KELUARGA PENGARANG

FIKSI ANAK: MEMIKAT DENGAN KESEDERHANAAN

Posted on: April 9, 2007

gong_041.jpgOleh Benny Rhamdani
Sudah termotivasi menulis fiksi anak? Mungkin masih bingung untuk
memulai, karena terlalu terbebani teori. Makanya, menulis saja dulu,
teori belakangan.

Seperti kata Teh Pipiet, sebenarnya menulis fiksi anak lebih
sederhana.
Tp justru karena sederhana itu, barangkali jd semakin
sulit untuk sementara orang. Atau malah, kurang menantang?
Hakikinya, kesederhanaan cerita anak sangatlah kompleks, yang
ditandai standar baku, tidak ruwet dan komunikatif. Artinya, fiksi
anak berbicara tentang kehidupan anak-anak menyangkut segala aspek,
termasuk yang mempengaruhi mereka.

Tak ubahnya fiksi secara umum, fiksi anak pun dibangun oleh unsur-
unsur berikut:
1. Tema: Sebuah tema yang tepat untuk fiksi anak adalah yang
menghibur, mendidik dan inspiratif.
-Menghibur karena anak-anak akan lebih mudah tertarik untuk membaca,
menghibur juga bisa menjadikan anak-anak memiliki hobi membaca dan
menulis.
-Mendidik di sini bukan sebagai buku teks/pelajaran, tapi mendidik
yang secara halus. Agar tak jengah, anak-anak sebaiknya jangan
dicekoki bacaan yang berceramah. Tema-tema jangan membolos, jangan
begini, jangan begitu sudah kelewat usang. Jika sempat, mungkin teman-
teman bisa membaca buku kumpulan cerpen saya ‘Gara-gara Nama’
(penerbit Dar! Mizan). Di sana, sebagian besar adalah kehidupan anak
saya alami sendiri dulu, tanpa ceramah. Misalnya saja bagaimana cara
menyelesaikan pertengkaran temen di kelas karena adanya nama kembar,
yakni Arie dan Ary (Cowok dan cewek). Sebenarnya bagi orangtua itu
bukan masalah berat, tp bagi teman yang menyandang nama jadi masalah.
Atau yang lebih sederhana tapi cukup memikat adalah ketika nama kita
dijadikan nama hewan piaraan (monyet/anjing). Gimana coba.
– Inspiratif berarti memberi kesan yang mendalam sehingga si anak
tergerak melakukan hal yang secara tersembunyi disisipkan si penulis.
Misalnya, di cerpen kita bercerita tentang profesi arkeolog. Si anak
yang semula nggak tau, akhirnya punya cita-cita jd arkeolog.
2. Penokohan
Untuk fiksi anak, jumlah tokoh jangan terlalu banyak. Mungkin kita
bisa batasi dengan 1-4 tokoh utama, dan 5 pendukung. Saya sempat
membaca cerita Sapta Siaga (Enid Blyton) dulu. Aduh, bingungnya
menghapal nama-nama si tokoh. Tokoh utama harus digambarkan dengan
jelas, meliputi fisik, karakter, termasuk lingkungannya.
Tak jarang juga, di fiksi anak dimunculkan sosok antagonis sebagai
pemikat cerita.

3. Alur
Bacaan yang mengasikkan adalah yang alur ceritanya mengalir. Untuk
mengalir, biasanya pengarang membangun peristiwa satu ke peristiwa
yang lain berkaitan hingga akhir cerita. Dalam alur, kita akan
menemukan pembukaan, konflik, klimaks, anti klimaks. Begitu
seterusnya. Saya sendiri ketika menulis fiksi anak (novel) lebih suka
yang memberi klimaks di setiap babnya. Itu sebabnya, selalu ada
multiplot di dalam novel saya, sehingga plot-plot kecil bisa
dituntaskan dalam setiap bab. Alur juga bisa dibuat mundur
(flashback) atau mau (foreshadowing). Bisa juga kombinasi keduanya
agar lebih memikat.

3. Setting
Latar atau setting fiksi anak barangkali hal yang paling luas di
dunia fiksi. Dengan imajinasi yang luas, fiksi anak nyaris tak
memberi batasan. Kita bisa membuat dongeng tentang kehidupan mahkluk
di bawah air terjun, dll. Selain latar tempat, latar waktu juga bisa
kita akali. Walau pada kenyataannya, fiksi anak Indonesia lebih
banyak menggunakan setting modern dan sekolah (faktor memikat dengan
kedekatan geologis dan waktu/aproximity).

4. Trik
Setiap penulis pada akhirnya harus memiliki style/gaya, mampu
memahami membuat trik bercerita, sehingga cerita dengan tema
sesederhana apa pun emnarik untuk dibaca. Dengan mencermati beberapa
karya penulis fiksi anak ternama (Enid, Wendo, Astrid, dll), kita
akan dengan mudah menemui triks mereka bercerita hingga bisa memikat.
Dus, dengan banyak melatih menulis, trik bercerita akan makin terasah
dan tertanam.

Keempat unsur di atas saling mengikat. Memilah-milahnya, atau
menganak emaskan salah satu unsur akan membuat fiksi anak yang kita
bangun jadi doyong/freak/anek.


Ada
yang termotivasi?salam,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: