KELUARGA PENGARANG

MENGGENGGAM DUNIA

Posted on: April 9, 2007

md-besar.jpgDAR! MIZAN BANDUNG- RUMAH DUNIAMempersembahkan Buku Terbaru Karya Gola Gong:“MENGGENGGAM DUNIA” (Catatan Sang Avonturir)  Rumah Dunia adalah komunitas nirlaba, sebagai madrasah kebudayaanyang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siapa pun yang berkehendak membangun manusia dan masyarakat yang cerdas, mandiri, kritis, demokratis dan berbahagia.  Komunitas ini bekerja pada bidang pendidikan, pengembangan jaringan informasi, penerbitan, dokumentasi, dan ekspresi budaya. Buka dari Senin – Jum’at pukul 13.00-17.00pm, dan Minggu pukul 09.00 – 17.00pm.  

Satu hal penting, semua kegiatan di Rumah Dunia; wisata teater, menggambar, menulis, dongeng, baca, study, dan film gratis. Semua orang, siapa saja, boleh datang dan belajar. Semua orang, siapa saja, boleh datang dan ikut membantu. Dan menulis buku adalah cara Rumah Dunia mengumpulkan dana. Beberapa antologi cerpen kami diterbitkan; Kacamarta Sidik (Senayan Abadi, 2004), Masih Ada Cinta di Senja Itu (Senayan Abadi, 2005), Padi Memerah (MU3, 2005), dan Dongeng Sebelum Tidur (Gramedia Pustaka Utama, 2005). Lima puluh persen dari royalti pengarang disumbangkan ke Rumah Dunia. Bahkan 7 Pengarang (mantan) Remaja Gramedia, menyumbangkan juga semua royalti antologi cerpen “Kupu-kupu Tak Berkepak” (Gramedia Pustaka Utama, 2004) ke Rumah Dunia. Megg Cabot dengan “Project Princess Diary” (Gramedia Pustaka utama, 2004) tidak mau ketinggalan ikut menyumbangkan semua royaltinya.  Buku terbaru Gola Gong; Menggenggam Dunia: Catatan Sang Avonturir (Dar! Mizan, 2006) berisikan tentang pergulatan Gola Gong di masa kecil dengan buku. Bagaimana arah hidupnya yang berubah ketika harus kehilangan tangan kirinya! Bagaimana buku bisa membimbingnya menemukan jalan estapak menuju mata air! Buku ini layak untuk para remaja yang butuh motivasi hidup dan para orang tua yang memiliki anak cacat.  

Dengar apa yang dikatakan Gola Gong di “Menggenggam Dunia”:  Aku  berdiri di depan sumur itu. Berpamitan. Tangan kiriku yang tinggal sebatas sikut kuasongkan ke sumur. “Selamat tinggal, tangan kiriku! Aku pergi sekarang. Aku tak akan pernah kembali lagi ke sini!” Tibalah saatnya kami pulang ke Serang. Sepanjang perjalanan naik bus; Grogol – Daan mogot – Tangerang – Balaraja – Serang, aku memandang ke luar lewat jendela. Banyak hal aku lihat. Pohon-pohon seolah berlarian dan lio-loi, tempat pembakaran bata-genteng, bertebaran di persawahan yang kering. Bapak dengan sabar menjelaskan semua yang ingin aku tahu, yang banyak aku lihat di sepanjang perjalanan. Aku tahu, Bapak dan Emak cemas memikirkanku. Mereka tak henti-hentinya menguatkan hatiku, bahwa semua akan baik-baik saja. Di bawah jok yang aku duduki, ada satu tas berisi buku-buku cerita dan komik. Itu adalah harta karunku. Di saku celana pendekku, ada seplastik kelereng! Itu kelak akan jadi sarana penghapus gap psikologis antara aku yang sudah berlengan satu dengan kawan-kawan kecilku yang berlengan dua. Selepas siang, kami tiba di mulut jalan yang menuju komplek tempat tinggal kami di Jalan Yusuf Martadilaga (Yumaga). Hatiku berdebar-debar. Semua penghuni rumah berdiri di depan pintu, melihat dengan ekor mata mereka, bagaimana sosok si ‘jendral kancil’ sekarang. Beberapa anak berlari-lari sambil berteriak, “Heri pulang! Heri pulang!” Kakak dan adikku berdiri menyambutku. Di gang komplek, kawan-kawanku; Ririn, Wawan, Riri, Endang, Adang, Ato, dan Ateng,  sedang asik main kelereng. Mereka serempak menghentikan kegiatan. Mereka memperhatikanku. Tangan kiriku yang sebatas sikut dan masih dibebat perban. Mataku melirik ke kelereng-kelereng di dalam lingkaran. Emak dan Bapak tersenyum; mengirimkan kekuatannya lewat bahasa mata. “Her! Bisa maen kelereng, nggak?” tanya mereka.“Bisa!” tegas jawabku.“Ayo, maen!” Aku meminta persetujuan Bapak dan Enak. Mereka mengangguk. Aku langsung bergabung. Emak dan bapak pulang ke rumah. Walau pun aku tidak jadi pemain kelereng yang hebat, tapi aku sanggup mengimbangi mereka. Aku berbaur. Aku tertawa. Beberapa guruku, yang ternyata menunggu kepulanganku di rumah, menemuki. Aku salami mereka. Beberapa orang guru ada yang menangis. Tapi, mereka menyuruhku untuk meneruskan permainan. Ketika aku dewasa, sesuai dengan perkembangan usia, apa-apa yang Bapak dan Emak lakukan saat di CBZ, Jakarta, bagiku itu adalah bagian dari pelajaran menumbuhkembangkan rasa percaya diri. Aku -– anak mereka —- sudah berbeda, jadi anak berlengan satu. Jadi orang yang berbeda di iklim masyarakat kita yang masih tradisional saat itu, bahwa mempunyai anak cacat seolah membawa kutukan, memang tidak mudah. Dipersiapkannya aku dengan cara mereka. Diperkenalkannya aku pada hal-hal baru, sehingga aku jadi terbuka pada segala informasi. Pada moment main kelereng itu, kelihatannya sepele. Tapi justru itulah momen yang paling menentukan. Andai saja Bapak tidak mengajariku main kelereng di CBZ dan saat kepulangan itu, aku menjawab ajakan kawan-kawan kecilku dengan, “Aku nggak bisa main kelereng!”, aku yakin, pada saat ini aku akan jadi orang kalah. Aku akan jadi anak cacat, yang terus meratapi nasib dan mengutuk Tuhan, “Engkau sudah tidak adil padaku!” Aku justru tumbuh jadi anak yang bergembira. Pada akhirnya, aku hanya merasa seperti kehilangan beberapa kilo daging saja. Peristiwa main kelereng itu adalah satu lompatan besar dalam hal bagaimana caranya mempersiapkan seorang anak cacat saat berinteraksi dengan lingkungan pergaulan sekitarnya. Aku merasa bangga pada Bapak dan Emak, yang mencemplungkan aku pada metode “learning by doing” ini. Dan hari-hari pun bergulir seperti yang mereka rencanakan. Harta karunku; buku-buku cerita dan komik, serta pengalaman ajaib di lift serta eskalator, ternyata membuat lupa kawan-kawan kecilku, bahwa aku berlengan satu! Hampir di setiap pulang sekolah, koleksi buku-buku cerita dan komikku yang satu almari, selalu diserbu kawan-kawan sekolahku. Bahkan kawan-kawan kakak perempuanku juga. Mereka bergeletakan di teras atau di halaman depan rumahku. Dan aku selalu berada di tengah-tengah mereka. “Ada sebuah kotak ajaib,” ceritaku pada kawan-kawanku, yang mendengarkan denga takjub, “dimana saat aku masuk berada di bawah. Tapi, beberapa saat kemudian, aku sudah berada di lantai atas sebuah gedung bertingkat. Tanpa perlu capek-capek menaiki tangga…”Atau cerita ajaib yang lain, “Bayangkan! Aku diam saja, tapi tangga itu bergerak, membawaku ke lantai dua…!” 

***
Juga bacalah beberaparespon dari orang-orang:  “Cermin kehidupan! Itulah kesan kami ketika menerima naskah ini untuk dimuat secara serial di MATABACA. Karena itu, rubrik untuk serial ini pun kami beri nama Cermin. Membaca kisah-kisahnya laksana mengingat kembali perjalanan hidup yang telah lalu. Tapi, dari sanalah kita bercermin untuk terus berupaya meningkatkan kualitas hidup di masa mendatang. Buku ini seolah menyadarkan kita untuk tetap semangat menjalani hidup yang tidak akan pernah kita tahu ujung akhirnya.” (Majalah MATABACA)  

“Saya sudah banyak belajar tentang parenting (keorangtuaan) dan motivasi. Tapi begitu membaca buku ini, terasa sekali betapa sedikitnya yang telah saya ketahui. Banyak hal yang saya dapatkan. Tentang bapaknya yang membeli sekantong kelereng, saya menakjubi, mengambil pelajaran berharga dan mendapat kekayaan spiritual. Tentang Gola Gong melewati masa kecil hingga menjemput sukses dengan satu tangan, saya seperti menemukan buku hidup motivasi yang tak pernah kering. Begitu menggugah.” (Muhammad Fauzil Adhim, penulis buku-buku best seller)  “Vocare! Ketika suara hati memanggil, ia akan jadi energi penggerak bagi seseorang untuk melakukan langkah yang paling berharga dalam hidupnya – bagi diri, orang di sekelililing, serta masyarakat luas. Gola Gong yang saya kenal menggenggam buku untuk jembatan suara hati. Dilahirkan dari keluarga pendidik, membuat Gola Gong terbiasa berkoalisi dengan hati nurani. Menggunakan metode ikhlas pengenyang kognitif anak bangsa. Ia memulainya di ranah Banten. Sebuah lokasi dimana ia berasal serta meletakkan hati nuraninya di
sana. Suara jiwa Gola Gong adalah suara isak Banten. Melekat kuat bersama generasi penerus bangsa yang haus ilmu pengetahuan dunia dan akherat. Gola Gong adalah inspirasi. Allah memberkahinya. Maju terus menjadi kekasih Allah. Allahhu Akbar. Merdeka.” (Marissa Haque Fawzi, SH, Mhum (Anggota DPR RI, 2004-2009, Komisi 4/Pembuat Film/Pencintabuku/aktivis Lingkungan Hidup)
 

***  Jika rekan-rekan berwisata ke toko buku, cobalah tengok di rak-rak. Ingatlah pada “Menggenggam Dunia”. Ingatlah pada tawa anak-anak di seluruh dunia. Selamat membaca.  Salam dari Rumah DuniaMaret 2006

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: