KELUARGA PENGARANG

BELAJARLAH DARI ULAT

Posted on: April 9, 2007

bela-abi.jpgOleh Tias TatankaDua tahun lebih Rumah Dunia (RD) bergulir, menelurkan sekian banyak nama, karya dan pengakuan. Perguliran itu juga melibatkan deretan nama volunteer yang tak terhitung jasanya. Jejak mereka adalah jejak dan sejarah RD. Yang namanya volunteer, sukarelawan, tentu tak punya visi money oriented. Tapi juga bukan seorang yang hanya bekerja untuk orang lain tanpa punya makna dan karya bagi dirinya sendiri.

Di RD

, kami berharap para volunteer itu bermetamorfosa dengan sendirinya. Mereka datang, melihat, belajar, berkarya dan -diharapkan- berhasil dalam bidangnya. Merekalah para ulat, yang tak jemu berproses menjadi kupu-kupu.

Di RD

, semua harus bergerak, pikiran, hati, tangan dan kaki, menemukan hal-hal baru yang memperkaya pundi-pundi ilmu. Jika para sukarelawan itu memahami artikel ini, tentu wajar, karena mereka rata-rata mahasiswa. Tetapi jika pemahaman metamorfosis ini disodorkan kepada anak-anak RD, tidak akan mudah meminta jawaban mereka. Banyak penyebabnya, ketidaktahuan, ketidakmauan, ketidakberanian, dan banyak lagi ketidakan untuk menjawab. Bahkan –celakanya- ada pula ketidakpedulian untuk mengetahui permasalahan. Bagi mereka, anak-anak itu, fenomena sekitar hanyalah sekedar kejadian. Usai dibicarakan, lenyap tak berbekas (baca: tak terdokumentasikan dalam karya). Sejak awal RD peduli pada mereka –anak-anak- yang cenderung tertinggal dalam pengetahuan dan persaingan positif. Mereka terus-menerus “dicekoki” dengan pandangan hidup ini indah, maka berartilah! Hari-hari yang mereka lalui di RD adalah penuh makna, sekalipun hanya bermain. Suasana, sarana prasarana, perhatian volunteer melengkapi hari-hari mereka.Setiap berkegiatan, saya melihat kehausan pada anak-anak itu yang kini tak mungkin saya dan Mas GG tangani sendiri. Beberapa volunteer yang sudah bersedia menggawangi jadwal rutin RD adalah Ibnu Adam Aviciena, Muhzen Den, Aji Setiakarya, Rimba Alangalang, RG Kedungkaban, dan Wangsa Nestapa. Mereka akan menghadapi periode seperti di awal RD bergerak, tentu dengan anak-anak yang berbeda. Dulu saya dan Mas GG harus menghadapi dari nol, karena minimnya informasi RD yang terserap oleh anak-anak itu. Kini, mereka telah mengenal kegiatan RD, tetapi belum terlibat aktif.Saya bersyukur telah mengantongi nama-nama anak RD generasi pertama yang boleh dikatakan siap training. Mereka tak lebih dari 5% generasi pertama, jumlah yang amat sedikit bila dibandingkan dengan total anggota kelompok usia anak-anak yang mencapai 400 orang. Tak apa, minimal saya telah memprediksi hal itu jauh-jauh hari, hingga tak menjadi masalah buat kami.Tapi tak urung mental mereka yang telah terpilih itu masih perlu diasah lagi. Salah satunya, menghadapi sebuah proses.  Untuk mencapai tujuan tertentu haruslah melewati berbagai tahapan yang sering kita sebut dengan berproses, sehingga tidak muncul generasi instan. Hal inilah yang kadangkala masih sulit diterima oleh mereka. Keinginan mereka umumnya ingin segera mencapai hasil yang memuaskan tanpa perlu kerja keras. Itu harus diubah!Memang perlu waktu, entah sampai kapan. Saya pribadi punya keinginan kelak anak-anak itu dapat menjadi important person. Meski kenyataannya, mereka ketinggalan satu generasi untuk memulai langkah, dibanding dengan anak-anak dari sekolah favorit atau di luar kampung tempat tinggal mereka, Ciloang. Tapi tidak ada kata terlambat untuk belajar. Sejauh ini RD telah mencapai tahap awal: mengantarkan anak-anak menyukai dan memerlukan bacaan. Tugas berikutnya mengawal mereka melewati proses berkarya yang tak pernah putus, hingga setelah merasa perlu membaca, mereka juga memerlukan untuk menuliskan buah pikirannya.Jadi, siapa yang tak ingin sia-sia di RD, belajarlah dari ulat, untuk menjadi kupu-kupu. 

*** 

 

 

1 Response to "BELAJARLAH DARI ULAT"

bahagia saya pernah merasakan kebersamaan di RD

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: