KELUARGA PENGARANG

BERCERMINLAH! MAKA KAU AKAN TAHU KELEBIHAN DAN KEKURANGANMU!

Posted on: April 9, 2007

gg_2.jpgOleh Gola Gong 

Setiap bercermin, pada saat itulah aku baru merasakan, bahwa ada yang berbeda di tubuh aku! Aku tidak sempurna. Tanganku hanya satu! Padahal kata para wanita, aku memiliki senyum yang meluluhkan hati. Apalagi tatapan mata aku yang seperti elang! Aha! Itu masa lalu!

 Sekarang aku sudah mendapatkan istri yang solehah dan ketiga anak yang lucu-lucu dan satu lagi masih bersemayam di rahim istriku. Tapi, tetang cermin itu, selalu saja membuat aku instropeksi; memperbaiki diri terus menerus. Aku tidak ingin jadi manusia takabur dan besar kepala! Ya, karena pada saat bercermin itulah, aku jadi bisa melihat kekurangan dan kelebihan tubuhku! Aku jadi menyukai cermin, jika ingin menilai diriku sendiri.            UNGGULTangan kiri aku diamputasi sebatas sikut pada saat usia 11 tahun. Sekitar Oktober tahun 1973. Cerita detail tentang tangan kiriku, kalian harus membaca “Menggenggam Dunia: Bukuku Hatiku” (diterbitkan Dar!Mizan, Maret 2005), yang akan dimuat bersambung di majalah “Matabaca” sejak November nanti. Saat bercermin itulah, aku selalu diingatkan bahwa aku bertangan satu! “Jagalah dirimu baik-baik, terutama prilakumu!” Begitu hatiku berkata.   Tapi, itu bukan berarti kamu harus merasa rendah diri. Saya selalu ingat omongan Emak, “Berendah hatilah, tapi jangan berendah diri!” Bapak menambahi, “Tak ada gunanya hidup, jika kamu merasa rendah di mata orang lain! Dengan selalu tanganmu berada di atas, kamu akan merasa berguna jadi manusia! Bermartabat!” Aku coba memaknai setiap kalimat-kalimat dari Emak dan Bapak. Itu sangat sakti dan mempengaruhi jalan pikiranku. 

Ya, aku berbeda dari yang lain. Tapi, kenapa pula dengan berbeda harus menjadikan aku tidak percaya diri?  Kata Bapak, “Ada satu cara agar orang-orang lupa, bahwa kamu bertangan satu. Yaitu dengan cara membaca buku. Isi otakmu sebanyak-banyaknya dengan informasi. Dan kamu akan jadi manusia unggul di antara teman-temanmu!” Juga, “Kamu harus menjadi ‘seseorang’. Berprestasilah! Tubuhmu yang sehat dan otak yang tak pernah berhenti berpikir, adalah modal besar untuk menjadikanmu unggul!” Ya, “prestasi” adalah kata yang sakti. Aku bertangan satu, pada akhirnya itu aku anggap seperi hanya kehilangan beberapa kilo daging saja. Selebihnya, tubuh dan jiwaku sehat! Dan aku membukitkannya. Di sekolah, walaupun aku bertangan satu, selalu unggul di antra teman-teman. Sejak di kelas 1 SMP, aku sudah jadi bintang pelajar di kelas. Bahkan aku jadi team sekolah untuk olah raga badminton jika ada PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni). Aku ranking kedua se-Banten di cabang badminton untuk tingkat yunior (SMP/SMA). Bahkan aku masuk 16 besar di Jawa Barat (1981). Juga sebagai team kampus UNPAD kalau ada pertandingan antar kampus (pemain pertama). Itu semua berkompetisi dengan para atlet yang non cacat. 

DOKTER CINTAMaka, ketika pada suatu hari, di tahun 1981, ada teman sekelasku yang mendatangi mejaku. “Rie, tolong bikinkan surat cinta!” Aku menerimanya. Itu karena aku unggul di antara teman-temanku dalam mengolah kata menjadi sajak. Itu karena aku pembaca buku. Itu karena aku selalu menulis puisi. Itu karena tulisanku pernah muncul di HAI. Aku termasuk siswa unggul di SMAN 1 Serang. Kualitasku sebagai siswa berbeda-beda; sebagai atlet bulutangkis juga sebagai “pabrik kata-kata”. Maka jadilah aku tokoh yang sering menulis surat cinta seperti di dalam tokoh novel “Roman Picisan” karya Edi D. Iskandar. Aku disebut “dokter cinta” waktu itu. Banyak teman-teman di sekolahku, yang diterima cinta (monyet)nya setelah mengirimkan surat hasil imajinasiku. Bayarannya, semangkuk bakso dan sebungkus rokok!  “Rie! Aku jatuh cinta! Ini foto ceweknya! Yang bagus suratnya, ya!” di hari lain ada yang mengorder surat cinta. Biasanya aku minta persekot dulu. Itu penting. Aku tidak mau setelah “surat cinta” selesai kubuat, dia mangkir tidak membayar. 

Biasanya lewat foto si ceweklah, aku bisa berimajinasi mengumpulkan kata-kata. Kalau cewek yang ditaksir temanku itu satu sekolah denganku, akan lebih mudah membuatnya. Kalau beda sekolah, tentu aku harus mewawancari dulu si cowoknya. Kapan bertemunya, apa yang paling disukai dia pada diri si cewek, tanggal lahirnya kapan dan dimana, hobinya apa, dan sebanyak informasi apa saja yang aku butuhkan. Ketika surat cinta selesai kubuat dengan mesin ketik, aku menyarankan pada si pemesan agar menyalin ke dalam tulisan tangannya.  “Supaya terasa emosinya dan romantis. Terutama, supaya si cewek percaya bahwa itu surat buatan kamu!” kataku. 

Beberapa bulan berlalu.  Aku terus menulis surat cinta. Tapi, aku menghentikan profesi “dokter cinta” pada saat seorang cewek berdiri di depan mejaku sambil menyodorkan “surat cinta” buatan tanganku. “Ini sebetulnya surat dari siapa? Dari dia atau dari kamu? Kenapa tertandanya nama kamu?” 

Setelah aku baca, astaghfirullah, aku mencantumkan nama sendiri. Dan teman cowokku itu teledornya keterlaluan. Langsung main tandatangan dan mengirimkan surat itu tanpa mengeceknya dengan teliti. Padahal aku sudah menyuruh untuk menyalin ke tulisan tangannya.  “Dibayar berapa kamu oleh dia untuk menulis surat gombal ini?” 

Wajahku langsung memerah. Aku meminta maaf dan sejak itu langsung “gantung pena”! Reputasiku sebagai “dokter cinta” berantakan. Ternyata “side job”ku yang suka menulis surat cinta terbongkar.  Selain menulis surat cinta, sering aku dimintai pendapat oleh teman-teman, jika mereka mempunyai masalah. Mulai dari masalah komunikasi dengan orang tua, pacar, teman, atau lingkungan. Ada beberapa teman yang penyendiri jadi sahabatku. Aku menikmatinya dan menyimpannya dalam buku harian. Kelak, keluhan-keluhan teman-teman sekolahku jadi sumber ide yang tak pernah habis jika aku hendak menulis novel. Kepada mereka yan punya masalah sering aku katakan, “Tuhan tidak akan pernah menciptakan beban tanpa menciptakan pundaknya.”   

Pernah di hari lain, ada teman sekolahku yang datang kepadaku, “Rie, aku jatuh cinta pada seorang cewek. Bagimana, caranya? Aku minder! Nggak pe de!” Aku selalu mencontohkan diri aku yang hanya bertangan satu. Aku selalu bilang, “Percayalah, jika cintamu tulus, pasti diterima. Lihat, aku! Tanganku satu! Kamu, dua! Apalagi yang kamu risaukan? Ayo, Kawan! Masak kalah dengan aku!” Begitulah selalu aku memprovokasi “pasien-pasien”ku. Dan alhamdulillah, “resep”ku selalu berhasil memotivasi mereka. CINTA Semua orang- aku yakini – akan mengalami cinta pertama. Aku atau kita akan sepakat menyebutnya dengan “cinta monyet”. Tapi aku lebih suka menyebutnya dengan “cinta sekolahan”. Istri aku, Tias Tatanka, juga mengalami hal yang sama. Kata Tias, “Hati aku selalu deg-degan jika bertemu dengan dia!” Itu dialami oleh Tias saat SD. Setiap berangkat ke sekolah di Solo, Tias bersepeda dengan teman-temannya. Di persimpangan, cowok itu bergabung dengan rombongannya. Jadilah hati istriku itu berdesir-desir sepanjang perjalanan ke sekolah.Lalu “cinta sekolahan” aku sendiri? Itu terjadi di SMPN 2 Serang (sekitar 1978). Aku kelas dua. Dia berbeda kelas dan pindahan dari Bandung. Banyak teman sekelasku yang mencoba merebut perhatian darinya. Setiap aku bertemu dengan dia, hatiku tidak karuan. Aku merasa, dia juga tetarik padaku. Ya, itu tadi, kami hanya bisa saling tatap-tatapan, saling senyum.  

Di rumahku, Emak dan Bapak selalu menanamkan sistim dialogis didalam keluarga. Antara anak dan orangtua bisa sejajaar sbagai sesama sahabat. Meja makan bisa dijadikan tempat dan waktu untuk berdiskusi. Mereka selalu mensupport anak-anaknya jika sedang ada masalah. Mereka juga selalu memberikan solusi terbaik bagi anak-anaknya, agar terus termotivasi untuk maju. Ketika aku merasakan “cinta sekolahan” itu, Emak dan Bapak jadi tempatku bersandar. Apa itu cinta? Kenapa aku berjerawat? Kenapa aku selalu deg-degan dan perasaanku tidak keruan jika bertemu dengan dia? Jawab Emak, “Itulah yang dinamakan ‘cinta’. Dia bisa membuat hati kita seperti bunga, tapi juga bisa menghancurkan seperti racun.” 

Aku coba memaknai kalimat yang Emak lontarkan. Aku mendapat jawabannya lagi, bahwa aku tak boleh tenggelam oleh cinta. Jangan jadi hanyut oleh cinta. Kalau dalam syair lagu dang dut yang sedang beken saat itu: Aku merana karena cinta, cinta yang membawaku mati…. Pendek kata, jangan banyak berkhayal yang tidak-tidak dengan cinta. Realistis sajalah. Datang dan bercakap-cakaplah dengan dia, gadis pujaan itu. Katakan padanya “I love you.” Jika dipendam terus, juga bisa bahaya. Jerawat bermunculan Atau kirimi dia sajak cinta…  Kalau ditolak, jangan berputus asa. Tak ada gunanya. Hidup masih panjang. Percayalah, rezeki, jodoh, dan mati itu di tangan Allah. Jika cinta kita ditolak, bukan berarti kiamat. Bukan berarti tak akan ada jodoh bagi kita. Kalau cinta kita diterima, bergembiralah karena cinta! Berbahagialah karena cinta. Allah menciptakan rasa “cinta” itu, agar orang saling menyayangi. Bukan untuk saling membenci. Dan ingat, pandai-pandailah mengatur cinta. Kalau tidak, bisa celaka juga. Cinta di tangan itu ibarat racun. Jika tak mampu mengendalikannya, maka cinta akan membunuh kita. Terbukti, banyak remaja zaman sekarang yang tak mampu mengendalikan cinta, sehingga masa muda yang indah berantakan. Pernikahan Dini, seperti kata sebuah sinetron. Hamil diluar nikah jadi hal biasa. Maukah kita seperti itu? 

SEMANGATAku kembali akan bercerita tentang “cinta sekolahan”ku. Tentang dia, yang pernah membuatku deg-degan. Ada beberapa kali moment yang membuatku seperti terbang ke angkasa. Jika dia datang ke mejaku dan tersenyum tiba-tiba, jantungku seperti mau copot. “Ada apa?’ tanyaku gugup waktu itu. 

“Pekerjaan rumahnya sudah selesai, belum? Ada beberapa soal yang nggak bisa aku jawab.”  “Oh, ya?” Dan aku dengan penuh semangat mengeluarkan buku PR dari tas. “Silahkan, silahkan! Nomor berapa yang tidak bisa kamu jawab!” 

Atau di hari lain. Entah “setan” mana, yang membuat dia nekat datang ke rumahku. Halaman depan rumahku cukup luas. Aku yang terobsesi dengan “Tom Sawyer”, sering memanfaatkan areal halaman depan rumahku yang banyak ditumbuhi pohon; pisang, nangka, jambu batu, dan johar, untuk “berpetualang”. Pada sore hari, aku sedang bermain di halaman rumahku; naik pohon, bergelayutan, bergulingan, bermain kuda-kudaan di atas batang pisang yang tumbang….  Tiba-tiba saja Emak mengingatkanku, “Heri.., itu… ada temanmu….”  

Aku baru sadar kalau ternyata yang bertamu adalah dia. Aku panas dingin. Aku bingung. Tubuhku kotor. Belepotan lumpur. Topi dari daun nangka bertengger di kepalaku. Dia tertawa. Ternyata dia hanya ingin minta minum. Dia baru saja dari, ikut kegiatan esktrakurikluer. Rumahku memang persis di belakang sekolah kami. Peristiwa lain, ini yang mematahkan semangatku. Saat liburan sekolah. Ada pertandingan badminton antar sekolah (Porseni) se-Serang. Aku pemain tunggal pertama di team B. Gedung olah raga di alun-alun Serang penuh. Aku satu-satunya pemain badminton bertangan satu. Dan itu bukan pertandingan pertamaku. Tapi aku ingin dia datang menonton dan melihat kehebatanku menyabetkan “pedang” ke bulu angsa, membuat lawan-lawanku tak berkutik. Tapi, dia tak ada di tribun penonton. Aku kecewa. Aku tak bersemangat bertanding. Aku kalah. Timku tersingkir. Aku kecewa. Aku pergi berlibur ke Purwakarta.  

Setelah sekolah masuk, dia meminta maaf padaku, karena tidak bisa hadir dipertandingan. “Aku sering mendengar cerita dari orang, bahwa kamu jago main badminton. Tapi, aku harus ikut orangtua pulang ke Bandung. Sayang ya, aku tidak melihat kamu bertanding. Tidak ada kesempatran lagi, karena PORSENI tahun depan, kita sudah lulus. Dan aku akan meneruskan SMA di Bandung.” Runtuhlah harapanku. Tahun depan dia akan sekolah di Bandung. Aku harus menerima kenyataan, bahwa kadangkala kita tidak akan pernah mendapatkan apa yang kadang kita inginkan. You can’t always get what you want… Itu lagu kesukaanku waktu, dari Mick Jagger, penyanyi legendaris The Rolling Stones. Tak beda dengan pepatah orang tua, bahwa manusia hanya bisa berencana, tapi Allah yang menentukan. 

Kehadiran dia di mataku, selalu aku anggap sebagai penambah semangat hidupku. Memotivasiku agar hidup ini diisi dengan hal-hal baik. Aku terpacu untuk terus maju. Efek “cinta sekolahan” memang dahsat. Itu membuatku berada di arena kompetisi yang keras! Aku selalu ingin keluar jadi pemenang! Betul kata Bapak, “Dengan jadi manusia unggul, orang akan lupa bahwa kamu berlengan satu!” HATI-HATIAku paling suka membaca puisi-puisi Kahlil Gibran yang bertemakan cinta. Dari sana aku melihat, cinta memang dahsat. Kita harus hati-hati dengan “cinta”. Jika kita mengartikan “cinta” sama dengan “phisik” belaka, kita akan terjerumus ke dalamnya. Tapi jika kita memaknai bahwa “cinta” adalah bagian terpenting dari “kasih sayang”, kita akan selamat.  

Dengan mantan pacarku, Tias Tatanka, aku tidak mengalami masa-masa pacaran. Saat bertemu dengannya di tahun 1989, aku hanya berkata padanya, “Jika datang masanya, aku akan melamarmu.” Bahkan aku menuliskan sebuah sajak cinta di halaman pertama novel “Bala Si Roy” yang aku hadiahkan padanya (sebetulnya itu adalah mas kawin pertamaku, semacam  tanda jadilah!) dengan beberapa baris sajak:  jangan biarkan rindu menggeloracukup pelihara sajaabadi di hati. 

Lewat beberapa sajaknya, Tias sebetulnya menjawab cintaku. Baca saja sajaknya di bawah ini, yang ditulis Tias pada 1989: Kenapa tak pernah kau tambatkanPerahumu di satu dermaga?Padahal kulihat, bukan hanya satu pelabuhan tenangYang mau menerima kehadiran kapalmu! 

Kalau dulu memang pernah adaSatu pelabuhan kecil, yang kemudian harus kau lupakanMengapa tak kau cari pelabuhan lainYang akan memberikan rasa damai yang lebih? Seandainya kau mauBuka tirai sanubarimu, dnsa kau akan thuPelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanyaHingga pelabuhan itu jadi rumahmuRumah dan pelabuhan hatimu. 

Ketika membaca sajaknya, aku merasa yakin itu ditujukan padaku. Ge-er, ya! Aku tahu, dia menyediakan dirinya untuk kujadikan tempat berlabuh jika aku sedang lelah menembara. Pada 1996, saat ulang tahun Tias, aku datang melamarnya. Aku katakan, “Jika kau jadi istriku, kau harus berani!” Dan dia menjawab, “Aku merasa berani, jika bersuamikan kamu!” Lalu Tias menghadiahi aku sebuah sajak. Lewat sajaknya yang ditulis pada 28 Agustus 1996, aku terinspirasi membuat tempat tinggal seperti yang ditulisnya. Bacalah: 

Aku taburkan rumput di halaman belakangdi antara pohon lengkeng dan manggasudah tumbuhkah bunganya?Aku ingin menaburkan sajak di jalan setapakmenuju panggung kecil di sudut rumahdi seberang istana merpati yang tak pernah terkurungkarena aku dan kamu selalu ingin melayang jauhmelihat angkasa dan bintang-bintangdari atap rumah kita Aku akan ceritakan kelakpada anak-anak tentang matahari, bulan, laut,gunung, pelangi, sawah, bau embun, dan tanahAku ajari anak-anak mengerti hijau rumputwarna bunga dan suara. 

Jika kalian pernah datang ke rumahku, beberapa baris di sajaknya, aku coba wujudkan. Rumput di halaman belakang tumbuh subur. Pohon Lengkeng terus menggeliat, dan Mangga kini sudah berbuah dan dipanen. Panggung kecil aku bangun untuk anak-anak berekspresi. Sajak-sajak berlompatan dari mulut anak-anak didiknya di Rumah Dunia. Beberapa burung Merpati berterbangan. Setiap pagi mematuki jagung atau beras yang kami sebarkan di tanah. Burung-burung pun ramai berkicau. Dari atap balkon rumah, aku, Tias, dan kedua anak kami — Bella dan Abi — dengan leluasa tidur-tiduran di balkon lantai dua rumah kami; menatap taburan bintang dan purnama! Kedua anak kami betul-betul tidak hanya mengkhayalkan saja untuk bisa melihat pelangi, sawah, embun, dan gunung. Mereka bisa meniikmati semuanya di rumah kami; Rumah Dunia. Itu semua karena sucinya cinta. Karena betapa cintanya aku pada Tias. Begitulah cinta. Jika kita tidak ingin dipermainkan oleh cinta, maka kau bercerminlah. Di sana kau akan bisa mengukur, apakah kau layak mendapatkan cinta dari lawan jenis kita. Saat aku bercermin, aku merasa yakin, bahwa aku layak mendapatkan Tias. Jika sudah begitu, mintalah pada Allah: jika dia baik untukku, dekatkan dia, ya Allah! Jika tidak, jauhkan! Percayalah, Allah akan menolong dengan cara-Nya! Mau bukti? Aku mendapatkan Tias! 

*** *) Tulisan ini disertakan dalam buku “Jika Penulis Jatuh Cinta”, terbitan Lingkar Pena Publishing House, 2005. 

1 Response to "BERCERMINLAH! MAKA KAU AKAN TAHU KELEBIHAN DAN KEKURANGANMU!"

terima kasih sudah silaturahmi ke blog saya hari ini
tulisannya menggugah hati saya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: