KELUARGA PENGARANG

HARU-BIRU BURUH MIGRAN INDONESIA

Posted on: April 9, 2007

Oleh Gola Gong

Catatan Ringan Kumcer ”Perempuan di Negeri Beton” karya Wina Karnie  

Apa yang kamu ketahui tentang Hongkong? The Year of The Dragon, film yang mengangkat aktor Michael Yourke ke puncak popularitas di
Hollywood era 80-an? Jacky Chan dan Chow Yun Fat? Atau mafia Triad? Ketika kecil, Hongkong bagi saya tempat berasal para pendekar kung fu. Saya termasuk penggemar berat film-film kung fu yang dibintangi dua bintang besar; Bruce Lee dan Fu Shen.

Di era 70-an, Hongkong termasuk negeri yang rajin mengimpor film setelah Amerika dan
India. Saya terobsesi suatu hari menginjak negeri naga ini, walaupun saya  tahu, bahwa Hongkong bukanlah negeri yang ramah bagi para bagpacker, pejalan berkantong pas-pasan seperti saya. Semuanya serba mahal dan harus berhati-hati dengan denda, karena banyak larangan di
sana.
 

 

MAUT MENGANCAMTapi, dari berita-berita yang saya baca di koran, justru Hongkong daerah tujuan mencari penghidupan yang menjanjikan bagi buruh migran Indonesia (BMI) alias TKI, pahlawan devisa bagi negeri yang gemah ripah loh jinawi aman tentrem kertaraharja ini. Kalau Arab seperti sarang penyamun, karena kebanyakan TKI bernasib naas; diperkosa oleh majikan, disiksa, dan gaji tidak dibayar, sedangkan Hongkong ibarat surga, karena rata-rata kebanyakan BMI sukses mengais dollar di sana. Selain mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pelayan di hotel, restoran, dan rumah sakit, mereka  masih bisa menikmati hidup dengan plesiran. Mereka bisa membentuk segala macam organisasi. Bahkan tradisi intelektual seperti menulis tumbuh di antara para BMI. Terbukti mereka menerbitkan media informasi untuk kalangan mereka sendiri.Dan kini di hadapan saya terhidang manuskrip kumpulan cerpen “Perempuan dari Negeri Beton” (PdNB) karya Wina Karnie, seorang buruh migran Indonesia (BMI), akfif sebagai wakil ketua Forum Lingkar Pena Hongkong.  Saya merasa sedang berada di Hongkong ketika membaca 13 cerpen karya Wina dan 1 cerpen tamu; Seberkas Cahaya di Victoria karya Hepi Andi Bastoni. Membacanya seolah segala macam kisah yang mengharu-biru di balik kesuksesan para BMI terhidang di piring makan. Ada cerita duka di balik lembaran uang kertas dollar Hongkong ketika mengikuti setiap kata yang terangkai. Saya seolah berada di lorong-lorong beton Hongkong. Seolah berada di Victoria Park, mendengarkan kisah sedih para BMI. Seolah sedang menyaksikan para BMI wanita berurai air mata.Hongkong sebetulnya jauh di seberang sana, tapi PdNB seolah terasa dekat. Dengan teknik penceritaan “aku”, cerpen ”Perempuan dalam Beton” (PdB) menyodorkan kisah BMI wanita yang berjuang ingin mendapatkan visa independent, agar masa depanya di Hongkong menjadi lebih baik. Dengan itu dia bisa lebih bebas mencari pekerjaan, tidak hanya sekedar jadi babu. Dikisahkan tokoh “aku” yang dekat dengan tokoh “Tika”. Lewat “aku” cerita tentang “Tika” mengalir tragis. Tika yang baru 1 tahun bekerja dipulangkan majikannya dengan alasan tidak cocok. Tapi, Tika berhasil meloloskan diri di bandara. Dengar saja pembelaan Tika, “Lis, kamu tahu adik-adikku banyak ‘kan? Mereka membutuhkan biaya unutk sekolah. Aku baru satu tahun di sini, dengan potongan tujuh bulan gaji, kamu bisa menghitung sendiri pendapatan yang kuperoleh ’kan?”Tika nekat tidak pulang ke Indonesia, karena jatuh cinta dengan Piter Wong. Bahkan tidak sekedar cinta saja. Tika dan Piter sudah selayaknya suami-istri. Untungnya Piter Wong; pria Hongkong pengangguran, menikahi Tika. Tapi bukan kebahagiaan yang diterima Tika, justru penderitaan. Tika terkurung di balik beton, apartemen kelas kambing. Mendapatkan siksaan bertubi-tubi dari suaminya, yang lebih suka mendapatkan jaminan sosial dari pemerintah. Tika bahkan jadi sapi perahan, bekerja membanting tulang, sementara suaminya main judi dan mabuk-mabukkan. Kepada “aku”, Tika mengatakan, bahwa targetnya stelah 7 tahun visa independent didapatnya. Setelah itu dia akan bercerai. Tapi, setelah anak mereka lahir, Tika memilih menderita di balik  kerangkeng beton, karena sebagai buruh migran, dia tidak akan bisa memeroleh hak asuh bagi anaknya jika bercerai. Tika berkorban demi darah dagingnya sendiri, Wai Lik.Cerpen PdB adalah satu kisah dari banyak kisah BMI di Hongkong. Bahkan mungkin di seluruh penjuru dunia. Selalu saja kita miris jika membaca di koran, tentang kisah tragis para TKI wanita, yang mengadu nasib di negeri orang. Ada yang hamil karena diperkosa majikan, yang cacat disiram air panas, yang mati disiksa, yang mati bunuh diri, yang dipenjara karena over stay atau ilegal. Seolah pemerintah kita di sana tidak mampu melakukan apa-apa. Seolah negeri ini  adalah bangsa budak. Bahkan di negerinya sendiri juga menjadi budak. Komplit sudah kisah mengharu-biru PdNB ini. Hampir semuanya cerpen-cerpennya mengisahkan kisah tragis para BMI.Di cerpen ”Anjani”, tokoh ”aku” yang babu mengisahkan tentang teman sepekerjanya; Anjani, yang terperosok ke kehidupan seks bebas. Di ”Penumpang Terakhir”, Wina mengisahkan tentang Yati,  seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia yang kedapatan tewas terjatuh dari lantai 3 sebuah apartemen. Arwah Yati gentayangan dan meminta pertnggungjawaban majikannya; Mr. Wong. Arwah Yanti mmeinta Mr. Wong memberikan kesaksian pada media massa, bahwa Yati tewas bukan bunuh diri, taoi didorong ole istri Mr. Wong. Juga arwah Yati menyuruh Mr. Wong mengaku, bahwa pada malam itu sepulang dari menyupir dalam keadaan mabuk, Mr. Won hendak merkosanya. Yang paling tragis, ternyata selama ini yati selalu diperkosa oleh istri Mr. Wong yang lesbian. Mr. Wong kemudian tewas, karena bus yang disupirinya oleng serta menghantam pagar pembatas jembatan.Aroma kematian terasa sekali saat membaca PdNB. Mengingatkan saya pada Imam Al Ghozali. Pada suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu dia bertanya, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab “orang tua, guru, kawan, dan sahabatnya”. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “mati”. Sebab janji Allah SWT, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (QS. Ali Imran:185). Ya, membaca PdND seolah kematian begitu dekat dengan kita. Wina sedang mengingatkan kita, bahwa kematian setiap saat akan datang menjemput kita. Dengan PdMB, kita seperti sedang melihat di cermin, bahwa nasib saudara-saudara kita di negeri seberang terancam. Maut ada di mana-mana. 

VICTORIA PARKMaut juga mengancam sekitar 100 ribu BMI wanita di Victoria Park. Maut dalam artian bahaya. Di PdNB latar tempat VP sangat mendominasi. VP seolah ikon PdNB. VP seolah magnit. Hongkong tanoa VP serasa sayur tanpa garam. Wina menulis, bahwa VP adalah sebuah taman tempat tujuan plesiran para BMI di akhir pekan yang murah-mreiah, tapi juga kadang membahayakan mereka. Terutama bgi para buruh wanita, karena banyak lelaki hidung belang mengincar. “Tokoh “Anjani” adalah korban dari lelaki hidung belang yang biasa mangkal di VP. Di cerpen tamu “Seberkas Cahaya di Victoria Park”, Hepi Andi Bustoni dengan sangat jelas menuliskan kesannya tentang VP, yang sebetulnya kalah jauh dengan Kebun Raya Bogor.Saya tahu VP hanya dari cerita  saja. Saat syuting ”Cafe Soleh”; program ”Hikmah Fajar” RCTI, seorang ustad menceritakan pengalamannya tentang VP. Ustad itu merasa miris dan sedih melihat tingkah-polah BMI, yang sudah tergreus dekadensi moral. Kata si Ustad, “Banyak yang terjebak pergaulan beas, bahkan lesbianisme!” Saya bergidik mendengarnya. Dan Wina mendokumentasikan realitas itu di PdNB.  PdND sebetulnya bisa lebih kuat, jika saja teknik penceritaan atau penulisannya tidak menggunakan sudut pandang ”aku”. Dari 14 cerpen, 8 cerpen memakai sudut pandang ”aku”. Andai saja Wina mau bersabar, mengendapkan idenya dan melakukan perenungan, sehingga dirinya sebagai pengarang mengalami proses menjadi ”tokoh lain”, pembaca pasti akan mendapatkan banyak pengembaraan imajinasi lewat para tokoh rekaannya. Nietzsche dalam suratnya ke Richard Wagner menulis, “Fiksi (puisi dan cerita) adalah menerjemahkankan mimpi-mimpi ke dalam kenyataan; dan menafsirkan kenyataan dunia ke dalam impian.”Ya, dengan menggunakan sudut pandang bukan ”aku”, tentu Wina akan lebih bebas menafsirkan kenyataan dunia di Hongkong ke dalam dunia imajinasinya. Kita tentu akan semakin banyak memeroleh pelajaran berharga dari cerpen-cerpen yang ditulis Wina. Seperti di cerpen ”Perempuan dalam beton”, sebetulnya Wina bisa lebih bebas dan dalam menggali karakter tokoh ”Tika” yang menderita akibat pernikahannya dengan Piter Wong, pria Hongkong pengangguran. Justru karena menggunakan ”aku”, alur cerita dan plot para tokohnya kurang tergali.  Tapi, kumcer PdNB bagi saya sudah memosisikan Wina sebagai pengarang wanita FLP yang kelak akan mewarnai taman sastra di negeri ini. Wina sudah tahu dan paham betul, untuk apa dia menulis: dakwah bil Qalam. Wina paham betul,  bahwa ”Sesungguhnya solatku, ibadatku, hidupku dan matiku karena Allah Tuhan Seluruh Alam”. Wina sudah menuliskannya dengan hati.  Dan kita banyak mendapatkan sesuatu. 

*) Rumah Dunia, April 2006 

*** 

   Catatan:Hepi, ini ada beberapa yang sempat saya jumpai. Mungkin bisa membantuAda beberapa kesalahan:

  1. para siswa, harusnya para siswi – halaman 5
  2. menelenjangi, harusnya menelanjangi – halaman 9
  3. tak bergeming, harusnya “bergeming” – halaman 20 (bergeming = diam)
  4. di istirahatkan, mestinya “diistirahatkan”, jangan dipisah di-nya – hlm 30
  5. mengantar-kannya harusnya ”mengantarkannya” – hlm 31
  6. di dapatkannya = didapatkannya (hlm 62)
  7. keseorangan = seorang diri? (hlm 62)
  8. sesuatu rendahan = sesuatu yang rendah? (hlm 62)

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: