KELUARGA PENGARANG

PANEN RAYA DI RUMAH DUNIA

Posted on: April 9, 2007

000_4674.jpgOleh Gola Gong

Setiap memasuki ujung tahun, di komplek tempat kami tinggal, setiap rumahnya selalu harum penuh bunga. Hampir rata-rata di setiap rumah selau ada pohon mangga. Pada Oktober pohon-pohon mangga itu berbunga. Memasuki Desember buah mangga bergelantungan, ranum minta dibelai. Begitu juga pohon jambu air dan rambutan. Saya merasa, jika pohon-pohon itu diperlakukan dengan baik, tentu mereka akan membalasnya dengan berbuah lebat. Dari pohon-pohon itu saya belajar, bahwa pohon itu tidak hanya sekedar jadi pelindung dari hawa panas dan penangkal debu jalanan. Tapi juga manfaat yang lain, mebreikan kenikmatan yang tiada
tara, yaitu anugrah kelezatan rasa dari buah-buah itu, yang menyehatkan tubuh serta pikiran kita. Kita tidak akan mungkin bisa menciptakan segala rasa dari aneka buah itu. Bahkan keharumannya.

***

Saya teringat ketika bersama istri saya – Tias Tatanka pada tahun 1998, memulai mengenalkan Rumah Dunia kepada orang-orang di sekitar tempat kami tinggal; Komplek Hegar Alam dan kampung Ciloang. Saya mencoba meniru filosofi pohon buah-buahan. Jika orang-orang menulis papan nama pemilik rumah dengan “Drs. Ardy Djatmika” atau “Drs. Wawan Setiawan”, kami mengambil cara berbeda. Kami pergi ke pasar dan memesan ke pengrajin nama tulisan dua kata saja: Rumah Dunia. Papan nama ini kami tempel di depan rumah. Orang-orang yang melintasi rumah kami akan membaca begitu. Beberapa menyangka, bahwa pemilik rumah kami bernama “Pak Rumah Dunia”. Itu kami ibaratkan sedang menanam biji bernama pohon Rumah Dunia. Dengan bismillah kami melakukannya. “Ya, Allah, jika ‘biji’ yang kami tanam ini akan membawa manfaat, maka tumbuhkanlah.” Kami tidak sekedar menanamnya saja. Tapi menyiramnya dengan air kecintaan. Air keikhlasan. Pohon benama rumah dunia itu pun tumbuh perlahan-lahan bersama kedua anak kami; Bela dan Abi.

Pada tahun 2001, kami berhasil membeli kebun seluas 500m persegi di halaman belakang rumah  mengundang anak-anak di sekitar kampung kami untuk datang ke Rumah Dunia. Kami menyebarkan liflet sederhana, fotokopian. Dengan program windows, saya membuat liflet. Tias memfotokopinya. Hanya kami berdua waktu itu. Dibantu Bella (4 th) dan Abi (3 th). Anak-anak kecil datang ke Rumah Dunia, tepatnya kebun di halaman belakang rumah kami. Di kebun ada pohon jambu batu dan istana mainan kedua anak kami. Selain itu, mereka kami jamu dengan jajanan kampung; pisang goreng dan permen. Syaratnya, mereka diharuskan berbicara di depan kawan-kawannya; memperkenalkan diri dan keluarganya. Setelah itu, kue-kue pun kami bagikan. Istana mainan pun kami buka untuk mereka. Pada awalnya Bella dan Abi keberatan kteika mainannya disimpan di istana mainan dan dipakai bermain oleh anak-anak kampung. Dengan kesabaran kami jelaskan kepada mereka, bahwa berbagi itu menyenangkan. Bahwa berbagi itu membahagiakan. Akhirnya mereka mengikuti apa yang kami lakukan. Dengan antusias mereka menjadi sukarelawan.

Setiap hari kami memikirkan acara-acara baru, agar anak-anak kampung yang datang ke Rumah Dunia selalu mendapatkan pengalaman baru dan merasa kerasan. Segala rencana itu kami bicarakan dengan Bella dan Abi. Mereka kami libatkan sejak awal. Misalnya, kami menyelingi acara bermain dengan lomba becerita. Hadiahnya permen, coklat, dan alat-alat tulis. Setelah itu, mereka kami bebaskan untuk bermain atau memanjat pohon jambu dan mengambil jambunya. Kami membiarkan kebun kami sebagai tempat bermain dan bergembira. Kami ingin bebagi kasih sayang juga dengan anak-anak kampung. Dalam Al-Fath ayat 29, kami begitu terkesan dengan janji Allah. Diceritakan di ayat itu Muhammad sebagai utusan Allah masih menyangangi musuh-musuhnya yang mendustakan Allah. Apalagi terhadap sesasama saudara dan seagama.

Pada waktu itu, kami belum memperkenalkan buku. Baru dua ketrampilan berbahasa hal yang kami perkenalkan; yaitu berbicara dan mendengar. Membaca dan menulis kami perkenalkan setelah 6 bulan berjalan. Itu pun ketika kami merasa yakin, bahwa mereka sudah merasa memiliki Rumah Dunia.

Setiap hari, anak-anak terus mengalir berdatangan ke Rumah Dunia. Kami merasa areal sekuas 500m persegi ini tidak memadai lagi. Kami membayangkan, jika saja kebun di depannya bisa kami beli, betapa akan semakin leluasa gerak-gerik anak-anak itu. Kami mencoba mendekati pemilik tanah iut; meminjamnya. Puji syukur, pemilik tanah iu tida keberatan. Kami dipersilahkan memakai tanahnya. Kami berjanji, jika punya uang, akan kami beli. Untuk sementara, kami meminjamnya dulu. Pangung dari bambu pun kami bikin. Anak-anak kami ajarkan teater da membaa puisi. Setiap akhir pekan, selalu ada pertunjukkan di panggng kecil itu. Setiap orang datang berkunjung, kami meminta aga didoakan. “Kami ingin membeli tanah ini, supaya Rumah Dunia luas, seribu meter persegi!”

***

Yang paling menyenangkan adalah ketika kedua pohon jambu batu panen. Mereka berebut memanjat, sehingga kami perlu mengatur. Semua anak mendapat giliran memanjat dan mengambil jambu. Sesekali kami mendengar orang-orang bergunjing, kenapa hal itu kami lakukan. Bagi kami, semua yang kami miliki hanyalah titipan dari Allah. Jika Allah berkehendak, semuanya bisa saja Dia ambil kembali. Hal lainnya, jika pepohonan itu bisa bicara, pasti mereka akan protes, kenapa kami hanya memanfaatkan karunia berupa kelezatan rasa buah hanya untuk diri kami sendiri? Jika begitu, betapa malunya kami. Bahkan binatang bernama sapi, yang setiap hari memakan rumput, dengan sangat ikhlas membiarkan manusia mengambil susunya. Kenapa kami tidak membebaskan saja orang-orang mengambil buahnya? Apalagi kami tidak merasa pernah menanam kedua pohon jambu itu. Tapi jika kita merujuk ke konsep zakat, anggap saja itu bagian dari zakat atau infak dan sedekah. Kami percaya tidak akan jatuh miskin hanya gara-gara mempersilahkan anak-anak kampung Ciloang menikmati panen pohon jambu batu.

Bahkan para orang tua di lingkungan kami pun berdatangan ke Rumah Dunia. Mereka meminta daun pisang untuk bungkus nasi uduk, daun katuk, daun sirih, daun jambu batu muda untuk anak-anak mereka yang sakit perut, dan daun salam. Saat mereka memanfaatkan pepohonan itu, kami mulai menanam pohon mangga, sukun, pepaya, sirsak, seri, dan lengkeng. Kami selalu meminta pada Allah, agar pohon-pohon ini ditumbuhkan dan kami akan berbagi pada siapa saja. Kami hanya perlu mengaturnya saja. Ah, kenapa harus takut. Bukankah jika diri kita bermanfaat bagi orang lain, kita pun akan merasakan hidup ini ada artinya? Untuk apa kita hidup, jika tidak untuk berguna bagi orang lain. Itulah. Bagi kami, menjadi berguna jauh lebih penting dari sekedar menjadi orang penting. Dan yang terpenting, kami selalu ingat akan janji Allah dalam
surat Al-Baqarah, ayat 261, yang mengatakan bahwa harta yang kita sumbangkan di jalan Allah diibaratkan menanam benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai dan setiap tangkainya membuahkan seratus butir. Subhallah. Siapa yang tidak tergiur dengan hadiah seperti ini?

Jika dianalogikan dengan kehidupan keseharian, hampir di setiap sudut yang terjangkau mata, kita dikepung oleh berbagai iklan dengan iming-iming hadiah atau pun bonus. Beli motor dapat mobil, begitu juga jika beli mobil dapat motor. Beli hand phone, bisa jaln-jalan ke luar negeri. Nah, kenapa kita tidak tertarik mermbagikan sedikit harta kita dengan bonus surga kelak?

***

Hidup terus bergulir. Kini di ujung tahun 2005. Pohon-pohon yang kami tanam di areal Rumah Dunia mulai berbunga dan berbuah. Anak-anak yang datang ke Rumah Dunia sudah tidak sabar ingin memetiknya. Kami memberitahu, bahwa yang paling baik adalah menikmati buah selagi matang. Beberapa anak ada yang diam-diam memetik buah yang masih kecil. Ketika kami memergokinya, anak itu kami suruh untuk meceritakan seperti apa rasa buah itu kepada teman-temannya. Kami juga mengingatkan, bahwa mengambil sesuatu yang bukan milik kita tanpa minta ijin, itu sama saja dengan mencuri. Pelan-pelan kami menanamkan akhlak atau etika.

Kami menimati kegembiraan kedua anak kami, yang bermain bersama anak-anak kampung. Apa yang kami punya, kami coba belajar berbagi. Kadang muncul godaan tidak ikhlas, tapi kami melawannya. Kami merasa yakin, bahwa apa yang kami tanam ini dari setiap tangkainya akan berbuah seratus butir, Jika pun tidak, kenapa harus kecewa? Bukankah menyaksikan anak-anak itu bermain dengan bahagia dan gembira di Rumah Dunia adalah sesuatu yang tak terukur nilainya? Sesuatu yang tidak bisa dihargai denan dollar Amerika sekalipun! Kebahagiaan dan kegembiraan anak-anak itu membuat kami bahagia. Membuat kami semangat untuk terus hidup.

Saya jadi teringat Imam Al Ghozali, yang menanyakan kepada murid-muridnya apa yang paling dekat dengan kita di dunia ini?
Para muridnya menjawab orang tua, guru, istri, anak, dan saudara, serta sahabat. Imam menjawab, semuanya benar. Tapi yang paling dekat dengan diri kita adalah mati.  Dari semua yang kita miliki ini; harta, jabatan, istri, anak, dan saudara yang mengasihi, mereka tidaklah berada sangat dekat dengan diri kita. Tapi justru mautlah yang berada dekat dengan kita. Hal itu  sudah tersurat di Ali Imran: 185, bahwa yang berjiwa akan mati. Disebutkan juga di ayat ini, bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan semu yang merintangi orang untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Jadi, untuk apa semua harta dan kenikmatan hidup yang kami miliki, jika kami mati? Semua tidak akan kami bawa mati.

Ternyata sebelum kami mati, Allah membuktikan janji-jajinya. Rezeki mengalir derah kepada saya. Tangkai-tangkai yang tumbuh dari tunas yang kami tanam, membuahkan panen masing-masing seratus butir. Kami berhasil membeli 500m persegi lagi, dimana di atasnya tumbuh 3 pohon arem, yang daun mudanya berkhasiat menyembuhkan demam panas pada anak-anak. Saya membayangkan duduk bersila di bawah naungan daun-daun pohon Arem, seperti Rabindranath Tagore lakukan di Santi Niketan, mendidik anak-anak yang haus akan ilmu pengetahuan. Di dalam otak saya tergambar, saya duduk membacakan puisi, prosa, atau dongeng seribu satu malam kepada anak-anak Ciloang.

Saat tanah itu berhasil kami beli, sehingga luas areal Rumah Dunia jadi 1000m persegi, hal yang kami lakukan adalah melepaskan kawat berduri yang melilit batang pohon mangga. Kami yakin, jika pohon mangga itu bisa berbicara, pasti dia meminta tolong pada kami. Betapa sakit tubuh ini dililit kawat berduri. Juga kami buang bebreapa benalu yang menggerogoti tubuhnya. Itulah sebabnya, kenapa pohon mangga itu tidak pernah berbuah. Dan alhamdulillah, tidak breapa lama, pohon mangga itu berbuah, walaupun tidak banyak.

Kini pohon sukun pun sudah berbuah. Kami selalu menggorengnya dan menghidangkannya kepada para volunteer atau siapa saja yang datang sambil ditemani teh panas. Gurih sekali. Bahkan kami tersenyum, ketika tetangga kami, Bik Piah, kami kirim 1 buah sukun, tiba-tiba di hari lain orang-orang sekampung berdatangan meminta jatah buah sukun. Kami berjanji, jika pohon sukun berbuah lebat, semua kebagian. Pohon sirsak juga sudah berbuah. Pohon pisang apalagi. Lengkeng saja yang belum bebuah.

Panen raya, begitulah kami menyebut. Sudah dua musim semua pohon di Rumah Dunia berbuah. Selain pohon jambu batu, pohon pepaya malah tiada henti berbuah. Ketika ada yang meminta untuk nge-rujak, kami persilahkan unutk mengambilnya sendiri. Kami selalu menanam pohon pepaya lagi di tempat yang lain, agar jika mati satu, masih ada pelapisnya. Terlebih ketika pohon pisang raja sereh berbuah, kami membagi-bagikan ke para tetangga.

Semua orang di tempat kami tinggal, merasakan panen raya kami. Begitu juga pohon mangga yang kami tanam. Kini sudah masuk ke panen kedua. Pada panen pertama, semua anak-anak yang datang ke Rumah Dunia mendapat bagian. Hampir setiap saat, para wanita kampung datang ke Rumah Dunia meminta daun pisang, daun sirih dan daun arem.

Itulah, Kawan. Kami ingin bebagi, bahwa jika semua makhluk Allah ini bisa berbicara, mereka pasti akan meminta pertanggungjawaban dari kita. Jika kita tidak memanfaatkannya menjadi sesuatu yang berguna, kami yakin mereka akan protes. Bagi kami, semua adalah milik Allah. Kita hnya ketitipan saja. Percayalah, suatu hari kelak, Allah akan mengambilnya dari kita. Maka, janganlah kita merasa memilikinya sendiri. Selalu ada bagian atau hak
oran lain dari setiap yang kita miliki; baik itu harta, pikiran, waktu, dan tenaga. Maka, janganlah ragu untuk selalu bebagi. Insya Allah, kita tidak akan jatuh miskin. Allah tidak akan pernah lupa dengan janji, bahwa jika kita membrei, maka milik kita akan dilipatgandakan. Itu teradi pada kami. Sampai hari ini, insya Allah, kami tidak pernah kekurangan. Walaupun itu bukan berarti kami hidup dalam gelimang harta.

Percayalah, di Rumah Dunia kami selalu merasakan panen raya. Panen apa saja. Panen buah, panen sahabat, panen rasa berbagi, panen hati, panen kebaikan, panen kebersamaan, dan tentu panen pahala. Insya Allah.

***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: