KELUARGA PENGARANG

CIVIC CENTRE RUMAH DUNIA

Posted on: April 9, 2007

rumah-dunia7.jpgOleh Ibnu Adam Aviciena Tulisan ini saya buat sebagai kilas balik apa yang saya alami di Rumah Dunia selama kurang lebih tiga tahun dan bagaimana harapan saya terhadap Rumah Dunia ke depan. Kuliah dan SiGMA

Saya awali kisah ini dari perkenalan saya dengan Mas Gola Gong. Tahun 2001 saya masuk kuliah di STAIN Banten (sekarang IAIN Banten). Tahun pertama kuliah saya langsung masuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) SiGMA, sebuah UKM yang bergerak di bidang jurnalistik. SiGMA saat itu sudah punya tabloid, beberapa majalah dinding, buletin, dan radio. Saya lupa SiGMA didirikan pastinya tahun berapa. Tetapi saat saya masuk, SiGMA sudah berumur lebih dari 10 tahun. Untuk masuk SiGMA siapa saja harus menyerahkan sertifikat pelatihan jurnalistik. Bagi yang belum punya harus mengikuti pelatihan dulu. Sedangkan pelatihan jurnalistik sendiri, bagi SiGMA, merupakan agenda tahunan. Sebelum saya jadi orang SiGMA, saya sudah akrab dengan pengurus SiGMA. Kadang-kadang saya disuruh menuliskan hasil wawancara mereka. Kaset hasil wawancara saya putar sambil mengetikan apa yang saya dengar pada tape.Beberapa hari sebelum pelatihan jurnalistik, seorang pengurus SiGMA bilang ke saya dan teman-teman lain. Katanya yang akan menjadi pembicara untuk materi fiksi ialah Mas Gola Gong. Dia bilang Mas Gola Gong itu penulis terkenal. Tapi bagi saya justeru kebalikannya. Nama Mas Gola Gong baru saya dengar kali itu. Telinga saya lebih populer pada nama Mira W. Sebab novel dia banyak saya temui di perpustakaan Aliyah. Mas Gola Gong, novelnya yang mana sih?Tahun 2001 saya bertemu dengan Mas Gola Gong. Tahun itu pula saya bertemu dengan Mas Toto ST Radik pada acara yang sama. Tahun 2002 saya kembali bertemu dengan mereka masih pada pelatihan jurnalistik di UKM SiGMA. Saat itu saya sudah jadi pengurus. Saat Mas Gola Gong jadi pembicara saya jadi moderator. Saya masih ingat itu.Di akhir pelatihan Mas Gola Gong bilang. Kurang lebih katanya begini, “Kalau kalian pengen jadi penulis, pelatihan jurnalistik yang hanya tiga hari ini tidak akan cukup.” Kemudian dia menawarkan diri untuk memberi pelatihan seminggu sekali. Tidak apa-apa dibayar murah juga. Yang harus kami siapkan ialah peserta pelatihan dan ruangan. Saya dan seorang teman lainnya sudah mengabarkan tawaran ini. Pada rapat pertama kumpul sekitar sepuluh orang. Pada rapat kedua hanya ada satu dua orang saja. Tidak jadilah pelatihan bersama Mas Gola Gong. Sesuatu yang sangat saya sayangkan.  Sanggar Sastra Serang dan Rumah Dunia Entah berapa lama berselang sejak gagalnya pelatihan ruitin bersama Mas Gola Gong, teman saya di kampus Budi Buleneng mengabari saya bahwa Sanggar Sastra Serang (S3) membuka pendaftaran untuk umum. Yang diberitahu Budi tidak hanya saya, ada beberapa teman lain termasuk Najwa Fadia. Mas Toto ST Radik presiden S3 hanya menerima 30 peserta. Saya dengar masih kurang tiga. Maka segeralah saya malam-malam datang ke rumahnya bersama Ipank, senior saya di SiGMA. Saya dan dia daftar. Saya mengikuti pertemuan setiap Minggu sore, Ipank tidak pernah datang. Pertemuan demi pertemuan saya ikuti. Belajar puisi dan cerita pendek. Setiap pertemuan harus menyetorkan karya. Tidak wajib tetapi jika ingin berhasil harus sadar diri, kira-kira begitu. Diskusi demi diskusi terus dilakukan. Dan yang membuat kami tersenyum ialah tulisan kami muncul hampir tiap Sabtu di Harian Banten (sekarang Radar Banten) dan Fajar Banten bergiliran. Tetapi di lain pihak ini bisa dipahami bahwa Banten miskin penulis.Setelah lama berselang terdengar kabar Pustakaloka Rumah Dunia (PRD, sekarang Rumah Dunia saja) membuka kelas menulis seperti S3. Anak-anak yang ada di S3 hampir seluruhnya masuk. Kelas di S3 yang tadinya sore ditukar ke pagi. Sorenya kami pergi ke PRD. Habislah hari Minggu kami di S3 dan PRD untuk belajar menulis puisi, cerpen, esai, dan skenario film. Pagi-pagi saya, Budi Buleneng, Piter Tamba, dan beberapa mahasiswa IAIN berjalan bareng ke S3. Setelah duhur kami dan beberapa teman kami di S3 lainnya berjalan kaki ke PRD. Jarak yang kami habiskan sekitar dua kilo meter. Jalan yang paling kami sukai ialah rel kereta api. Sambil berdiskusi, bercanda, atau sekedar ngobrol ngaler-ngidul. Sering juga kami lomba kesetabilan berjalan di sebilah besi rel. Kenangan yang ternyata tidak hanya melekat di ingatan saya.Seperti di S3, di PRD juga harus nyetor tulisan kepada Mas Gola Gong. Kami juga pernah mau menggarap buletin. Tetapi tidak pernah jadi. Selalu saja ada kurangnya. Ada yang belum menyetorkan tulisan. Alasannya beginilah, begitulah. Tetapi Mas Gola Gong tidak pernah menuntut buletin itu agar segera selesai. Semampu kami saja. Ini adalah sebagian masa indah hidup saya, bertemu dengan Mas Toto ST Radik dan Mas Gola Gong, bertemu dengan kawan-kawan di S3 dan PRD. Secara emosional  saya merasa begitu dekat kepada mereka. Antara saya dengan mereka tidak hanya sekedar murid kepada guru, kawan kepada kawan. Kami merasa bergitu bersaudara. Sekarang misalkan, ingin tahu tentang apa yang terjadi dengan saya dan apa yang sedang saya rasakan, bisa ditanyakan kepada kawan-kawan saya di S3 dan Rumah Dunia. Mereka akan tahu. Begitu juga sebaliknya. Saya hampir tahu semua kedalaman kawan-kawan saya di Rumah Dunia. Waktu tidak saja kami habiskan untuk membaca, menulis, dan berdiskusi, melainkan kami pakai juga untuk mengobrolkan perempuan yang kami sukai. Sampai sekarang saya di Rumah Dunia sekitar tiga tahunan. Waktu yang cukup lama. Mas Gola Gong, Mbak Tias Tatanka, Nenek dan Aki, dan Mas Toto adalah orang-orang istimewa yang saya punya. Mereka begitu mencintai kami. Padahal darah kami tidak bersaudara.  Penutup: Civic CenterTulisan ini dibuat untuk edisi ulang tahun Rumah Dunia. Begitu pesan pemimpin redaksi situs, Mas Gola Gong. Tulisan paling panjang 4000 karakter. Kami harus menuliskan apa yang kami rasakan dan pikirkan tentang Rumah Dunia. Begitu banyak apa yang saya rasakan dan pikirkan. Begitu banyak pula yang ingin saya tuliskan. Tetapi ketika saya cek ternyata karakter tulisan ini sudah lebih dari 5000. Sampai subjudul ‘penutup’ saya buat, saya belum menyampaikan apa keinginan saya ke depan.Begini. Saya ingin bisa kuliah S2 dan S3 di Eropa, atau saya bekerja. Punya rumah dekat Rumah Dunia dan berkeluarga. Saya ingin Rumah Dunia punya penerbitan media massa dan penerbitan buku. Saya ingin Rumah Dunia menjadi pusat belajar. Di sini, di Rumah Dunia, gagasan diproduksi dan perubahan dijalankan. Orang yang datang ke Rumah Dunia menjadi begitu bahagia. Ia menjadi seumpana oasis. Saya ingin Rumah Dunia menjadi civic centre. Ya, panjang lebar  saya bicara sesungguhnya ingin mengatakan bahwa Rumah Dunia harus jadi civic centre. Sampai saat ini memang masih banyak hal yang harus dilakukan pengurusnya. Mas Gola Gong sering kali bilang bahwa dia ingin segera melepas Rumah Dunia. Dia juga bilang seharusnya Mbak Tias jangan jadi ketua. Jadi penasihat saja. Tapi memang belum ada yang sanggup. Pikiran saya masih digelayuti: masa depan saya bagaimana nih? Saya juga merasa tidak enak menumpang di Rumah Dunia terlalu lama. Rasanya saya ini menjadi beban keluarga orang saja. Menanggapi pernyataan Mas Toto dan Mas Gong tentang ide kegiatan yang belum lahir dari kami. Kami terima itu. Kami baru sanggup mengerjakan pekerjaan yang menumpuk. Dan seharusnya yang lebih pantas menjawab pertanyaan itu ialah bagian program. Rumah Dunia punya bagian program. Penanggungjawabnya Firman Venayaksa. Dia bilang dia belum bisa fokus sebelum lulus kuliah dan jadi dosen di Untirta. Ya begitulah. Nikmati apa yang ada sambil terus meningkatkan kualitas diri sebisa mungkin.** 

*) Rumah Dunia, 14 Maret 2006, 09:37AM

*) Penulis sejak Maret 2007 kuliah S2; Islam Studies di Leiden, Belanda 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: