHIR BANTEN

Posted on: April 9, 2007

ngetik-com.jpgOleh Gola Gong

 

Suatu hari sebelum 17 Agustus kemarin, Abdul Malik, Ketua Litbang Radar Banten mentraktir saya, Si Uzi, Aas Arbi Syahrostani, dan Qizink La Aziva di rumah makan
Padang di depan redaksi Radar Banten. “Wah, jadi inget tahun 1993, nih!” kata Malik. Angka itu adalah angka keramat bagi saya.
Ada perasaan bahagia campur haru ketika melihat mereka sudah menjadi tokoh-tokoh pers di Banten dengan pemikiran muitakhir dan idealisme yang masih kuat dipegang di era hedonisme ini.

 

SEJARAH

Mereka adalah adik-adik seperjuangan ketika meletakkan pondasi pers mutakhir di Banten. Sekitar 1993, saya, Toto ST Radik, dan Si Uzi,  melahirkan Banten Pos, tabloid pelajar dan Mahasiswa. Saya di posisi Pemred, Toto di redpel, dan Si Uzi redaktur artistik. Abdul Malik adalah salah satu kontributornya. Saat itu Malik masih tercatat sebagai pelajar di Ponpn Daar El-Istiqomah, Penancangan Serang. Taufik Rohman kami percaya mengurus iklan dan Asep GP di sirkulasi. Sedangkan percetakan diurus SUHUD Media Promo. Sedangkan kontributor kampus dipegang Mulyadi (cak Mul) aktivis IAIN. Di tangan Cak Mul, pers kampus SIGMA lahir. 

Tapi jauh sebelum itu, tahun 1988, saya, Toto, dan almarhum Rahmat Yanto Suharto sudah bergerilya di sekolah dan kaampus; mengenalkan sastra dan jurnalistik  secara gratis. Saat itu kami merasa sedang menanam, walaupun pada akhirnya yang memanen tidak mesti kami. 

Kami bermimpi, suatu hari akan memiliki penerbitan besar di Banten; koran dan majalah dengan muatan lokal. Sayang, para pejabat Serang, tokoh masyarakat Banten, serta para tokoh pers Banten masa itu mencap kami sebagai ”anak-anak nakal”, yang harus diberangus. Kami menunda mimpi kami saat itu. Kami tidak diamini. Kami hanya bisa berkelakar sambil merintih perih, bahwa kami hidup di zaman dan tempat yang salah. Kami saat itu  adalah anak-anak muda yang melampau zaman di Banten. 

Mimpi mendirikan penerbitan muncul lagi, saat reformasi bergulir. Tahun 2000 kami mendengar kabar SIUPP (surat ijin penerbitan pers) yang dituhankan Harmoko (mentri penerangan Indonesia kala itu) hendak dihapuskan. Kami sudah merasakan, bahwa pers lokal akan jadi primadona. Betul saja, SIUPP dihapuskan oleh Yunus Hosfiah (Menpen di era reformasi).Kami bersorak. Maka kami; saya, Toto, Si Uzi, dan Taufik Rachman dengan posisi sama membikin tabloid MERIDIAN (tahun 2000), sebuah media ramah keluarga Banten. Abdul Malik sudah raib entah kemana. Rahmat Yanto hengkang ke Bogor, mengurusi penerbitan Bukaka teknik. Tapi, Aas Arbi Syahrostani dan Dian Faradisa (kini istri Abdul Malik) masuk. Kami betul-betul bersemangat.  

MERIDIAN terbit bulanan. SUHUD tetap dipercertakan. Dijual seribu rupiah, keluarga di Banten menyambut hangat. Iklan sudah menutup biaya cetak.   Setelah 6 edisi, kami membaca spanduk bertuliskan ”HARIAN RADAR BANTEN, Koran Kebangaan Warga Banten, terbit setiap hari.” Dan kami harus mengakui kenyataan, bahwa berjuang tanpa modal adalah sia-sia. Orang-orang kaya di Banten betul-betul tidak tertarik menanamkan modalnya di bisnis pers. Begitulah cara berpikir kelas menengah baru di Banten; masih memakai budaya berhitung, bukan budaya berpikir. Akhirnya sumber daya manusia MERIDIAN diambil oleh HARIAN BANTEN (sekarang Radar Banten). Dan yang paling mengejutkan, redaksi pelaksananya adalah Abdul Malik, pelajar Daar el-Istiqomah, kontributor BANTEN POS, yang pernah kami buat tahun 1993 itu. 

MUTAKHIRAkhirnya saya kembali bekonsentrasi bekerja di RCTI dan Toto sebagai  pegawai negri di BKKBN sambil memulai mewujudkan mimpi yang lain; membangun RUMAH DUNIA, dimana salah satu misinya adalah menyiapkan sumber daya manusia di bidang sastra, jurnalistik, dan film. MERIDIAN kami sudahi saja.    

Maka dimulailah era baru; pers mutakhir Banten. Karikatur Si Uzi sangat mewarnai koran itu. Kapasitasnya sebagai karikatur sudah melampaui batas-batas wilayah Banten. Karya-karya dia sudah mewarnai pers nasional seperti tabloid BOLA, Nova, Kartini, dan Humor. Jadi, hal yang tidak mengagetkan ketika suplemen ”Radar Yunior” di Radar Banten sukses di tangannya. Dan juga bukan sesuatu yang mengagetkan bagi saya, ketika Si Uzi dipercaya memegang koran BANTEN RAYA POS. Bagi saya, ketika modal berada di tangan ahlinya, maka hasil dan manfaatnya akan terasa nyata. 

Saya memercayai, bahwa Si Uzi, Abdul Malik, dan Aas Arbi adalah calon-calon tokoh pers Banten mutakhir, yang mengedepankan idealisme. Juga Qizink La Aziva yang lahir di Rumah Dunia dan kini dipercaya menggantikan Si Uzi menangani ”Radar Yunior”, adalah calon lain yang akan mewarnai pers mutakhir Banten. Mereka bukan tipe ”wartawan amplop”. Mereka adalah wartawan yang memahani, bahwa fungsi pers adalah memosisikan masyarakat sebgai raja informasi. Saya ingat saat di MERIDIAN, sepulang dari peliputan Aas menyodorkan amplop kepada saya. ”Dari nara sumber. Saya tolak, tapi dia tetap memaksa.” 

Pers mutakhir Banten kini sedang mereka rintis. Dan kita sebagai warga Banten harus mulai hati-hati dalam bertingkah laku, karena mereka adalah orang-orang yang paling membenci ketidakadilan. Jika sebelumnya di Bnten ini si kuat selalu leluasa menindas si lemah dan korupsi disembunyikan di bawah-bawah meja, sekarang mereka siap-siap mengobrak-abrik dan menghidangkannya saat pagi di meja makan. Maka, marilah kita jadi pembaca tulisan merka. 

Hidup pers mutakhir Banten! 

*** 

 

*) Penulis adalah penasehat Rumah Dunia, tim kreatif RCTI, dan novelis.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: