KELUARGA PENGARANG

INDIAN DAN RINDUKU PADA BUKU

Posted on: April 9, 2007

berdua.jpgOleh Tias TatankaMembicarakan buku, bagi saya seperti menyoal sosok idola kepada siapa saya ngefans banget. Seperti pada Gabriel Batistuta saat saya punya anak pertama dan kedua. Atau pada Nicholas Saputra saat hamil anak ketiga. Pada anak keempat, saya suka Dian Sastro dan Ariel Peterpan. Tak peduli berapa lama saya tergila-gila.Tapi pada buku, ternyata lebih dari sekedar sosok idola. Mengingat buku adalah seperti mengingat sesuatu yang membuat saya rindu, dan kadang cemburu bila tak berhasil mendapatkannya. Entah cemburu pada siapa. 

KELUARGASoal buku juga kerap membuat saya dan Aa -suami saya- rebutan, meski tak sampai berantem. Katakanlah kami rakus bila melihat buku baru –dalam artian belum pernah kami baca. Biasanya saya yang menang untuk baca duluan, karena Aa banyak pekerjaan kantor. Akhirnya malah saya yang menceritakan isi buku itu saat ia punya waktu luang. 

Entahlah, mendiskusikan buku bak bercerita tentang anak-anak sendiri, hingga ada nada sayang yang kental. Bahkan, saya bisa ’ajak’ buku ke manapun pergi, tanpa takut ia ’rewel’. Saat masih kecil, jika sudah membaca sebuah buku, saya tak mau lepas darinya, saat –maaf-  pup sekalipun saya baca buku. 

Kecintaan menggila pada buku memang timbul dari kebiasaan di rumah saya. Saya tumbuh di tengah kata-kata dan ketukan tuts mesin tik. Bapak saya dulu wartawan, koleksi bukunya lumayan banyak dan beragam. Bapak dan Ibu gemar membaca dan sering mendongeng, terutama sebelum tidur. Dari situlah kecintaan kami pada bacaan terpupuk. Kebiasaan membaca – reading habbit, memang dimulai di rumah, bersama keluarga. Orang tua sangat berperan besar membentuk prilaku literacy (keaksaraan) ini. 

Kemana kami pergi,  selalu disodorkan hal-hal baru di luar rumah, terutama huruf-huruf di sepanjang jalan, misalnya nama toko atau sekolah. Karena sambil jalan, otomatis saya harus berlatih untuk cepat mengingat huruf-huruf itu. Di rumahlah saya mengulang dengan bertanya nama-nama huruf dan cara membaca. Ibu saya berperan aktif mengajari saya menulis dan membaca, sementara dalam perkembangan selanjutnya Bapak memberi contoh dalam hal menulis karangan. 

Keingintahuan saya amat besar, akhirnya jebol seperti air bah saat  bisa membaca dan menuulis kata sederhana. Sekolah Dasar kelas 1,  saya berinisiatif memberi judul pada semua gambar yang saya buat di sebuah buku gambar kecil. Ketika tiba pada gambar bunga, karena belum diajarkan kata-kata yang mengandung unsur ‘ny’ atau ’ng’, saya tulis ’buga’. Kenangan yang amat indah. 

Tapi anak-anak saya, Bella dan Abi, jauh melebihi saya, karena umur 3 tahun sudah mengenal huruf, dan 4 tahun bisa membaca. Maka, ketika mereka masuk Taman Kanak-kanak (TK), masing-masing hanya bertahan 3 bulan. Alasannya, kata-kata yang diajarkan di sekolah sangat sederhana, sementara mereka sudah lancar membaca. Sebenarnya pengajaran membaca dan menulis tidak termasuk dalam kurikulum TK, begitu yang saya dengar dari beberapa guru TK yang saya temui, tetapi tuntutan pengajaran itu bisa dikatakan datang dari orang tua murid sendiri. Mereka ingin ketika masuk SD, anak-anak nya tidak kesulitan membaca. Tambah lagi beberapa SD menerapkan tes membaca saat penerimaan siswa baru.  Akhirnya mau tidak mau pihak TK pun menerapkan belajar baca-tulis. Tinggallah saya yang kesulitan mencari sekolah yang hanya mengajarkan bermain dan berkarya, seperti yang didambakan anak-anak saya saat TK: ”Ingin sekolah yang kerjanya cuma main!” 

SEWASaya merasa beruntung melewati masa TK yang penuh dengan pelajaran prakarya, bukan tulis menulis. Kenal huruf dan kata ya di SD. Exciting banget, ketika lancar membaca, semua dilahap, termasuk koran dan buku-buku koleksi bapak. Di rumah tetangga yang disambar ya koran atau majalah. Kebetulan tetangga saya ada yang langganan komik Eppo, Bobo, Ananda, Bimba (lembar anak majalah femina), Hai, Donal Bebek, komik Arad dan Maya, dll. Saya sering membuat jengkel tetangga karena tidak mau pulang sebelum selesai membaca buku milik mereka! 

Waktu SD, saking inginnya punya majalah sendiri biar tidak pinjam melulu, merayu Bapak supaya membeli Bobo tiap pulang sholat Jumat. Kalau minta beli buku atau majalah sama bapak, biasanya diturut. Kalau minta ke ibu, harus tarik ulur dulu, dilihat cukup tidak uang belanja. 

Lalu ada penyewaan majalah keliling, pakai sepeda yang boncengannya dipasangi peti kayu penyimpan majalah-majalah dan novel. Kita panggil si koko dengan ’om Charles’, entah nama aslinya.  Dari usaha sewa keliling itulah saya mulai kenal komik ’Laverdue dan Tanguy’, Nina, Asterix, Smurf, majalah Gadis, Anita Cemerlang, juga novel-novel Mira W. Waktu ibu tahu saya pinjam novel, ibu marah, mengancam tidak mengijinkan untuk menyewa lagi.  

Saya dan adik-adik dijatah sewa majalah atau komik seorang satu perhari. Jadi kami bisa saling pinjam. Seringkali saya bujuk adik saya untuk meminjam komik, majalah atau novel yang saya ingin baca.  

Waktu itu harga sewa masih Rp 50,- per majalah. Ketamakan saya pada buku membuat saya pernah nekat melanggar aturan ibu, dengan menyewa tiga sampai lima majalah dan komik tiap hari, yang saya selesaikan sekali baca. Ibu sempat marah pada saya, tapi tidak bisa apa-apa.  

Sekarang itu menular pada Bella, putri sulung saya. Ia betah membaca novel, majalah, komik anak-anak berjam-jam. Di kamarnya berserakan komik-komik Manga yang dipinjamnya dari Rumah Dunia. 

BISONSaat SD, saya mulai menjelajah ke rak buku di kamar ortu saya, dan menemukan sebuah novel Sidney Sheldon, judulnya saya lupa, dengan cover aduhai, siluet wanita setengah telanjang. Diam-diam saya baca, tapi Ibu melarang keras ketika mengetahuinya. Ibu mengganti dengan menunjukkan sebuah novel berejaan lama, disampul kertas kopi warna coklat. Kata Ibu, itu buku bagus. Bapak saya mendapatkannya entah dari mana. 

Saya mulai tertarik. Judulnya LLANO ESTACADO III, karangan Karl May. Ya, tentang Apache dan Winnetou-nya. Saya terperangah membacanya. Sejak itu, ketertarikan saya pada hal-hal berbau Indian dimulai. Sayang, tak ada novel Indian selain itu. Akhirnya, saya baca berulang-ulang, dan diam-diam, kebijakan orang-orang Mescalero, keluarga Winnetou, menyemaikan kecintaan dan kekaguman di hati saya. Jangan heran jika setelah  jadi ibu, ada poster besar bergambar orang Indian terpasang di ruang makan rumah kami sekarang. Itu hal yang saya impikan sejak dulu. Itulah juga sebabnya, kenapa saya memakai nama “Tatanka”, yang berarti “bison” di belakang nama saya. Bison itu adalah nadi kehidupan orang Indian di
padang praire. Saya berharap bisa mengambil spirit kehidupan di dalamnya; bermanfaat bagi orang lain, sepreti juga bison yang membrei banyak manfaat kepada orang  Indian.
 

Cinta itu bersemi makin indah saat saya SMA, berhasil menemukan banyak sekali buku Indian karya Karl May di perpustakaan
kota. Juga syair karya Longfellow yang berkisah tentang Indian, judulnya Song of Hiawatha. Pepatah Indian mengatakan ‘jiwa hidup dalam darah’. Tapi buat saya: ‘buku hidup dalam hati’.
 

*** 

 

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: