KELUARGA PENGARANG

MENAKAR MATA HATI

Posted on: April 9, 2007

Oleh: Tias Tatanka 

            Semenjak menikah, dunia saya berubah. Saya merasa mendapat sebuah singgasana yang mempunyai wilayah begitu luas: ibu rumah tangga. Ini memang keputusan saya, untuk bekerja di rumah. Atau tepatnya mencari pekerjaan yang dapat saya lakukan di rumah. Alhamdulillah, saya merasa punya bekal yang cukup: kemampuan menulis.             Akhirnya mengalirlah saya di rumah, berenang di antara rutinitas rumah tangga dan kesenangan pribadi (membaca dan menulis). Benar-benar waktu saya lebih banyak tercurah di rumah. Tapi entah kenapa, saya tak pernah merasa ‘mentok’ pada batas-batas dinding atau pilarnya. Pada kata-kata saya menemukan kebebasan hidup.  Buku koleksi suami saya amat banyak dan beragam, bahkan ada beberapa buku ‘langka’ yang terlalu sulit  untuk saya mencarinya. Misalnya tetralogi karya Pramudya Ananta Toer. Sejak masih gadis saya mencari-cari buku itu, tapi seolah tak ada yang mau membicarakannya. Suami saya juga mereferensikan beberapa novel yang menurutnya pantas saya baca, termasuk novel Wanita milik Paul Wellman. Dari
sana saya bercermin tentang kekuatan seorang perempuan.
Semua bacaan itu mengisi benak saya dan beberapa menempati tempat khusus dalam hati. Buku Sejarah Muhammad karya Haikal termasuk salah satu yang saya sukai, sering membuat kerinduan pada sosok Rasulullah. Diam-diam saya menginginkan bertemu beliau dalam mimpi. Betapa kecintaan saya pada buku membuat teritorial saya sebagai ibu rumah tangga terasa amat luas. Buku-buku membuat saya bisa menembus batas dinding dan pilar, mengasah nurani dan menakar mata hati. Seringkali sebuah bacaan menjadi renungan yang dalam, dan jika sesuai dengan saya, maka saya petik sebagai pengalaman, seolah saya sendirilah yang menghadapi persoalan tokoh dalam tulisan itu.  

 

EMBRIO SEBUAH DUNIALalu, muncul kekuatan untuk membagikan pengalaman itu pada orang lain, termasuk anak-anak kecil yang sering main ke rumah. Biasanya mereka datang untuk sekedar bermain dan berbincang dengan saya dan anak saya. Waktu itu kami baru dikaruniai seorang anak perempuan, Bella. Ketika waktu berlalu hanya untuk berbincang dan bercanda, saya sodorkan ke anak-anak itu koleksi bacaan.
Ada dua hal yang membekas: anak-anak komplek terlihat lebih gesit dan semangat melihat buku, dan tentunya ini membahagiakan saya. Tetapi hal berbeda ditunjukkan anak-anak kampung yang juga sering datang berkunjung: reaksi mereka melihat buku bacaan begitu lambat. Mereka hanya tertarik membuka-buka tanpa membaca! Padahal, buku-buku itu jarang ditemui di toko buku di
kota kami. Suami saya memburu dan mengoleksinya di beberapa pameran buku di
Jakarta. Tapi anak-anak kampung itu menganggap seolah tak penting apa yang tertera di dalam buku!
Dalam kemirisan dan keheranan, saya ceritakan hal itu pada suami. Hingga semangat kami berkobar-kobar untuk mewujudkan cita-cita lama: mendirikan sebuah perpustakaan. Saya sendiri sudah tidak sabar untuk segera menyulap ruang tamu menjadi perpustakaan kecil, dengan koleksi buku bacaan anak kami dan beberapa buku remaja. Saya juga sudah membayangkan setiap bulan memburu buku-buku untuk menambah koleksi.Tapi suami saya berkata : jangan terburu-buru, ajak saja terus anak-anak itu untuk membaca, perkenalkan mereka dengan buku.  Semula saya malas juga, terutama karena kepada anak-anak kampung, saya harus ekstra keras menjelaskan sebuah cerita kaya HC Andersen, dibanding jika saya bercerita pada anak-anak komplek. Bagi anak-anak kampung Ciloang itu, HC Andersen adalah pembual yang menceritakan hal tak masuk akal. Herannya mereka tetap datang, malah mengajak teman-teman lain.Kadang saya segan dan malas juga, tapi kembali teringat, suami telah menitipkan amanatnya. Maka, meski sesekali terbersit keinginan untuk menyuruh mereka membaca sendiri, saya tetap membacakan buku untuk anak-anak itu, tak peduli berapa orang yang datang berkunjung. Dan adakalanya mereka memutuskan pulang sebelum cerita usai, padahal saya telah begitu ekspresif dengan cerita yang seru,  membuat saya seperti dicampakkan. Berbeda dengan anak kami, Bella, yang seringkali minta dibacakan ulang sebuah buku, padahal baru saja selesai diceritakan. Hal-hal yang terjadi pada kegiatan itu selalu saya ceritakan pada suami saya tiap ia pulang kerja. Sesekali ia berterima kasih untuk kecerewetan saya, karena dari cerita itu semangatnya kembali tumbuh setelah lelah bekerja. Diam-diam ia juga menyimpan keinginan yang terbendung: membuat perpustakaan.Perlahan tanpa saya sadari, kegiatan bercerita itu menjadi kegiatan yang menyenangkan, bahkan membahagiakan. Saya pun tak lagi sedih saat harus berhenti bercerita di tengah jalan, atau ada anak yang dengan ekspresif menyangkal sebuah dongeng. Misalnya saat saya bercerita tentang Hansel dan Gretel.“Bu, dongengnya aneh. Nggak mungkin! Masak ada rumah kueh!” seorang anak mengomentari cerita Hansel dan Gretel.“Namanya juga dongeng,” kata saya memaklumi. Wilayah khayal anak-anak kampung Ciloang memang tidak begitu luas, berkisar dongeng rakyat yang mulai tergeser kartun di televisiHal ini amat berbeda pada Bella. Saat itu hampir tiap malam sebelum tidur ia minta dongeng Hansel dan Gretel. Bagian yang paling disukainya adalah saat Hansel dan Gretel menemukan rumah kue, karena deskripsi kami tentang rumah kue  itu berbeda setiap malam. Jika kemarin rasa strawberry, malam ini rasa coklat, begitupun dengan jendelanya, terbuat dari permen bening aneka rasa. Pada bagian inilah kami sering mengeksplorasi daya khayal Bella, dengan memintanya membayangkan ruamh kue yang kami ceritakan. Betapa lezatnya bila rumah kue itu benar-benar ada. Bayangkan bila lantainya saja dari coklat, atapnya tertutup es krim rasa vanilla.. nyam.. nyam… Tak lupa kami pura-pura menikmati ‘makanan bayangan’ itu, yang diikuti Bella dengan seriusnya seolah benar-benar memakannya. Masih terbayang raut muka polosnya tampak lucu menyaksikan ekspresi kami.Entah berapa lama kegiatan itu berjalan, tanpa ada jadwal pasti. Apalagi kami  mulai sibuk dengan kehadiran bayi lelaki, Abi. Jika saya repot, saya tidak bercerita. Atau saat saya siap mendongeng, anak-anak memilih membaca sendiri. Bahkan ketika suami saya sengaja menunggui karena ingin melihat langsung kegiatan saya, anak-anak tak datang.Semua itu kami lakukan tanpa pernah berpikir mendapat imbalan. Di sinilah Allah Maha Adil, memberi balasan dengan cara memudahkan kami untuk memperoleh inspirasi dalam menulis! Jadi yang kami terima bukanlah secara materi, tetapi kekayaan hati dan ide yang tak kunjung habis!Lagipula, siapalah anak-anak itu, mereka sudah begitu dekat dengan saya, terasa seperti anak sendiri. Saya melakukan semuanya dengan ikhlas, tanpa beban. Keinginan terkuat adalah mengajak mereka menikmati kehebatan cerita dalam buku.
Ada kebahagiaan tersendiri menyaksikan mereka menemukan dunia baru dalam buku. Ya, sebuah dunia baru yang membuat khayalan mereka menjelajah, menembus ruang dan waktu!
 

MEMINDAHKAN DUNIA KE DALAM RUMAH            Itulah cikal bakal komunitas Rumah Dunia. Tak terlintas dalam benak saya, Rumah Dunia akan melaju sejauh ini. Ini tentu berkat dukungan dan doa banyak pihak. Semula, setelah membeli tanah di areal Rumah Dunia sekarang, yang letaknya di belakang rumah, rencana kami adalah memindahkan perpustakaan kecil ke tanah yang lebih lapang. Begitu pun anak-anak akan lebih bebas membaca. Apalagi kami siapkan mainan Bella-Abi yang murah-meriah dan sebagian telah rusak, agar mereka punya kegiatan baru jika lelah membaca. Ini juga stimulus untuk menarik anak-anak lain yang semula belum pernah berkunjung. Siasat suami saya ini ternyata jitu. Rombongan anak kecil datang berbondong-bondong untuk bermain. Hanya bermain. Bukan membaca. Kembali saya merasa seperti kejatuhan reruntuhan. Bagaimana jika mereka hanya asyik bermain, melupakan cerita-cerita ajaib dalam sebuah buku?Suami saya sering menghibur saya, agar tidak memikirkan terlalu dalam masalah anak-anak itu. Biar saja mereka bermain, sampai mereka puas. Tetapi saya juga tidak boleh berhenti mendongeng. Biar saja yang tertarik dongeng hanya sedikit. Minimal kekuatan buku masih terasakan.             Sesekali saya ingin marah juga, saat saya membacakan sebuah buku, ada anak yang menghasut temannya agar bermain saja. Dengan kesal tak tertahan, saya suruh si penghasut kecil itu main sendiri. Ia menolak, malah ikut bergabung mendengar dongeng. Suami saya hanya tertawa kecil mendengar cerita saya, dan menganggap itu bagian dari kenakalan anak kecil. Toh anak kami, Abi, juga nakal dan usil.             Abi kecil sering membuat ulah dengan mengganggu teman-temannya yang sedang membaca. Atau ketika saya sedang mengajari seorang anak belajar baca, Abi ikut membacanya, lebih cepat dari anak itu. Sejak usia tiga tahun, Abi sudah dapat membaca, tanpa kami paksakan mengajarinya. Tanpa kami sadari, Abi merekam semua yang kami ajarkan pada Bella. Jadi, saat Bella dapat membaca, Abi pun tak mau ketinggalan. Bahkan kecepatan Abi mengeja, lebih bagus dari Bella. Hanya untuk menulis, Abi cenderung malas. Kini ia lebih tertarik pada hal-hal berbau komputer.             Kemampuan baca Abi rupanya menyulut semangat anak-anak kampung yang usianya lebih tua, tetapi belum mampu baca. Kami tidak pernah menjadikan Bella dan Abi sebagai simbol atau contoh. Tetapi anak-anak itu sadar atau malu sendiri, karena keusilan Abi dan Bella tak bisa dibendung: jika ada yang belajar baca, Bella-Abi akan menunggui dan sesekali tertawa lucu jika ada kesalahan. Akhirnya saya minta Bella dan Abi sesekali mengajari teman-teman kecilnya.             Satu hal lagi yang amat saya syukuri adalah kesediaan Bella dan Abi merelakan waktu orang tuanya untuk merintis Rumah Dunia, dengan nama semula Pustakaloka Rumah Dunia. Hal-hal yang pernah kami terapkan di rumah: membaca, bercerita, menggambar, membuat kerajinan tangan dan berdiskusi kecil, diadopsi ke Rumah Dunia. Kami sodorkan kegiatan itu dengan niat tulus dan harapan agar anak-anak sekitar dapat selangkah lebih maju.             Beruntung orang tua suami tinggal di rumah, sehingga kami amat terbantu untuk menangani kegiatan Rumah Dunia. Ibu mertua saya ikut mendongeng untuk anak-anak itu, menyelipkan nilai moral dan akhlak dalam cerita. Anak-anak pun sering larut dalam nasehat Nek, begitu kami memanggilnya.            Sementara Bella dan Abi, karena mereka terbiasa dengan stimulus-stimulus itu, rupanya bosan untuk bergabung tiap hari. Mereka lebih suka menonton televisi atau bermain dengan kawan-kawannya di komplek. Walhasil, saya harus mondari-mandir rumah-Rumah Dunia.             Benar-benar melelahkan, karena kami pun telah mulai menetapkan jadwal selama Senin hingga Jumat, yang mau tak mau harus dijaga agar tak kosong begitu saja. Anak-anak Rumah Dunia sendiri rupanya sudah ketagihan dengan kegiatan yang benar-benar mengisi waktu mereka. Biasanya mereka hanya berkutat di lingkungan rumah tanpa kegiatan berarti, kini mereka punya media baru untuk beraktivitas. Maka, jika salah satu kegiatan  tak terlaksana, mereka menagihnya! Begitupun perhatian teman-teman menginspirasi kami untuk membuat Rumah Dunia tak sekedar tempat membaca. Dari jadwal sehari-hari, kami menyusun dan menamai kegiatan dengan ‘wisata’ , agar setiap anak yang berkegiatan merasa seolah sedang berwisata. Wisata Gambar, Wisata Studi dan Wisata Lakon             Untuk gambar dan lakon (teater) memiliki tutor yang merupakan sukarelawan. Sedangkan untuk Wisata Studi berupa kunjungan dan wawancara, saat awal saya gawangi sendiri. Saya mengincar beberapa home industry yang bertebaran di sekitar Rumah Dunia.             Anak-anak kecil itu kami kenalkan dengan teknik wawancara 5W + 1H (what,who,where,when,why + how). Tak semudah membalik telapak tangan, memang! Tapi terus saya cekokin dengan latihan-latihan wawancara, sebelum akhirnya kami benar-benar berkunjung ke pabrik tahu, pabrik roti, pabrik kerupuk, pabrik batik, mewawancari narasumber, yang bisa jadi saudara mereka sendiri.            Semangat untuk maju memang harus digemakan lebih sering. Biasanya kendala utama adalah mereka tak ingin melewati proses, maunya instan saja. Jika wawancara, mereka malas bertanya, akhirnya saya mengalah, memberi contoh wawancara. Karena saya sendiri ingin mengetahui proses sebuah industri, maka wawancara yang saya lakukan amat saya nikmati. Ini juga anugerah Allah, hasil wawancara itu dapat menjadi inspirasi sebuah tulisan.             Karena tak ingin kehilangan momentum bersama Bella-Abi, saya sering mengajak mereka ke narasumber bersama anak-anak Rumah Dunia yang ikut Wisata Studi. Tetapi, Bella dan Abi lebih sering ‘ngerecokin’ dengan memainkan alat-alat pabrik, mencolek bahan baku produk, atau menangis minta pulang sebelum acara berakhir.             Tapi saya menikmati semuanya, sebagai sebuah proses kehidupan. Tanpa beban semua predikat yang disandangkan ke bahu, saya jalankan dengan ikhlas. Saya menjalani semuanya dengan bahagia. Pun ketika kesibukan saya bertambah dengan hadirnya anak ketiga: Odie. Saya tak bisa lagi full time mengurusi Rumah Dunia. Waktu saya makin teriris menjadi bagian-bagian kecil yang semuanya menjadi prioritas. Lelah memang, tapi saya tetap mengambil bagian waktu untuk diri saya sendiri, meski hanya tiga jam dalam sehari semalam. Selama itulah saya ‘merdeka’ untuk menggunakannya ‘semau gue’. Di situlah saya membebaskan diri dari segala macam kewajiban sebagai istri, ibu, Ketua Pelaksana Rumah Dunia, dan anggota masyarakat.Selama tiga jam itu saya menjadi ‘gue banget!’, bebas melepaskan semua sisi ekspresif yang tersumbat. Katakanlah saya ‘liar’ untuk diri sendiri. Saya bebas mendengar musik yang saya suka bahkan sambil jingkrak-jingkrak, menonton film yang tertunda, menggambar, membaca buku, menulis diary, berhias diri, jalan-jalan di pertokoan, atau sekedar mengkhayal. Sebagian saya lakukan sendirian, dengan waktu yang sangat fleksibel, tengah malam sekalipun. Tapi saya juga tetap berusaha agar menggunakan waktu sebaik mungkin. Patokan lain: saya harus bahagia menjalankannya. Juga harus dengan hati, karena disitulah letak bahagia. Dan karena bahagia itu, saya merasa hidup begitu indah! Suami saya mengajari saya langkah awal menghadapi hari: bangun tidur, awali dengan senyum. Manjur, loh! 

EMPAT ANAK, BO!            Allah begitu sayang pada kami, sehingga saat saya harus bertambah kewajiban dengan mengasuh Odie, di samping Bella dan Abi, Rumah Dunia telah memiliki empat volunteer (sukarelawan) tetap, yang tinggal bersama kami di areal Rumah Dunia. Pada merekalah kami delegasikan kegiatan reguler dan insidentil. Kami mendiskusikannya di rumah, kemudian diserahkan pada voluntir, sanggup tidak mereka melaksanakannya. Di samping yang tinggal bersama kami, masih banyak lagi voluntir yang mendukung kegiatan Rumah Dunia. Jadi, meskipun punya bayi, saya tak perlu khawatir pada kelangsungan kegiatan.            Sesekali saya masih sempatkan diri turun langsung, saat Odie tidur, atau bahkan saya bawa agar melihat langsung apa yang kami lakukan. Suami saya pun sengaja membuat areal Rumah Dunia jadi tempat eksplorasi bagi Bella dan Abi bermain. Perosotan kami pindahkan ke
sana, lalu di antara batang pohon Areng dibuat jaring-jaring dari tambang plastik. Anak-anak yang berkunjung pun makin gembira mengikuti kegiatan.
            Semula saya berpikir, hanya beberapa bulan ‘cuti’ dari Rumah Dunia, karena mengasuh Odie yang masih bayi. Setelah bisa berjalan, rencana saya akan full time lagi. Tapi ternyata Allah memberi hadiah bayi lagi, Azka, saat kakaknya baru berumur 1 tahun 4 bulan.             Ini juga seperti mengulang ritme saat baru memiliki Bella dan Abi. Jarak usia mereka juga  hanya 1 tahun 2 bulan. Maka, kami pun tetap berbahagia dengan kehadiran ‘si kembar’ Odie dan Azka. Tidak mirip sekali, hanya terasa seperti memiliki anak kembar.             Mulailah hari-hari kami lebih sibuk, apalagi Abi mulai sekolah, termasuk susah bangun pagi. Saya jadi terbiasa mengurus tiga hal sekaligus: membangunkan anak-anak, menyiapkan sarapan, membuat susu untuk Odie. Bahkan dengan komposisi berbeda dengan kegiatan yang lain. Hampir tiap pagi menjadi pagi yang sibuk bagi saya. Untungnya suami saya bukan tipe yang sulit, malah sering membantu menangani anak-anak.            Dengan empat anak, otomatis waktu saya makin teriris lebih kecil, termasuk untuk membaca dan menulis. Karena saya tak bisa hidup tanpa keduanya, saya cari celah untuk tetap tidak kehilangan dua kegiatan penting itu. Akhirnya, sambil menyusui Azka dan mengasuh Odie, saya sempatkan membaca. Kadang saya sengaja bercerita pada dua bayi saya, apa yang sedang saya baca, itu juga untuk menguatkan konsentrasi pada bacaan. Saya juga memilih untuk menulis konsep dalam selembar kertas, untuk saya tulis malam harinya. Atau jika waktu mendesak, saya tumpahkan isi pikiran dalam coretan tangan, yang nantinya saya minta tolong Deden, salah satu voluntir untuk mengetik ulang. Setelah filenya saya pindahkan ke komputer saya, tinggal menunggu revisi. Pokoknya saya harus cari cara agar semua berjalan dengan baik. Soal pekerjaan rumah tangga, saya serahkan semua ke pembantu, ini memang lebih menghemat waktu dan tenaga saya.             Saya ingin semua urusan berjalan dengan baik, tanpa terabaikan, termasuk pembinaan pada anak-anak Rumah Dunia yang kini beranjak remaja. Mereka masih menagih untuk dikoreksi karangannya, tapi karena waktu saya terbatas, jadilah teras samping rumah menjadi ajang pertemuan kami. Di sela-sela mengurus Bella, Abi, Odie dan Azka, saya mendengar cerita dan keluh kesah mereka. Selalu saya usahakan untuk memberi semangat, agar mereka tak hanya menjadi sekedar orang biasa, tetapi menjadi orang penting yang memiliki ilmu dan kemampuan, yang dapat digunakan untuk membangun kampung mereka sendiri.  

MENAKAR MATA HATI            Pada semuanyalah saya bercermin, mengasah nurani, menakar kejujuran  dan ketajaman mata hati, masihkah ada yang alpa dari kewajiban diri? Dari suami saya belajar keteguhan sikap dan semangat berusaha menjadi lebih baik, pada Bella-Abi-Odie-Azka saya pasrahkan seluruh kemampuan saya demi predikat yang kelak disematkan Allah: ibu yang baik. Insya Allah, Amiin. Pada orangtua dan mertua, saya belajar menghadapi hidup dengan kesabaran dan kasih sayang. Dan dari Rumah Dunia saya menakar keikhlasan hati, untuk berbuat sesuatu bagi sesama, yang tak ada hubungan darah sama sekali. Segalanya bermuara pada kebahagiaan abadi.Hati yang jujur adalah modal untuk hidup tenang. Jujur juga bisa berarti berdamai dengan hati. Kedamaian itu membuat kita bisa melihat segala sesuatu sebagai keindahan hidup, sebuah karunia dari-Nya yang tak ternilai.Syukur pada-Mu ya Allah, telah Engkau karuniai aku dengan segala yang kumiliki, semoga kelak cukup bekalku menghadap-Mu.             Maka: hidup begitu indah, jangan pernah sia-sia! Jalani hidup dengan ikhlas dan gembira…. 

                                                                        Rumah Dunia, Oktober 2005
Tias Tatanka adalah penulis lepas, ibu rumah tangga dengan empat anak, Ketua Pelaksana Rumah Dunia, dan penikmat buku. Tulisannya tersebar di harian lokal Radar Banten dan Fajar Banten, majalah Matabaca, tabloid MQ. Menulis puisi yang tergabung dalam BEBEGIG (antologi puisi 7 penyair serang, 1997), SANDHAYAKALINGTYAS (antologi sendiri, terbit terbatas, 1989), MAHAJANA(antologi sendiri, 1990). Menulis novel bersama suami tercinta, Gola Gong dalam MIMPI SAUNI dan HARI-HARI ANGGA (Senayan Abadi, 2003&2005), antologi cerpen bersama penulis Rumah Dunia : PADI MEMERAH (MU:3, 2004), KACAMATA SIDIK (Senayan Abadi, 2003), antologi cerpen  yang hendak terbit: HARGA SEBUAH HATI (Akur) dan DONGENG SEBELUM TIDUR (Gramedia). E-mail : tiastatanka31@yahoo.com. 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: