KELUARGA PENGARANG

BERBAGI, PROYEK 3/3, DAN BERBAHAGIA

Posted on: April 9, 2007

dindik1.jpgOleh Langlang Randhawa

Edisi 23 Maret 2007, Radar Banten

“Ya Allah, mudahkan rizki para donator yang selama ini membantu Rumah Dunia. Semoga segala amal perbuatannya selalu dalam ridho Allah. Amin…”Sepenggal do’a itu terdengar menggema di depan panggung utama Rumah Dunia (RD). Nek Atisah, Orangtua Gola Gong sekaligus Penasehat dan

PJ Infak Sedekah RD

, memimpin do’a di depan anak-anak yatim yang nampak khusyuk mengiringinya dengan suara lirih.  

SANTUNANSenin (19/3), sejak pagi kursi-kursi sudah dijejerkan. Menjelang pukul 9.00 satu persatu putra-putri belia yang berasal dari perkampungan sekitar RD masuk dan menduduki kursi itu. Nampak mereka terlihat rapih dengan busana muslimnya yang sudah sedikit lusuh. Jumlah mereka kurang lebih 30 anak. Nek Atisah dan relawan telah menyiapkan kardus berisi makanan ringan. Satu persatu mereka dipanggil untuk menerima bingkisan dan santunan. Wajah-wajah polos itu berseri-seri. Semuanya bahagia. Rasa berbagi sangat kental terasa di sini. “Alhamdulillah, Rumah Dunia, dititipi amanat dari seseorang untuk membagikan santunan uang sebesar 1 juta rupiah. Namanya Ibu Entik Rosita dari DKM Al-Muhajirin
Bandung, dan Ibu Cucu Djoko Munandar,” ungkap Nek dalam sambutannya.
Hari itu bukan pertama kalinya RD membagi-bagikan santunan kepada kaum dhuafa. Sebelumnya, banyak donatur membantu anak-anak RD terutama untuk biaya pendidikan. Sebut saja Alimin (18), remaja yang ditinggal Bapaknya sejak kecil itu kini sudah kelas 3 di SMA PGRI Serang. Biaya pendidikannya perbulan ditanggung oleh Nek Atisah. Menjelang ujian yang memakan banyak biaya, semua administrasinya dibiayai oleh Ibu Cucu Joko Munandar. Selain itu, setiap Jum’at pagi, anak-anak yatim yang biasanya mendapatkan santunan dari Nek sekedar untuk jajan di sekolah, kini ditanggung sepenuhnya oleh Ibu Parlan dari komplek Hegar Alam.

Di RD

siapapun boleh berbagi. Masih banyak saudara-saudara kita yang terseok-seok untuk melanjutkan pendidikannya. Mari kita berbagi! Mari kita berbahagia! 

NGALIWET            Tak lama setelah acara selesai, Ayuni,

PJ Perpustakaan RD

dan staf TK Jendral Kecil yang kini menetap di RD, menyiapkan beras dan mencucinya. Teh Tulha, yang sehari-hari membantu pekerjaan rumah tangga Gola Gong dan Istri, sudah mengangkut bahan bumbu-bumbu. Awi dan Deden bersudara nampak kompak menyalakan api. Sementara Roy dan Rimba sigap membuat penusuk ikan. Sebentar lagi acara ngaliwet dan bakar ikan dimulai.
Ada yang kurang saat itu. Ibnu dan Aji tidak ada. Ibnu baru saja berangkat ke Belanda. Sementara Aji, katanya masih ada urusan di hunian barunya dan akan datang sedikit terlambat. Namun suasana saat lebih ramai, pasalnya Tias Tatanka dan keempat anaknya juga urun rembug. Selain itu Kang Gosal dan putra-putrinya juga ikut meriuhkan suasana.
            Di sela-sela menyantap nasi liwet yang dihamparkan di atas daun pisang memanjang, terdengar suara deru mobil dari luar. Beberapa anak tiba-tiba masuk dan berlari sambil tertawa terkekeh-kekeh. Mereka langsung bermain out bond. Tak begitu lama, para orangtua mereka masuk. Kami pun saling menyapa.  Setelah selesai makan, relawan langsung menghampiri. Orolan pun terjadi. Asep (29), salah satu dari mereka yang juga pembaca Balada Si Roy karya Gola Gong, bersedia membantu tambahan koleksi buku RD. Pria asal Bandung yang menetap di Cilegon itu akan minta bantuan suadaranya yang bekerja sebagai Pengelola Perpustakaan di Istana Kenegaraan, agar menyumbangkan buku-bukunya untuk RD. Entah siapa dan dari mana, RD selalu saja didatangi orang-orang yang juga ingin berbahagia dengan saling berbagi. Dengan berbagi, kita tak akan pernah miskin. Begitulah Nasihat Nek Atisah pada kami. 
AGENDASetelah sempat molor beberapa bulan, kini proyek 3/3 akan kembali digelar. Acara yang rutin dilaksanakan setiap triwulan dengan menghadirkan tiga penyair atau cerpenis Banten itu, kali ini mengangkat tiga cerpen karya penulis perempuan Banten: Ayu Pangestu (Tangerang), Rayyina Fikira (Serang), dan Asri Surtayati (Cilegon). Proyek yang akan digelar pada Sabtu (24/3) pukul 14.00 itu, akan menghadirkan Arif Sanjaya, Dosen Fakultas Sastra Untirta Serang, sebagai pembicara dan dimoderatori oleh Piter Tamba. Di sini kita juga akan berbagi. Tentunya barbagi ilmu lewat diskusi.Selain itu, ada kabar gembira dari Abdul Malik, Penasehat RD sekaligus Litbang Radar Banten, pada Rabu (21/3) Istri terkasihnya baru saja melahirkan buah hatinya yang kedua. Selamat, Kang! Dan kita pun ikut berbahagia di sini.*** (Penulis, Langlang Randhawa, Mahasiswa semesetar akhir IAIN Banten, Sekertaris Rumah Dunia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,650 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: