KELUARGA PENGARANG

MEMBACA HIDUPKU DI MENGGENGGAM DUNIA

Posted on: April 9, 2007

md-besar.jpgOleh Yati Nurhayati 

Hari Sabtu, 4 Maret kemarin, aku berkunjung ke Rumah Dunia, yang sedang berulangtahun keempat. Aku mewakili perusahaanku, menyumbang satu unit komputer dan printer. Juga 5 pasang sepatu merek Tomkins bagi para relawan Rumah Dunia. Sabtu itu Rumah Dunia sungguh ramai. Di meja tamu, aku melihat buku terbaru karya Gola Gong, yang aku kenal sebagai kakak kelasku di SMAN 1 Serang.

Aku 1 tahun di bawah dia. Aku mengenal Gola Gong sebagai Heri Hendrayana Harris. Aku membeli buku iut; Menggenggam Dunia, terbitan Dar! Mizan,
Bandung. Aku tertarik membeli buku itu, karena 25% royalti pengarang disumbangkan ke kas Rumah Dunia.
 Malamnya aku baca buku “Menggenggam Dunia”. Sampai aku tidur sekitar jam 1 dini hari, keasikan baca.  Hiks.. mudah-mudahan besoknya aku gak ngantuk di kantor.Saat membaca buku itu, tiba-tiba kenangan sekian tahun yang lalu melintas kembali dalam ingatanku.  Suatu hari waktu aku kelas 1 di SMAN I Serang (1980 – 1983), aku tiba-tiba merasa sangat sedih dan ingin menangis..  Penyebabnya sebenarnya sepele..  Pada saat pembagian lokasi tempat duduk, aku kebagian di kursi paling kanan dan paling depan…  Posisi itu adalah posisi paling tidak nyaman untuk aku, dan bikin aku pusing karena senantiasa harus melihat / melirik ke sebelah kiri dalam jangka waktu yang lama…  dan itu semua karena aku sebetulnya hanya menggunakan mata kananku untuk melihat, sedangkan mata kiriku tidak bisa digunakan untuk membaca (+12), sejak tertusuk lidi pada waktu umurku sekitar 9 tahun.  Saat itu tiba-tiba aku menyadari bahwa aku cacat, aku berbeda dengan yang lain…. Dan aku menjadi sangat sedih dan ingin menangis, sampai aku memberanikan diri untuk curhat dengan salah seorang guru di ruang BP.   

Dan kejadian itulah mungkin salah satu yang merubah pola pikirku untuk selanjutnya.  Dengan lembut, sang guru menghiburku bahwa aku seharusnya bersyukur masih dikaruniai 1 mata untuk melihat dengan normal…  Berapa banyak orang yang terpaksa harus kehilangan penghilatan total, atau mengalami cacat-cacat yang lain… tapi mereka bisa tetap berprestasi.  Dan waktu itu guruku mengatakan:  ”Pasti kamu tahu juga ada kakak kelasmu yang kehilangan satu tangannya… tapi dia baik-baik saja, bisa belajar dan berinteraksi dengan baik!”  Ya!!  Aku ingat sama kakak kelasku itu, dan perkataan guruku saat itu sungguh menghiburku, dan aku bertekad, walaupun aku cacat, aku mau jadi yang terbaik!! Sang kakak kelas bertangan satu itu adalah Heri Hendrayana Hrris yang sekaragn dikenal sebagai Gola Gong. Dan alhamdulillah aku pun bisa lulus SMA dengan nilai terbaik dan dikirim ke Bandung untuk mewakili Serang menerima ijazah kelulusan secara simbolis dari Gubernur Jawa Barat. 

Alhamdulillah, Allah banyak memberikan kemudahan dalam perjalanan hidupku selanjutnya, yang bagaikan berpindah dari satu jalan tol ke jalan tol berikutnya.  Aku masuk IPB tanpa tes, lulus IPB ”Sangat Memuaskan”, masuk sekolah manajemen IPPM selama 1 tahun dengan beasiswa penuh, dan sebelum lulus IPPM, diterima bekerja di Bank Exim (sekarang Mandiri).  5 tahun di BankExim, aku diajak salah satu bos konglomerat milik pribumi untuk gabung dengan mereka, sampai sekarang… Sama dengan Gola Gong alias Heri, aku pun bercita-cita untuk bisa keliling dunia…  Dan dengan pekerjaan yang aku dapatkan, hal itu cukup memungkinkan.  Belasan negara di 4 benua (Asia, Eropa, Amerika, Australia) telah aku jelajahi (sebagian besar sebelum terjadi krisis moneter yang bikin Rupiah terdepresiasi gila-gilaan).  Benua Afrika yang belum sempat tersentuh.  Aku gak tahu dan gak pernah tanya ke ibuku, apa yang terjadi dengan kisah ari-ariku (seperti ari-ari Gola Gong yang dibuku iut dibuang ayahnya ke sungai), dikubur, dibuang ke sungai, atau kemana….he..he.. 

Dari seluruh perjalananku itu, hampir seluruhnya aku jalani seorang diri, kecuali satu kali keliling Eropa bersama teman-temanku (4 orang), dan aku tidak begitu menikmati perjalananku saat itu, karena kesenanganku dan kesenangan mereka berbeda.  Misalnya di Paris, pada saat aku sangat ingin melihat istana Versailles, teman-temanku lebih berminat memborong tas di butik Louis Vuitton dan Cartier, pada saat aku ingin sekali lihat salju di Mount Titlise di Swiss, teman-temanku lebih senang hunting jam tangan Bulgary…  Untunglah sebelumnya aku pernah melewati rute yang sama seorang diri, jadi gak terlalu kecewa.. Banyak kisah seru, cerita haru dan pengalaman-pengalaman unik yang sungguh sangat memperkaya wawasan aku dapatkan dari perjalanan-perjalanan itu.  Walaupun aku berangkat seorang diri, sebetulnya sepanjang perjalanan aku selalu ditemani oleh teman-teman seperjalanan yang sungguh menarik..  Ada Nancy, nenek dari New Zealand yang sungguh lincah dan ceria, yang mengajariku untuk melalui hidup ini dengan ekspresif dan penuh gairah, ada ibu-ibu (namanya susah diinget!) dari Polandia yang terkagum-kagum denger aku punya rumah sendiri yang ada halamannya, karena dia hanya mampu tinggal di apartemen (padahal kalo di Jakarta tinggal di apartemen lebih ”gaya” ya?), ada pendeta dari Filipina yang sungguh menggoda (dan hampir saja membuatku tergoda..he..he..), dsb. 

Yang pasti, kisah-kisahku tidak seseru perjalanan Gola Gong di ”Menggenggam Dunia” yang ”nekad” berbekal ”kantong kempes”, tapi heboh itu….  Aku selalu pergi dengan perbekalan cukup, dengan akomodasi hotel bintang tiga ke atas.  Bukannya kebanyakan uang, tapi sebagai wanita aku merasa lebih aman kalo tinggal di hotel yang cukup bagus…  Pernah sih waktu kantorku kirim aku kursus di Geneve selama 2 minggu, dalam rangka menghemat biaya hotel, dalam dua kali weekend yang aku lewati, aku titipkan koperku di locker di stasiun kereta api Geneve (Swiss), dan aku naik kerera api malam ke Venecia, sampai di sana subuh, dan besok malamnya balik lagi naik kereta malam kembali ke Geneve.  Weekend berikutnya naik kereta malam juga, dari Geneve aku naik kereta malam ke Florence (Italy), lihat Menara Pisa dll, minggu malam balik lagi ke Geneve.  Setelah baca kisah Gola Gong di ”Menggenggam Dunia: Catatan Seorang Avontuir”, aku sungguh menyesal, kenapa selama perlajanan itu aku tidak menulis catatan perjalanan, padahal aku yakin dari apa yang aku alami, banyak pelajaran, hikmah, dan pengetahuan yang akan bermanfaat juga untuk orang lain.  Mungkin karena itu terkait dengan bakat, ya. Aku tidak punya kemampuan menulis. Ah, aku akan mulai belajar menulis, agar kisah-kisah perjalananku yang seru (versiku, lho…) tidak terbuang percuma. Bukankah orang-orang pernah bilang, bahwa bakat itu hanya 1 persen dan sisanya adalah kerja keras? Aku akan mencobanya. 

Setelah krismon, sangat sulit bagiku untuk bertualang seperti dulu lagi.  Walaupun begitu, selama beberapa tahun aku puaskan diriku bertualang di ”dunia” yang berbeda, dunia seni rupa dan arsitektur. Saat ini, ”dunia” yang sedang aku jelajahi adalah dunia kuliner.. Dan pertengahan tahun nanti, petualangan besar menantiku… memasuki ”dunia seorang ibu”, karena tahun ini anak angkatku Monic (keponakanku), akan sepenuhnya berada dalam asuhanku, tinggal di Jakarta..  Dari ”Menggenggam Dunia” banyak inspirasi yang aku dapatkan, sebagai persiapan memasuki dunia petualanganku yang baru, Dunia Ibu…  Aku jadi dapat gambaran apa yang nanti akan aku ajarkan terhadap anakku itu…  Aku akan mengajarinya sebagaimana Gola Gong mengajari keempat anaknya, untuk senantiasa mencintai buku, mencintai sesama, dan yang paling penting, mencintai Allah dan seluruh ciptaanNya….. 

Terima kasih Gola Gong dengan buku ”Menggenggam Dunia”, karena telah berulang kali menjadi inspirasi dalam kehidupanku…  Satu hal yang sejak dulu aku inginkan, tapi sampai saat ini belum bisa aku laksanakan…  Memiliki taman bacaan yang juga berupa learning center yang bermanfaat bukan hanya untuk lingkungan keluargaku, tapi juga untuk masyarakat sekitarku.Dan semua itu telah Gola Gong miliki dengan ”Rumah Dunia”… 

Itulah sebabnya… Membaca “Menggenggam Dunia”, seperti membaca hidupku,dan cita-citaku sendiri…. Jakarta, 6 Maret 2006,Wassalam,Yati Nurhayati 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: