KELUARGA PENGARANG

PAK ADIL MENCARI KEADILAN

Posted on: April 9, 2007

sepeda-sodikh.jpgCerpen Oleh Gola Gong 

Pak Adil menuntun sepeda gunung tuanya di gang perkampungan. Tangan kanannya memegangi kotak besar yang diikatkan di boncengan dan tangan kirinya mencengkram stang sepeda. Di kotak besar itulah selama 7 tahun hidup diri, anak, serta istrinya bergantung.

Di sisi kanannya tembok tinggi pembatas sebuah perusahaan besar, yang dibatasi oleh selokan selebar 2 meter. Jika hujan lebat, kampungnya akan kebanjiran setinggi lutut. Kampungnya persis terkurung di tengah-tengah perkantoran dan pertokoan. Untuk mencapai jalan raya, pihak menejemen pertokoan membuatkan pintu masuk, yang dibuka pada jam 6 pagi dan ditutup jam 10 malam. Jika pintu ini ditutup, mereka harus memutar sejauh 2 kilometer.Pak Adil mengangkat batang sepeda. Dia meniti hati-hati pinggiran selokan. Gang selebar 1 meter diapit tembok tinggi milik rumah sakit swasta di sisi kiri dan di selokan selebar dua meter di kanannya, yang langsung berhubungan dengan tembok perusahaan besar. Hanya satu meter mereka memberi jalan bagi penduduk kampung berkehidupan, menuju jalan raya, dimana rezeki bersliweran.Dia menghentikan langkahnya. Sepedanya tertahan.

Ada sekitar 20 anak tangga untuk mencapai pintu tembus. Dia menjinjing sepedanya dengan susah payah, walaupun ini sudah dijalaninya sejak 7 tahun yang lalu. Sejak perusahaan tempatnya bekerja bangkrut akibat terhempas badai moneter. Dari uang pesangon yang tak seberapa sebagai office boy, dia bisa memulai usahnya ini.Napasnya tersengal-sengal. Kedua tangannya pega-pegal. Mungkin dirinya sudah semakin tua. Dia menahan beban sepedanya agar tak menggelinding. Aneh, pintu masih tertutup. Dia merasa yakin kalau sekarang sudah saatnya pintu dibuka. Tadi dari rumah dia berangkat jam 05.45 WIB. Jalan pun dipelankan, agar begitu sampai di sini pas pintu dibuka. Tapi, kemana Pak Soleh, satpam yang biasa membukakan pintu?Dia dengan sabar menunggu. Tapi kedua lututnya gemetar. Kepalanya pusing. Subuh tadi, saat istrinya memasukan mie ayam, tahu, telor dadar bakwan,
tempe goreng, sambel kentang, dan tahu semur ke dalam plastik, memperingatkannya agar jangan berjualan.
“Wajah Bapak pucet,” kata istrinya.“Nggak, nggak apa-apa, Bu…”“Berhenti dulu ngerokok sama kopinya…”Pak Adil mengangguk. Pagi tadi, untuk yang pertama kalinya, dia tidak menghirup kopi dan merokok. Dia mengikuti saran istrinya; meminum teh manis panas dan bubur yang diberi kecap serta irisan telor dadar. “Perasan Ibu, kok, nggak enak ya, Pak…” “Bapak nggak usah jualan sarapan dulu pagi ini,” kata Ikhlas, putra pertamanya. “Itu artinya Bapak harus hati-hati, Bu…”Bahkan kedua anaknya yang sudah memberinya cucu, sering melarangnya untuk melakukan pekerjaannya.  “Kasihan para pelanggan Bapak. Nanti mereka susah mencari sarapan.””Bapak, nggak usah  mikir begitu. Kalau Bapak berhenti jualan, nanti akan ada orang lain yang menggantikan Bapak. Udahlah, Bapak sama Ibu istirahat saja. Seneng-seneng sama cucu. Gaji Ikhlas di bank lumayanlah buat bantu-bantu Bapak dan Ibu,” Ikhlas, teller di bank swasta, meyakinkannya. Dia menikahi pramuniaga dan memberinya seorang cucu. Mereka kini tinggal di perumahan kelas menengah tipe 36 di pinggiran
Jakarta.
“Iya, Pak. Apa yang Bang Ikhlas omongin itu bener. Bapak berhenti aja. Mas Romli malah mengajak Bapak dan Ibu tinggal bersama kami,” kali ini putrinya, Siti Fatimah, memberi jalan keluar.Tapi, dia tetap bersikeras untuk terus melakukan pekerjaan ini. Baginya, hidup tanpa melakukan pekerjaan sangatlah menakutkan. Harga dirinya sebagai lelaki, suami, ayah, dan kakek seolah tercampakan. Darimana nati aku bisa membelikan mainan kepda kedua cucuku? Bagaimana nanti rupa wajahku, jika kedua cucuku minta piknik ke Ancol? Berjualn sarapan ini tidak esdikit keuntungannya. Dari modal 300 ribu Rupiah, aku bisa menantongi keuntungan 100 ribu rupiah. Dalam sebulan, penghasilanku bisa mengalahkan pegawai negeri golongan 2! Kerjanya juga tidak berat. Aku Cuma mangkal di tempat parkir. Orang-orang yang tak sempat sarapan datang membeli dan membawanya ke kantornya. Hnya begitu saja, kok, repot! Aku lelaki pekerja. Aku lelaki tangguh, yang terbiasa memberi makan anak dan istri. Bagiku, bekerja itu adalah ibadah.Tapi aneh, kok, pintu masih tertutup? Dia memberi salam. Suaranya dikeraskan. Berulang-ulang, tak ada yang menjawab salamnya. Aneh. Dia mendongak. Dia melihat ujung sepatu nongol dari menara ronda.“Kenapa, Pak Adil?” ada suara orang di belakangnya.Pak Adil menoleh. “Pintunya masih ditutup, dik,” jawabnya. Sudah ada 3 orang di belakangnya. Bahkan beberapa lagi muncul di ujung gang. “Saya tidak tahu, dik,” jawabnya. “Tapi, itu….,” dia menunjuk ke menara ronda. “Satpamnya masih tidur.”“Lempar aja!”“Udah jam enam seperempat, nih!”“Keburu macet lagi!”“Wah, kok jadi gini, sih!”“Kenapa, ya?”“Apa ada peraturan baru?”“Lho, enak aja! Ini ‘
kan hak kita!”
“Iya! Mereka harus bayar ongkos sosial sama kita.”“Udah, teriakin aja!”“Oiiiiiii, buka pintu!”“Buka pintunyaaaa!”“Bukaaaa!”Seseorang merangsek ke depan. Pak Adil oleng. Dia mencengkram kuat sepedanya. DUR, DUUR, DUUUUR!”Pintu digedor-gedor.Matahari mulai menaik.Satpam di menara ronda terbangun. Dia mengucek-ucek matanya; melihat ke luar pagar.DUR, DUUUUR, DUUUUR!“Hey, hey!
Ada apa ini!” teriak Satpam di menara ronda.
Lho, bukan Pak Soleh? Ke mana dia? Pak Adil merasa heran. Kepala terasa pusing lagi.“Pala lu peang! Cepet buka pintu!” teriak warga.“Matamu sempal! Nyuruh orang yang sopan, dong!” Satpam itu baslas menghardik.“Heh, lu yang sempal!”“Cepet buka pintunya!”“Udah setengah tujuh, nih!”“Saya telat kerja, nih!”Satpam pun bergegas turun dari menara. Dia menuju pintu tembus. Kini dia berdiri di seberang Pak Adil dan para warga. Hanya dibatasin oleh pintu besi berjeruji. Dia berkacak pinggang. Martanya yagn masih belekan dibuka lebar-lebar; membelalak.“Pak Soleh, ke mana? Sakit?” tanya Pak Adil.“Dia dipecat! Nggak becus kerjanya!”Pak Adil makin pening.“Siapa dia?”“Satpam baru ‘kali!”“Sialan! Mentang-mentang baru, mau mainin kita!”“Minta uang rokok kali!”“Udah, kasih, kasih!”“Wah, duitku pas-pasan buat angkot, nih!”“Pak Adil, Pak Adil!”“Iya! Kasih dia sarapan, Pak!”Pak Adil setuju. Tangannya dengan cepat merogoh kotak besar di jok belakang sepedanya. Kini posisinya makin turun ke anak tangga di tengah. Beberapa warga sudah mengambil alih posisinya. Dia mengambil nasi bungkus, telor dadar, dan sambel kentang. Lalu memasukannya ke plastik hitam. Dadanya terasa berdebur kencang.“Kurang, Pak Adil! Kasih bakwannya, dong!” tegur seseorang, yang memakai seragam office boy super market.“Pelit amat, sih!”“Iya, iya,” Pak Adil mengambil bakwan. Hatinya merasa tak enak. Bungkusan berisi sarapan itu disodorkan ke warga di depannya. Secara estafet paket sarapan itu sampai di depan pintu tembus. “Apa ini?” si Sastpam menatap curiga.“Ayo, bukain! Ini sarapan buat Bapak!”“Heh, enak aja! Lu pikir gue nggak sanggup beli, apa!”“Ya, terserah! Sekarang, cepet buka!”“Nggak bisa! Pemilik pertokoan sudah mengeluarkan keputusan, bahwa sejak hari ini, pintu tidak boleh dibuka lagi!”“Lho, kok bisa begitu?”“Ya, bisa saja!”“Tapi, kenapa?”“Barang-barang di toko banyak yang hilang! Malingnya diperkirakan kabur lewat sini!”“Wah, nggak bisa begitu, dong!”“Kita yang nggak tau apa-apa, kok, dibawa-bawa!”“Kacau, deh!”“Bisa-bisa tiap hari telat terus berangkat kerja!”“Kali ini, buka dulu pintunya, Pak. Sudah tanggung, nih…”“Iya, besok sih, gimana nanti.”“Mustinya disosialisasikan dulu, dong!”“Nggak, nggak ada tawar menawar lagi! Malingnya udah diciriin dari kampung sini!”“Heh, sialan lu! Jangan asal bacot lu!”“Lu pikir, malingnya dari kampung kita, apa?!”Beberapa warga berdatangan lagi. Mereka merangsek ke depan, tidak sabar ingin melihat apa yang terjadi. Mereka merangsek terus ke depan dan menggedor-gedor lagi pintu besi, semakin keras, semakin keras. Anak tangga yagn sempit terasa penap dan sesak. Dorong-dorongan, sikut-sikutan…Pad Adil makin kebawah. Beberapa orang naik lagi. Tubuh Pak Adil tersenggol. Dia oleng. Sepedanya terlepas. Tubuhnya jumpalitan, bersenggolan dengan batang sepeda. Akhirnya sepeda dan tubuh Pak Adil tersangkut-paut, mencebur ke selokan!
Para warga tidak peduli pada Pak Adil. Mereka terus saja merangsek. Menendang pintu, menggerdor-gedor, berteriak-teriak, memaki-maki…Semakin banyak orang yang datang.Semakin keras.Pak Adil masih berkubang di selokan. Dia merasa tulang punggungnya remuk. Dia bangkit. Barang jualannya berupa nasi bungus, lauk dan pauk untuk sarapan tak berguna lagi. Tubuhnya belepotan lumpur selokan yang bau.DOR, DOR, DOR!Orang-orang panik berlarian.
Ada yang menggelinding dan tercebur ke selokan. Tapi mereka terus berlarian dan mnghindari hantaman timah panas.
Pak Adil masih di selokan, berusaha untuk menaikan sepedanya. Pintu terbuka. Tiga orang Satpam mengacung-acungkan pistolnya ke udara.“Ayo, ayo! Mau mampus kowe!”“Udah dibilagnin, nggak bisa dibuka!”“Sini, sini! Tak pateni sira!”Ketiga Satpam itu berdiri di anak tangga, memanjang ke atas. Mereka tertawa-tawa puas, melihat oragn-orang lintang-pukang. Pistol mereka main-mainkan. Ujung larasnya yang mengepul, mereka tiup dengan lagak koboy kesiangan.Terdengar suara kecipak air.Pak Adil sedang menggerakan sepedanya di selokan.Ketiga Satpam itu mencari-cari asal suara. Mata mereka berubah merah menyala, saat melihat Pak Adil berkubang lumpur di selokan. “Dia provokatornya!”“Iya! Dia tadi mau nyogok saya dengan sarapannya!”“Hajar aja!”Tanpa ada yang mengkomando, mereka melompat ke selokan dan menghajar Pak Adil hingga pingsan.***     Ikhlas dan Siti Fatimah menuntun ibu mereka ke ruang gawat darurat. Air mata wanita tua itu masih saja mengalir.“Kenapa Bapakmu? Kok, bisa nelangsa seperti itu?”“Itu, Bu, para warga mengamuk, karena pintu tembusnya ditutup. Nggak bisa dibuka. Bapak dituduh provokatornya.”“Bapakmu… provokator?”“Iya”“Provokator, apa?”“Itu…, yang menyuruh warga supaya mengamuk.”“Duh, gusti!  Bapakmu itu rajin ngaji, kok, ditudung yang kayak gitu…”“Bahkan Bapak dituduh mau nyuap petugas segala. Bukti nasi sarapannya ada di mereka.”“Ya, Allah…”“Ikhlas bilang juga apa, Bu,” Ikhlas merasa kesal campur marah, “Bapak nggak usah jualan lagi! Nggak nurut, sih!”“Udah, sih, Bang! Ibu lagi sedih gitu, malah marah-marah lagi. Ini namanya takdir!”Mereka hanya bisa menatap  orang yang mereka cintai dari kejauhan. Tubuhnya terbujur tak berdaya. Slang infus menyelusup ke kedua lubang hidungnya. Denyut jantungnya terbaca di lyar monitor; naik dan turun dengan lemah.Sementara itu di tempat yang lain, beberapa kuli sedang mengaduk semen dan pasir. Bata-bata ditumpuk diatas adonan, menutupi jalan tembus. 
***

Rumah Dunia, September 2004

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: