KELUARGA PENGARANG

PERGILAH DARI RUMAH, DAN TULISKANLAH PENGALAMANMU [4]

Posted on: April 9, 2007

malaka.jpgOleh Gola Gong Orangtua saya percaya, bahwa mewariskan ilmu jauh lebih berguna ketimbang harta. Maka buku, koran, novel, komik, dan bacaan lainnya menjadi menu sehari-hari kami di rumah.  Pada umur 11 th (sekitar tahun 1971), saya mengalami kecelakaan (jatuh dari pohon). Tangan kiri saya diamputasi.  Di sisi lain, saya tetap gemar membaca dan berpetualang. Seiring perkembangan usia, saya mulai menyadari, bahwa banyak peraturan-peraturan, yang sangat diskriminatif buat orang cacat. Misalnya, jadi guru nggak boleh cacat, bikin SIM mobil dipersulit, jadi dokter nggak boleh, pilot apalagi (pesawatnya takut jatuh kali ya!). 

*** PROLOGSelepas SMA (1982), saya mulai realistis Saya mulai mengatur strategi untuk memikirkan masa depan saya.  Kayaknya profesi yang cocok buat saya adalah menulis (bisa jadi pengarang atau wartawan). Profesi menulis ‘kan tidak memakai persyaratan: cacat atau non cacat! Kalau perlu, bisa menulis di kamar. Untuk menambah ilmu, saya kuliah di Fakultas Sastra Unpad Bandung, jurusan sastra Indonesia. Tapi, tidak betah. Yang ada di otak iut, ingin cepat-cepat jadi pengarang saja! Ternyata, kalau kepingin jadi pengarang itu bukan kuliah di sastra, tapi kuliahlah di jalanan. Maka, jika kamu ingin jadi penulis, pergilah dari rumah. Lalu tuliskanlah pengalaman kamu. 

Maka pada tahun 1986, saya travelling. Jadi backpacker – orang yang melakukan perjalanan dengan ransel di punggung dan tas pinggang sembari membawa buku panduan. Saya sengaja melakukan ini, karena ingin melihat kehidupan yang sesungguhnya. Saya ingin memaksimalkan panca indra saya; mata, hati, hidung, telinga, mulut, semuanya…… Di perjalanan, saya banyak menemui orang baik dan orang jahat… Saya banyak mengalami dan merasakan…. Saya banyak mengalami kesedihan juga kegembiraan… Pernah lapar dan kekenyangan…. Semuanya dikarenakan perlakuan diskriminasi terhadap saya yang cacat…. Otak dan hati saya banyak diisi dan penuh oleh hal itu. Betapa berwarna dan kaya akal dan perasaan saya. Ibarat gelas, airnya luber ke mana-mana. Ingin segera saya tulis, saya tulis. Saya jadi ingat omongan Multatulli; “Ya, aku bakal dibaca!”. Ternyata Allah menempa saya untuk betul-betul memutuskan, bahwa menulis adalah bagian dari hidup saya nanti. Dengan penalah saya akan menafkahi anak dan istri saya kelak Diberi-Nya saya penderitaan, diberi-Nya saya kebahagiaan, diberi-Nya saya teman, diberi-Nya saya musuh…… Saya tahu bahwa semua itu Allah berika pada saya untuk bahan-bahan tulisan saya. Sampai sekarang pun, Allah masih terus menunjukkan jalan pada saya, agar saya terus memperbaiki diri… tema-tema apa yang kelak akan saya tulis… 

WARNA LOKALTahun 1987, sekitar Agustus, di umur saya yang keduapuluh lima, saya memutuskan pulang ke rumah untuk jadi penulis. Buku harian yang saya kirim ke rumah di setiap kota yang saya singgahi, menumpuk di pojokan kamar. Saya sampaikan maksuda dan tujuan saya kepada orangtua. Alhamdulilah, mereka setuju. Bapak membelikan saya mesin ketik.   Mulailah saya “semedi” di kamar. Buku harian atau catatan perjalanan itu saya bacai satu persatu. Di majalah-majalah, saat itu serial Lupus (dimuat bersambung di Hai) karya Hilman Hariwijaya sedang menjadi idola. Selain itu, cerita-cerita berlatarkan petualangan karya Emji Alif, juga menjadi bahan pemikiran saya.  

Lalu saya mulai corat-coret; mencari tokoh fiktif, agar bisa menjadi artikulator (penyambung opini atau gagasan saya) terhadap pembaca saya. Saat itu saya melakukan pemetaan, bahwa ternyata hampir semua cerita fiksi di majalah sangatlah jakartasentris. Tidak ada yang mengangkat nuansa lokal atau warna kedaerahan. Juga dari segi bahsa, kurang nyastralah. Pemikiran saya ini terbukti ada benarnya, bahkan sampai tahun 2003. Saya pernah bertemu dengan Edwin, presenter ngocol asal Aceh. Dalam suatu kesempatan acara “Ronda” untuk paket puasa 2001 di RCTI, Edwin mengatakan kepada saya, bahwa dia berani datang ke Jakarta, karena termotivasi oleh kisah petualangan Roy. Semangan kedaerahan yang terbangun lewat sosok “Roy”, ternyata memacu semangat Edwin untuk menaklukan Jakarta. KITAB SAKTI – KHASBerbekal pemetaan itu, lantas saya melakukan strategi. Karya saya yang pertama ini akan berbentuk serial, karena majalah HAI waktu itu sedang gencar-gencarnya mempopulerkan serial. Setelah figur sentral sudah saya temukan ada dalam diri remaja benama “Roy”, maka saya membuat semacam buku panduan atau “kitab sakti”. Sudah sya putuskan, bahwa judul serialnya “Balada Si Roy” (BSR). Jujur saja, ini terinspirasi oleh judul lagu John Lenon; Ballad of John and Yoko. Di dalamnya ada kerangka cerita atau sinopsis global. Juga karakterisasi “
Roy” serta yang mendukung “
Roy”; mulai dari ibunya, almarhum ayahnya, sahabat-sahabatnya, pacar sejatinya, pacar (cinta lokasi) yang akan muncul di setiap episode, atau tokoh-tokoh lain yang mendukung di setiap episodenya. Setting atau latar cerita utamanya (di Serang – Banten) serta kota-kota yang akan dilewati atau disinggahi “
Roy”. Yang paling akhir adalah, membuat sinopsi perepisode.
 

Setelah “kitab sakti” itu selesai saya buat (sayang ikut musnah ketika semua berkas-berkas itu saya bakar setelah menikah dengan Tias Tatanka di penghujung 1996), saya memutuskan untuk mengurung diri di dalam kamar. Dengan referensi buku-buku; pariwisata, psikologi, sastra, ensiklopedi, hampr tiap tengah malam, dari lantai dua paviliun, yang terdengar adalah bunyi mesin ketik; tak, tik, tuk, tak, tiku, tuk… Kata demi kata mengalir deras. Bagai air bah. Tak pernah mau berhenti. Yang ada di benak saya adalah, menghidupkan tokoh “Roy” lewat kisah-kisah yang saya temukan di dalam perjalanan. Di dalam perjalanan imajinasi saat mengetik itulah, saya menemukan sebuah strategi baru, yaitu serial saya harus memiliki ke-khas-an dengan selalu menampilkan puisi atau pepatah lama atau juga kalimat bijak para filsuf di awal episode. Ternyata ciri khas itulah, yang juga ikut membesarkan serial BSR. Beberapa  penyair nasional dewasa ini mengaku, bahwa mereka terinspirasi oleh sajak-sajak yang ada di BSR. 

GE ER POSITIFSekitar tiga bulan, awal Oktober 1988, 13 episode pertama serial “Balada Si Roy” selesai saya buat. Sebelum merasa yakin benar, saya undang beberapa teman saya semasa di SMA untuk membaca BSR. Rata-rata tanggapan mereka positif. Bahkan beberapa teman sudah menganggap saya sebagai pengarang waktu itu. Bahkan – maklum Serang kota kecil – iut sudah menyebar ke segenap penjuru kota Serang. Maklum, saya termasuk populer juga di Serang waktu itu; selain sebagai jawara badminton, juga anak jalanan, hahaha… Saya suka ge-er juga sekaligus malu hati saat itu. Bagaimana kalau ternyata karya saya ditolak HAI? Oke, setelah semuanya merasa pas, saya meminta restu kepada orangtua untuk “menaklukan” Jakarta. Emak (panggilan saya terhadap ibu) membobol celengannya. Di genggaman tangannya terkumpul uang sebanyak Rp. 1.500.000,- Kata Emak, “Tadinya ini buat modal kamu mneikah kelak. Tapi, Emak ingin kamu membeli tangan palsu. Jika ada sisa, buat bekal kamu selama di Jakarta.”  

Itu adalah peristiwa yang sangat emosional, jika saya kenang saat sendiri. Kadang tak terasa kedua mata saya basah jika mengingat ini. Saya tahu kenapa Emak menyuruh saya membeli saya tangan palsu.. Tentu dengan memakai tangan palsu, sekelebat orang-orang tak akan menganggap saya cacat. Artinya ini supaya tidak ada perlakuan diskriminasi saat saya menawarkan manuskrip atau naskah cerpen  saya ke media massa. Saya membeli tanan palsu di daerah Sunter, seharga Rp. 1.300.000,- Sisanya saya pakai untuk keperluan di Jakarta. Akhir Oktober 1988, saya berangkat ke Jakarta sambil menjinjing mesin ketik. Saya nebeng di kosan temen. Herdi Kusmayadi, namanya. Saat di SMA, Emak sering membantu dia. Katakanlah dia “anak asuh” Emak. Herdi dengan gembira menyambut saya. Dia sudah berhasil menaklukan Jakarta. Dia bekerja sebagai sales komputer waktu itu. Saya katakan pada dia, bahwa saya akan menawarkan manuskrip cerita fiksi saya ke HAI. Saat saya tertidur pulas, rupanya diam-diam dia membacai seluruh episode BSR. Esoknya saat sarapan, dia menatap saya dengan perasaan tidak percaya. “Ini tulisan kamu?” tanyanya bengong. Saya hanya mengangguk dan tersenyum. SALESDengan tangan palsu dan jaket jeans, saya ke HAI di Palmerah. Arswendo tidak sadar, kalau saya bertangan satu. Bahkan crew redaksi yang lain. Saya jualan “Balada Si Roy” seperti sales man saja Saya yakinkan, bahwa “BSR” adalah cerita remaja yang mengusung tema-tema petualangan dan human interest (sosial).  Selain itu, enan sangat yakin saya bilan, bahwa “Roy” adalah “batu”. Kalau ibart musik, “Roy” adalah musik rock!  

uka. Saya masih pake tangan palsu. Tapi setelah itu, saya lempar tangan palsu! Saya datang ke HAI apa adanya! Mereka baru “ngeh” saya bertangan satu. Alhamdulillah, mereka tidak mepermasalahkannya. Maret 1989 “BSR” muncul di HAI.  Saya yakin, Allah meridhoi jalan yang saya ambil; menjadi penulis. Ketika saya menulis, saya nggak perah memikirkan: apakah nanti tulisan saya itu dikategorikan sebagai karya sastra atau bukan. Saya hanya ingin menuangkan gagasan/ide dan dari sana saya memperoleh imbalan untuk bisa beribadah. Dan tentu, saya ingin gagasan/ide saya dibaca oleh banyak orang. 

PENA PEDANGAlhamdulillah, BSR digemari pembaca (remaja). Jangan kaget, buku wajib anak gunung saat itu BSR. Bahkan, banyak remaja pria yang berhasil menggaet cewek lewat sajak-sajak yang ada di BSR (film “Ada Apa Dengan Cinta” bukanlah yang pertama). Pembaca “BSR” beragam; dari anak gunung, penyair pemula (yang kini jai penyair nasional), remaja frustasi (mengaku jadi tumbuh semangat hidupnya setelah membaca BSR), sampai ke para orang tua (yang memprotes karena anak-anakanya jadi rajin ke gunung ketimbang sekolah). Awalnya saya bahagia dengan kesuksesan BSR. Bahkan ada beberapa orang yang lulus jadi sarjana, dengan skripsi BSR (salah satunya mahasiswi UNHAS Makasar)! Tapi, lama-lama saya merasa bersalah dengan dampak yang ditimbulkan BSR. Ternyata banyak pembaca novel saya, yang mengambil sisi negatifnya. Padahal dalam BSR, secara halus saya menularkan ideologi “struggle of life”; bahwa sekali jatuh lalu bangkit lagi itu biasa, tapi setiap jatuh, lalu bangkit, jatuh lagi, bangkit lagi, dan jatuh lagi….. terus bangkit lagi, itu baru luar biasa!  

Pena bisa setajam pedang terbukti di sini. BSR banyak mempengaruhi pembaca. Ada yang malam-malam mengetuk pintu rumah dan bangga bilang, bahwa dirinya nggak naik kelas seperti Roy! Ada yang nyodorin narkoba ke saya, karena “Roy” juga begitu! Atau para orangtua yang menyurati saya, agar jangan bikin cerita seperti BSR. “Apa dik Gola Gong nggak bisa bikin cerita yang baik?’ begitu seoragn ibu dari Kalimantan, pernah menuliskan isi hatinya pada saya. Akhirnya saya hentikan “BSR” sampai buku ke sepuluh. Saya juga mundur dari acara-acara jumpa fans! Saya kecewa! FORUM LINGKAR PENASaya mengalami kebuntuan dalam menulis fiksi, karena perasaan “berdosa” saya. Lama saya berhenti menulis cerpen atau novel (sekitar 1995 – 2000). Bahkan dunia jurnalistik pn saya tinggalkan. Saya lari ke televisi. Ke Indosiar. Bosan di sana, saya hengkang ke RCTI (sampai sekarang). Kemudian suatu hari, Boim Lebon (rekan sekantor) nunjukin majalah remaja Islami “Annida”. Saya langsung jatuh hati. Tanpa banyak pikir, saya menelepon ke redaksi Annida. Saya berkenalan dengan Helvy Tiana Rosa (HTR) dan Forum Lingkar Pena-nya. Saya makin jatuh hati. Di sini ada misi dakwah lewat tulisan. Sebarkanlah, walau satu ayat…. 

Saya mulai sadar, bahwa novel-novel yang dibaca oleh saudara-saudara kita dari segi tema tidak sehat. Hanya menjual keduniawian semata. Tidak membawa pencerahan atau mengajak kita untuk amar maruf nahi munkar (mengajak ke kebaikan dan menjauhi kebatilan). Lalu ada “angin segar” masuk ke rongga dada saya setelah mengetahui keberadaan Annida. Saya bergairah lagi menulis fiksi. Cerpen pertama saya yang bernunsa islami dimuat di Annida adalah “Nyanyian Anak Jalanan”. Kemudian saya berklaborasi dengan HTR di antologi “Nyanyian Perjalanan” (Asy Syaamil 2000). Sebagian dari royaltinya kami sumbangkan ke perjuangan saudara kita di Maluku. Yang kedua dari Asy Syaamil adalah “Al Bahri (Aku Datang Dari Lautan)”, yang sinetronnya diproduksi Indika dan tayang di TV 7. Bahan ada mahasiswi UNILA Lampung, yang menjadikan “Al Bahri” materi untuk skripsinya! Masya Allah! Betapa bahagianya karunia ini saya rasakan. 

Lalu HTR ngajak saya gabung di FLP (Forum Lingkar Pena). Saya ditempatkan di PSDM (walaupun nggak suka hadir di setiap rapat, hehehe…). Di sini saya merasa menemukan jalan baru, terlahir kembali… Saya memang bukan dai.. Pengetahuan agama saya minim. Tapi saya akan selalu meminta petunjuk-Nya, agar diberi kekuatan dan ide-ide baru untuk membuat novel. Untuk bisa menyampaikan, minimal, satu ayat dalam cerita-cerita yang akan saya tulis nanti. Bahkan saya menangis dan merasa malu ketika bersimpuh di sajadah, apakah orang seperti saya pantas menulis cerita fiksi dengan jenis “cerita religius”. Tapi saya ingin menulis sesuatu, yang nanti bisa membawa kebaikan pada para pembaca buku-buku saya. Di FLP-lah, saya selalu merasa ada yang “mengawasi’, “Apa yang akan kamu tulis? Bermanfaatkah bagi pembaca? Atau malah lebih banyak mudhoratnya?” Saya tahu, Allah-lah yang mengawasi saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menulis cerita-cerita religius, yang referensinya dari Al Quran. Saya tahu pangsa pasar di cerita jenis ini prospektif. Saya tahu ini melelahkan, karena setiap selesai menulis, saya harus berdiskusi dengan istri dan orangtua saya, apakah cerita saya ini sesuai tidak dengan ajaran agama Islam, yang saya anut. Apakah ini bisa sara atau tidak. Di meja saya, bertumpuk referensi buku agama Islam (serta Al Quran), jika saya sedang menulis cerita. 

FATAHILAH BINA ALFIKRISetelah Asy Syaamil, Mizan menrbitkan novel trilogi saya. Kemudian muncul penerbit Fatahilah Bina Alfikri (FBA). Asma Nadia jadi motornya di sana. Saya tertarik, karena FBA menerbitkan buku untuk proyek-proyek kemanusiaan. Proyek awal, FBA menerbitkan antologi cerpen “Ketika Duka Tersenyum” (KDT). Royaltinya disumbangkan buat biaya operasi rekan penulis senior kita, Pipit Senja. Kita merasa terketuk dengan semangat hidup Pipit Senja, yang tanpa putus asa terus berjuang; antara menulis dan kelainan darahnya. Dengan KDT, baragnkali untuk sesaat dia bisa menarik napas sejenak soal biaya cuci darahnya. Rencananya FBA tidak akan berhenti dengan KDT saja. Antologi cerpen terbaru berjudul”Lelaki Semesta” siap diluncurkan tahun ini. Royaltinya akan disumbangkan ke sastrawan asal Pontianak, Yussach Ananda. Insya Allah. Di sinilah; pengaragn, penerbit, dan pembaca harus saling bahu membahu menegakkan amar maruf nahi munkar. Dengan cerita-cerita Islami, saya pikir, kita bisa sama-sama menajamkan dakwah. 

Sekali lagi, saya tahu ini akan sangat menguras tenaga dan pikiran, serta waktu. Tapi, saya bahagia dan percaya, bahwa Allah akan melindungi saya. Bahwa Allah tahu niat saya ketika saya mulai mengetuk tust-tust keyboard komputer…….. Insya Allah…. *) dibacakan pada acara “MenggoreskanPena Menajamkan Dakwah”, Makasar, 31 Maret 2002

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: