KELUARGA PENGARANG

MENGGALI IMAJINASI DAN KONFLIK [3]

Posted on: April 9, 2007

jawara.jpgOleh Gola Gong Sekarang tahun sudah berganti. Berarti hari baru, semangat baru akan menghiasi lembaran-lembaran kertas putih kita. Begitu juga dengan semangat menulis kita. Gagal di tahun 2005, bangkit dan terus mencoba lagi. Thomas Alfa edison saja tidak pernah menyerah, sampai harus melakukan 9000 kali percobaan sebelum akhirnya listrik ditemukan. Sekarang, ilmuwan lain sekaliber Albert Enstein menymangati kita, ”Ilmu pengetahuan itu ada batasnya, tapi imajinasi tidak.”.  

SINOPSISNah, begitu juga kita. Imajinasi yang kita miliki harus terus dirangsang.Lalu, bagaimana menggalinya. Begini, ya. Kita mulai dengan ide yang sudah kita dapat. Misalnya, saya mendapatkan ide menulis saat membeli sarapan bungkus. Hampir setiap pagi saya membelinya. Lelaki tua, sepeda tua, gedung-gedung bertingkat yang  menghimpit, selokan besar, tembok mengungkung, dan pintu kecil yang menghubungkan perkampungan dengan jalan raya. Apa yang harus saya tulis? Bagaimana saya memulainya?  Setelah segala prosedur saya tempuh; riset pustaka dan lapangan (wawancara dan observasi), saya memulainya dengan mengepakkan saya-sayap imajinasi setinggi mungkin. Melayang-layang seperti tak berbatas, tak berujung. Memulai dengan who (siapa lelaki tua bernama Pak Adil), where (tempat parkir di gedung perkatoran), what (pintu penghubung ditutup, karena banyak pencuri berkeliaran), when (pagi hari saat orang-orang breangkat kerja) why (huru-hara dan Pak Adil disangka provokator), dan how (Pak Adil dipukuli satpam) Ini bisa jadi modal untuk membuat sinopsis awal.  

Misalnya: Pak Adil, penjual sarapan nasi bungkus di gedung perkantoran, bernasib malang. Dia menjadi korban pemukulan satpam saat terjadi huru-hara warga yang memrotes, karena pintu penghubung ditutup. Alasan dari pemilik gedung perkantoran, banyak maling berkeliaran.  GALILihatlah. Itu sinopsis awal. Sederhana, tidak neko-neko.Imajinasi saya mungkin baru dalam kecepatan 10 Km/jam. Belum ditambah. Tapi kadang muncul persoalan klasik, seperti sering terjadi pada para (calon) penulis pemula dan juga anak-anak di kelas menulis Rumah Dunia, ”Cerita saya datar, nggak ada konfliknya.Gimana, dong?”  

Sekali lagi, ingat apa kata si jenius penemu teori relativitas itu, ”… imajinasi tak ada batasnya!” Ayo, kalian harus berkonsentrasi untuk mengembangkan imajinasi. Ada yang dengan cara merenung di kamar sambil mendengarkan musik, di pantai, di gunung, di perpustakaan, atau…. dimana saja, terserah kalian. Yang jelas, jangan terlalu lama bengong ngoong.., membuang waktu dan enerji saja. Ayolah kita menggalinya satu persatu. Ingat, modal dasar sebagai pengarang, apakah itu pemula atau bukan, harus selalu memulai hari baru dengan pertanyaan. Karena dengan bertanya, kita jadi banyak tahu. Sedikit bertanya, jadi sok tahu.  Oke, kita mulai dari who; Pak Adil si penjual nasi bungkus. Siapakah dia? Punya istri? Bagaimana hubungannya? Punya anak? Berapa? Harmoniskah? Cukupkah penghasilannya sebagai penjual sarapan nasi bungkus? Bisakah dia menyekolahkan anak-anaknya? Berapa umurnya? Bagaimana reaksi anak-anak dan istrinya dengan profesinya? Banyak yang bisa digali dari (sekedar) tokoh Pak Adil saja. Terbuka banyak peluang konflik. Tanpa sadar, dibantu dengan imajinasi kita menemukan konflik, yang selama ini (entah) sembunyi dimana.  

Satu-satu, ya. Kita mulai menggali konflik antara Pak Adil dan istrinya. Bisa dengan deskripsi: Pak Adil merasa kesal, karena istrinya melarang pergi berjualan sarapan nasi bugkus, pekerjaan yang selalu dikerjakannya setiap pagi dan berlangsung sejak dirinya masih membujang. Itu hampir 30 tahun lalu. Tiba-tiba saja, pagi ini, istrinya melarangnya pergi, hanya karena dirinya batuk-batuk?  Contoh di atas bisa juga disebut konflik batin atau psikologis. Tak terucapkan. Memang terasa tidak dinamis. Pembaca terbatasi imajinasinya. Tapi, tidak apa. Namanya juga sedang berlatih menulis.  

Bagaimana? Gampang, ya. Nanti dinomor depan, menggali konflik lewat dialog, ya! Lebih dinamis tentu. Ingat, hari baru, semangat baru! Tetap semangat menulis! ***  Rumah Dunia, 30 Desember 2005*) Dimuat di rubrik “Bengkel Cerpen Annida”, Januari 2006 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: