KELUARGA PENGARANG

ANAK-ANAK MASA DEPAN

Posted on: April 9, 2007

116_1678.jpgOleh: Tias Tatanka*) 

Jika kita amati berita-berita di surat kabar –terutama koran merah- banyak terjadi tindak kriminal yang melibatkan atau berakibat pada anak-anak. Mulai dari bayi yang dibuang sampai kasus trafficking, yang membuat batin trenyuh.  

Bagaimana tidak, orok yang belum juga lepas dari ari-arinya, harus teronggok di tempat sampah, menanggung dosa orang tuanya! Entah beruntung atau tidak bagi yang usianya lebih besar, tetapi diperjualbelikan sampai ke luar negeri, hanya karena alasan ekonomi. Atau anak yang diculik, raib tak berjejak. Dan tengoklah gadis-gadis kecil yang harus menjadi pelacur cilik dengan berbagai alasan tak masuk akal. Atau lelaki-lelaki  kecil mengamen kesana-kemari yang sering menjadi korban sodomi.  

Mungkin kita yang berada di kotak apartemen mewah, rumah-rumah elit, dapat mengerutkan kening dan menghujat, bagaimana mungkin itu terjadi? Di mana tanggung jawab orang tuanya? 

ANAK – MATERI – MASA DEPANBagaimana mereka akan melangkah kelak? Masihkah ada harapan untuk hari esok yang lebih baik?  

Beberapa anak yang saya tanyai harapan mereka di masa depan rata-rata menginginkan dapat bersekolah tanpa harus ikut memikirkan biayanya. Ketika mereka dihadapkan pada kemampuan finansial orang tuanya, kebanyakan anak-anak itu tak keberatan membantu mencari nafkah. Tapi, mereka juga ingin kelangsungan biaya sekolahnya terjamin.  

Masa depan adalah teka-teki tak berujung yang hanya akan terjawab bila kita telah menjalaninya. Pun bagi anak-anak itu, mereka berhak atas jalan hidupnya sendiri. Orang tua, seyogyanya menunjukkan berbagai jalan, dan membiarkan mereka memilih seusai dengan kemampuan dan keinginan sang anak. Plus menyediakan segala sesuatu sebagai bekal sang anak menempuh jalannya. Ilmu, iman, rasa percaya diri dan seabreg lainnya.                                                                                                                                                  Bagi sebagian kalangan yang sudah mapan sosio-ekonomi, tak rumit untuk menyediakan hal-hal yang menjadi kebutuhan anak. Tetapi bagaimana dengan mereka yang kondisinya memprihatinkan? Jangankan memikirkan masa depan, untuk makan hari itu saja mereka harus bekerja keras. Hari esok, bagaimana besok! 

Masa depan memang membutuhkan pemikiran panjang dan segala sesuatu yang berbau materi. Jika untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah, persoalan materi ini jadi kendala utama, apakah tidak memungkinkan bagi mereka yang berkecukupan untuk melakukan subsidi silang?  

Misalnya satu rumah tangga elit membiayai seorang anak jalanan, hingga lulus SMA. Atau dikursuskan saja, agar memiliki keterampilan yang membuat mereka lebih bersaing dalam menjalani hari-hari selanjutnya.  

Rumit ya? Ini memang membutuhkan rencana dan perhitungan panjang, juga birokrasi berliku. Tapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan. Jadi, bagaimana solusinya menurut anda? 

FITRAH ORANG TUASekali menjadi orang tua, tanggung jawab harus dipikul seumur hidup. Memberi makan, pakaian dan tempat tinggal, adalah hal pokok yang diikuti dengan berbagai kewajiban mempersiapkan anak menghadapi hari esok. Tak mudah memang, menjadi orang tua, sebagaimana tak enaknya menjadi anak, harus menurut perintah. 

Anak bukanlah robot yang hanya menerima perintah. Tapi mereka juga bukan makhluk yang bebas berkeliaran tanpa diikat aturan dan tata krama. Mereka berhak atas masa-masa indah menjadi kanak-kanak, dengan tingkah laku khas yang kadang menyebalkan bagi orang dewasa.  

Kepolosan dan kelucuan kanak-kanak seharusnya menjadi hiburan bagi orang tuanya. Kenakalan merupakan salah satu cara untuk menguji coba ego dan kreatifitas, yang seringkali tak dimengerti mereka yang telah melampaui masa kanak-kanak. Kecerobohan bukanlah kesalahan yang mutlak mereka punya, karena sinergi otot motorik yang belum stabil.  

Lalu, apakah tak ada hak orang tua untuk menyalahkan mereka? Sebenarnya kita tak berhak memarahi kanak-kanak, tapi wajib memberi pengertian. Sedikit pressure mungkin diperlukan, tetapi tidak untuk tindak penyiksaan. Banyak hal yang belum mereka mengerti, mau tak mau harus dipelajari. Siapa yang menjadi guru, tak lain orang tua sendiri. Masa depan anak, tergantung bagaimana pola orang tua mendidik dan mengajar. Bergantung pula pada limpahan kasih sayang dan dukungan yang akan membentuk kepribadian positif agar tangguh menghadapi kompetisi dalam hidup yang keras. 

Jika dikembalikan kepada anak-anak jalanan seperti awal tulisan ini, mungkin mereka memiliki pribadi tangguh sesuai dengan kerasnya tempaan hidup di jalanan. Tetapi, apakah pribadi itu positif, atau malah mengarah pada hal-hal yang berbau kekerasan? Lalu siapakah yang harus memikirkan hal ini? Kapan kita dapat duduk bersama dan berpikir dengan kepala dingin, mencari pemecahan masalahnya? Mari kita agendakan, setidaknya di lingkungan yang terdekat dengan kita! 

PENUTUPKesejahteraan anak adalah cita-cita yang harus diwujudkan bersama-sama dan terus-menerus, hingga anak-anak berhak memiliki masa depan yang lebih baik. Sebagaimana anak-anak itu mempunyai satu hari dalam setahun yang menuntut orang dewasa seluruh dunia membicarakan mereka. Setelah itu, mereka menunggu tindak lanjut kita semua. Karena anak-anak tetap butuh uluran tangan dan kasih sayang. Atau, akankah Hari Anak hanya sekedar sebuah hari? (Buat anak-anak seluruh dunia: semoga kalian selalu bahagia!) 

*)Tias Tatanka adalah Penulis, ibu rumah tangga dengan empat orang anak, pemerhati masalah anak dan Ketua Pelaksana Rumah Dunia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 161,636 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

April 2007
M T W T F S S
    May »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
%d bloggers like this: