KELUARGA PENGARANG

KIDUNG PAGI HARI DI PASAR KLEWER

Posted on: April 9, 2007

gg1.jpgCerpen Gola Gong 

            Aku letakkan bakul berisi nasi liwet[1], beberapa potong ayam, telor, kanil [2] di teras toko. Hari masih pagi benar. Toko-toko buka nanti jam sembilan. Beberapa anak jalanan yang suka ngelem [3] masih malas bergeletakan di emperan toko. Tubuh mereka yang penuh daki jalanan dan berbalut celanan rombeng, diselimuti kain spanduk. Beberapa mas becak juga meringkuk seperti kucing dengan menyesuaikan luas ruangan untuk penumpang di becaknya. Bunyi adzan shubuh rupanya tak membangkitkan seleranya untuk pergi ke mesjid Agung di sebelah barat alun-alun keraton. Beberapa mobil angkutan
kota berwarna kuning melintas. Pasar Klewer juga masih sepi. Sangat berbeda dengan suasana selepas jam dlapan pagi. Penuh sesak dengan manusia.
            Hari ini nasi liwetku harus habis. Kalau tidak, celakalah. Suamiku – Mas Harno – sudah berusaha meminjam di bank tempatnya bekerja. Tapi apa daya, tetap saja belum mencukupi. Gajinya sebagai satpam di
sana hanya cukup untuk makan, bayar listrik, sewa kontrakan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Kalau saja aku tak membantunya dengan berjualan nasi liwet, mungkin rumah tangga kami hanya akan berisi dengan keluhan; seolah-olah tak mensyukuri karunia gusti Allah.
Aku rapihkan letak baskom sambel goreng [4]. Beberapa gelas kosong aku isi dengan teh hangat. Aku tutup agar lalat tak hinggap melemparkan telor-telor kotornya. Walaupun aku jualan di emperan toko, aku tak mau pelangganku nanti sakit perut. Semasa si ‘Mbok masih sugeng, selalu wanti-wanti padaku sehabis ngaji, bahwa kebersihan adalah bagian dari iman. Bukan sebagian. Tapi seluruhnya. Artinya, segala sesuatu itu harus penuh . Harus sempurna. Iman pada gusti Allah. Bersih selalu di hadapan-Nya. Bukankah gusti Allah itu selalu dekat dengan kita? Ojo dumeh, jangan sombong. Beberapa pelanggan aku layani seperti biasa. Baru bungkus yang kesepuluh. Mereka paling-paling hanya makan dengan lauk berupa suwiran daging ayam atau telor. Aku tatap langit. Oh! Langit sudah mulai terang. Ada waktu dua jam lagi untuk menambahi kekurangannya.            “Kenapa toh, ‘Yu?” Mbok Sarni, pedagang cabuk  rambak[5],  yang sudah bertahun-tahun menemaniku, menatapku penuh selidik. “Pasti soal genduk[6]mu, ya?”Aku mencoba tersenyum. Walau getir.Wis tho, ojo sedih. Kalau daganganku abis, nanti tak bantu.”Matur nuwun sangat.”Ada dua supir angkutan kota datang. Mereka duduk di bibir teras toko, yang hanya cukup untuk duduk saja. Punggung mereka langsung menyender di pintu besi toko. Aku sudah hapal kesenangan mereka. Dengan semangat aku lipat daun pisang menjadi dua buah pincuk[7]. Aku potong bagian kepala ayam. Aku belah jadi duabagian. Yang satu lehernya, satu lagi kepalanya. Lalu dua buah telor berpindah. Aku siram dengan sayur labu. Mereka menikmati sarapannya di dalam mobil.Tiba-tiba, “Mangan, ‘Yu!!”Aku lihat seorang lelaki muda duduk di sebelahku. “Monggo, Mas,” aku belum pernah melihat dia. Kumis dan jenggotnya lebat sekali. Matanya tajam. Tubuhnya tinggi besar. Rahangnya keras. Astaghfirullah! Aku sudah lancang memperhatikan lelaki yang bukan suamiku. “Brutunya, ‘Yu!”Aku comot bagian ekor ayam. Sebetulnya aku ingin tertawa. Tapi aku tahan. Kata si Mbok, kalau orang memakan brutu, nantinya akan pelupa. Tapi harus aku akui, bagian belakang ayam ini paling gurih.“Telornya juga!”Semua pesanannya aku susun di pincuk. Alhamdulillah. Aku hitung-hitung sudah dua puluh lima pincuk kubuat hari ini. Sekitar lima puluh ribu rupiah di tangan. Memang belum menutup modal yang aku keluarkan; sekitar tujuh puluh lima ribu rupiah. Sekarang semua serba mahal. Daun pisang saja sekarang harus beli. Salempit tiga ribu rupiah. Dulu, ketika  kebun Swargi Ndoro Kakung belum dibangun super market, masyarakat di sekitarnya bisa mengambil daun pisang sesukanya. Termasuk aku.            “Jadi, si ‘nduk mesti dioperasi?” Mbok Sarni tampak prihatin.“Iya, ‘Mbok. Usus halusnya, kata dokter, ngedesek-desek usus besarnya. Aku ora tega, Mbok. Saban malam nangis terus. “Piye toh? Kok, iso ngono?”“Ini salahku, Mbok. Si ‘Nduk kena diare. Mestinya aku memarut kunyit [8]. Tapi, aku kok merasa kurang sreg.” “Anak-anak muda zaman sekarang, memang ndak lagi percaya sama obat-obat tradisional. Sebentar-sebentar ke dokter.”Aku mengiyakan. Aku malah membawa anakku yang masih berumur dua tahun ke dokter. Suamiku juga setuju saja. Ternyata malah sakitnya bukan bertambah baik, tapi makin parah. Hampir setiap saat si ‘Nduk menagnis keras di tengah malam. Pilu hatiku sebagai ibu yang mengandung dan melahirkannya.Kami orang bodoh. Sebetulnya kami bisa saja menuntut dokter yang memberi obat pada anakku. Mestinya itu untuk orang dewasa. Tapi, kata suamiku, itu sudah kehendak  gusti Allah. Harus nrimo. Pejah gesang pasrah dumateng Allah [9]. Begitulah suamiku. Aku sebagai istrinya kadang greget. Tapi, suami itu harus diturut, kata si ‘Mbok.“Rumah sakit baru akan mengoperasi, kalau aku sudah punya uang,” aku ingin menangis sekaligus marah ketika menyadari kenyataan seperti ini. Aku sendiri menyaksikan, di ruang gawat darurat, ada beberapa pasien yang tidak diurusi, karena mereka tak punya uang. Segala macam kartu, yang katanya bisa gratis biaya pengobatan di rumah sakit, ternyata hanya omong kosong belaka.“Nambah lagi, ‘Yu!” lelaki muda dengan kumis dan brewok lebat itu menyela. Sambil membuatkan sepincuk lagi, aku masih mengeluhkan kondisi keuanganku untuk biaya operasi anakku. “Coba, ‘Mbok, kalau hari ini aku ndak memberi kepastian, bisa-bisa si ‘Nduk disuruh dibawa pulang. Nyeri atiku, ‘Mbok…”“Wis tho, sabar. Pasrah ing gusti pangeran. Pasti selalu ada jalan,” si ‘Mbok menghiburku. “Tuh, Kong Liem pesen nasi liwetmu,” si ‘Mbok menunjuk ke seberang jalan.Di pintu tokonya yang belum buka, Kong Liem mengacungkan lima jarinya. Alhamdulillah. Itu berarti lima pincuk nasi liwet. Aku langsung mengerjakan pesanannya. “Lihat, pagi ini nasi liwetmu banyak yang beli. Itu artinya gusti Pangeran mirengaken dongamu.”Aku mengangguk. Hampir di setiap sholat, aku menengadah dan memanjatan doa pada gusti Allah, agar ditunjukan jalan. Anak adalah amanah. Kami berusaha untuk menjaga dan merawatnya. Tapi jika Engkau tidak mempercayai kami lagi, kami nrimo saja. Itu pepesthening gusti [10]bagi kami. Pesanan Kong Liem sudah selesai aku buat. Dengan tiga kali bolak-balik, aku antarkan pesanan ke seberang jalan. Ketika kembali dan duduk di belakang bakul liwetku, aku tidak melihat lagi lelaki muda degnan brewok dan kumis lebat itu. “Iki, Suti!” Mbok Sarni menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan.“Wis bayar, tho? Ora disusuki, Mbok?”Mbok Sarni menggeleng.Lagi-lagi aku mengucap puji syukur ke langit. Gusti Pangeran hari ini memberiku banyak kemudahan. Rupiah demi rupiah aku kumpulkan untuk biaya operasi anakku. Semoga suamiku bisa mendapatkan pinjaman lagi hari ini.Jam delapan pagi, Kong Ahong datang. Dia tersenyum padaku. “Bikinkan dua, Yu!” katanya.Aku mengangguk sambil membereskan dagangan. Biasanya, Kong Ahong selalu sarapan di rumah. Paling-paling pelayan tokonya yang memesan. Tapi pagi ini dia memesan dua pincuk. 

*** 

Aku letakan baskom di bale-bale. Aku duduk sambil meluruskan kedua kakiku. Terasa  pegal. Kalau saja si Mbok ada. Pundakku pasti dipijiti. Aih, kalau membayangkan itu semua, rasanya bahagia hidup ini. Menjadi anak semata wayang yang dimanja.Aku bereskan barang-barangku. Aku keluarkan isi di dalam baskom. Nasi liwet tinggal satu pincuk lagi. Sengaja aku sisakn buat aku sarapan di ruymah. Suamiku sejak pagi tadi sudah aku bungkusan untuk sarapan di kantor nanti.Tiba-tiba aku tertarik pada sebuah bungusan dari tas plastik hitam. Apa ini? Aku tidak merasa memilikinya. Aku buka gulungan plastik itu. Di dalamnya ada amplop. Betapa tebal isinya. Aku ambil amplot berwarna coklat itu. Tas plastiknya menggelesor jatuh ke lantai. Betapa aku seperti disambar petir! Di dalamnya berisi uang dengan pecaha lima puluhan ribu! Aku merasakan seluruh  tubuhku gemetar. Keringat dingin langsung menyeruak di sewkujur pori-pori tubuhku. Aku lemas. Aku terkulai di bale-bale. Duh, gusti! Aku nyuhun pangapuro! Dosa apa yang telah aku perbuat? Uang siapa ini? Amplop berisi uang itu terkulai dari tanganku. Jatuh berhamburan di lantai. Mataku kabur. Dan gelap.Aku tak ingat apa-apa lagi…“Suti1 Suti!”Sayup-sayup kudengar suara sumiku. Mas Harno!Wajahku terasa seperti disentuh benda dingin.Aku terbangun. Di depanku Mas Harno berdiri dengan segayung air. “Kamu, kenapa?” tanyanya cemas. ‘Ini duit siapa?” di tangan kanannya amplop berisi banyak uang itu diacungkan ke dekat wajahku.“Mas!” aku memeluk tubuhnya.“Aku minta ijin dari kantor. Aku lihat pintu samping terbuka. Aku masuk saja. Kamu pinsan tadi. Kenapa? Ini duit siapa, Ti?”Aku menggeleng.“Kamu tidak mencuri?”Aku menggeleng lagi.“Ada yang memberi?”“Aku ‘ndak ngerti, Mas…”“Subahnallah!” 

*** 

 

Aku sedang mengajak anakku ke pasar Klewer. Operasinya sudah berlangsung sukses. Usus halus yang mendesak usus besar itu sudah diagnkat dan dipisahkan. Kini anakku tumbuh sehat. Semua berkat sebuah amplop yang berisi uang jutaan rupiah. Aku tak tahu itu uagn siapa. Suamiku bilagn, gusti Allah mendengar doa kami. Mungkin saja ada seseorang yang bersimpati dan meletakkan uang itu secara sembunyi-sembunyi. Bukanlah dalam  hadis dikatakan, jika tangan kanan beribadah, sebaiknya tangan kiri tidak usah tahu.Anakku berlari-lari di trotoar alun-alun utara. Dia sedang senang-senangnya jalan. Tapi aku tak membiarkan dia lepas dari kedua tanganku. Jalanan di pagi hari yang sejuk ini tetap saja ramai oleh lalu-lalang kendaraan bermotor. Saat hendak menyeberangi jalan, menuju keraton, aku melihat lelaki muda dengan kumis dan brewok tbal itu lagi. Dia memakai baju seragam serba biru. Dia sedang meneyapu jalanan. Di punggungnya ada tulisan LAPAS Surakarta. Aku terhenyak. Kedua mataku tidak mungkin salah. Aku mematung. Menunggu dia membalik dan menatapku.“Adik ini…,” aku tak sabar untuk menegurnya.Dia menbalik. Sekelebat wajahnya berubah.“Kita pernah ketemu. Pagi ity. Adik membeli nasi liwetku.”Dia menggangguk. “Iya. Nasi liwet ‘Mbak enak. Aku sampai nambah dua pincuk,” dia tersenyum sambil melihat anakku. Dia berjongkok. “Namanya, siapa?”Anakku melonjak-lonjak dan minta digendong. Aneh. Anakku yang biasanya selalu mennagis kalau melihat orang asing, tapi kini malah minta digendong. Kini anakku berpindah ke pangkuan dia.“Namanya ‘Sari’.’“Alhamdulillah, kelihatannya dia sehat. Berarti operasinya sukses, ya,” dia menimang-nimang Sari.Aku terkesiap.Tiba-tiba terdengar teriakan, “Herman!”Dia melihat ke arah utara. Lalu dia menurunkan Sari dan  menyerahkannya padaku.“Kau…?”“Maafkan saya, ‘Mbak. Saya pikir, ‘Mbak lebih memerlukannya dari pada saya,” dia mengambil sapu lidinya dan berlalu. Tapi baru beberapa lagnfkah, dia berhenti. Dia menengok dan tersenyum pada anakku. Setelah itu dia pergi menyeberagn jalan. Di ujung jalan aku lihat mobil LP surakarta sudah mennatinya. 

*** 

Pasar klewer, akhir Juni 23003 

 

BIO DATA: Beberapa sajaknya dimuat di Suara Muhammadiyah, Mitra Desa PR, Republika, Media Indonesia, tabloid Hikmah, Adil, dan Harian Banten. Juga terkumpul di antologi Jejak Tiga (1988), Ode Kampung (1995), Antologi Puisi Indonesia (KSI-Angkasa, 1997), dan Bebegig (LiST, 1998). Naskah komedi satire “Kampung Maling” dipentaskan oleh FKB di GKB.. Novel trilogi  islaminya pernah disinetronkan RCTI; Pada-Mu Aku Bersimpuh. Novel islami dwilogi; Kupu-kupu Pelangi terbit di akhir Juni ini. Sekarang mengelola Pustakaloka RUMAH DUNIA dan bekerja sebagai script writer di RCTI. 




[1] Nasi liwet; nasi yang rasanya gurih. Prosesnya, beras direbus setengah matang. Lalu dicampur dengan santan yang sudah matang. Makanan ini khas Solo.

[2] Kanil; kepala santan, santan kental yang dimasak lama, lalu diambil bagian atasnya yang berbuih. Kemudian didinginkan. Saat memakannya, kanil ini diambil secuil, lalu diletakkan paling akhir di bagian atas dari tatanan nasi liwet.

[3] Ngelem; kebiasaan buruk dari para anak jalanan sebelum beroperasi di perempatan jalan. Untuk mengusir rasa malu ataumenambah keberanian, mereka menghisap aroma lem sejenis aibon atau fox. Dipercaya aroma lem itu bisa mempertebal rasa percaya diri mereka.

[4] Sambel goreng; sayur kuah dari pepaya atay labu siam, yang rasanya agak manis.

[5] Cabuk rambak; makanan berisi kupat, sambie wijen (kacang dan kelapa parut), dan karak (kerupuk nasi).

[6] Genduk; panggilan kepada anak perempuan dalam bahasa Jawa.

[7] Pincuk; piring atau wadah dari daun pisang.

[8] Kunyit; dalam masyarakat Jawa, air perasan dari kunyit masih dipercaya bisa menyembuhkan diare.

[9] Pejah gesang pasrah dumateng Allah; mati hidup terserah pada Allah.

[10] Pepesthening gusti, takdir dari Allah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: