KELUARGA PENGARANG

GOTONG ROYONG MEMBANGUN JEMBATAN DI RUMAH DUNIA

Posted on: February 3, 2008

ngecor-4.jpgangkutember-4.jpgMinggu, 3 Februari 2007. Sekitar 10 orang warga Ciloang berdiri melingkar di lapangan di samping Rumah Dunia. Ada Pendi, RT Kampung Ciloang, Nawawi – tokoh pemuda, Mukhlis, Royadi, Ardi, Toni, Dahlan, Deden, Kasman, dan sekitar lima orang lagi yang tidak aku hapal namanya. Aku memulai, “Alhamdulillah, berkat do’a kita, para donatur yang peduli ke Rumah Dunia dan kampung Ciloang, menyisihkan rezekinya untuk pengerasan jalan dan untuk pengecoran jembatan. Semoga Allah SWT mereka rezeki berlimpah .” Tahap awal adalah pengerasan jalan. Jack Lamota, Naijan Lengkong, DR. Ahmad Mukhlis Yusuf, Efi Saferi, Hj. Atisah, Rumah Dunia, dan Nawawi menyumbang.

 

adukaduk-4.jpgKemudian proyek pun berlanjut. Untuk pembangunan jembatan ini terkumpul uang Rp. 5.000.000,- dari sumbangan Jack La Mota dan kawan-kawan di Dubai sebesar Rp. 3,5 jt, Rp. 500.000,- (Gola Gong), dan Rp. 1 jt dari Fuad Hasyim dan Das Albantani (kedua orang itu dari milis wong banten). Uang itu kami pakai untuk pekmbuatan anyaman besi seluas 3 x 3,6 meter dan 6 tiangnya (Rp 2,8 jt), papan 20 buah, kaso 10 batang, semen yang tadinya 15 sak bertambah jadi 20 sak, pasir 2 truk, batu split 2 truk (total Rp 2 jt) dan konsumsi (Rp. 250.000,-)

 

jembatancor-4.jpgLalu Kasman membacakan doa. Langit mendung. Sejak semalam hujan lebat. Bahkan guntur menggelegar. Anak-anakku ketakutan dan kami tidur menumpuk di kamar utama. Jika mengingat semalam, tampak sekali Allah begitu berkuasa. Entah bagaimana dahsatnya kiamat nnati. Emakku saja bercerita, bahwa semalam sengaja melihat lewat jendela ke langit. Kata Emak, “Di langit seperti ada gulungan badai, lalu mereka berbenturan. Itulah tanda-tanda kekuasaan Allah.”

 

Usai berdoa, semua warga menggotong anyaman besi ukuran 12 seluas 3 x 3,5 meter. Cukup berat. Aji Setiakarya mengabadikan peristiwa itu untuk berita “Banten Hari Ini” di Banten TV. Langlang Randhawa mengarahkan kameranya untuk tabloid Kaibon. Semua bergembira. Cuaca sangat ramah. Wajah-wajah mereka memancarkan keikhlasan dan kebahagiaan, karena jembatan tempat anak-cucu mereka berangkat ke sekolah atau tempat mereka bekerja ke sawah, tidak lagi mengkhawatirkan. Jika sebelumnya hanya tiga batang kelapa yang licin dan mulai rapuh, kini tidak lagi. “Mobil angkutan juga bisa lewat sekarang!” kata Nawawi.

 

Anyaman jembatan itu cukup merepotkan juga ketika dibawa ke sungai. Jaraknya kira-kira 100 meteran. Jalannya mmeang kecil, seluas 2 meter saja. Pohon-pohon yang merintangi, dahn-dahannya ditebngi. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di sungai irigasi. Toni, komandan proyek, mengatur ini-itu. Papan-papan dan kaso disusun untuk menyangga anyaman vesi. Semua bekerja dengan cekatan. Semua bersmangat.

 

Pendi, RT Ciloang berbisik ke arahku, “Pak Gola Gong, mudah-mudahan nanti ada donatur lagi, ya.” Aku tersenyum, “Insya Allah.” Pendi menunjuk ke seberang sungai. Aku melihat ada jalan tanah di antara persawahan yang meliuk-liuk. Aku taksir panjangnya sekitar 200 meteran. Jalan itu nyambung ke kampung Sawah dan tembus ke jalan Bhayangkara dan Bunderan Ciceuri. Warga Ciloang bermimpi, jalan tanah itu dikeraskan. Saat itu sungai irigasi sedang meluap, sehingga jalan tanah itu tergenang air. Kemarin, aku dan Abi mandi di sungai itu. Abi membayangkan sedang menyusuri sungai Amazone.

 

Toni, tukang yang sudah berpengalaman, menaksir biaya yang dibutuhkan sekitar Rp. 20 juta. Pinggiran jalan itu harus dipondasi. Satu sisi sungai, sisi lainnya sawah. Jika tidak dipondasi, pelan-pelan tanahnya akan tergerus air. Para petani juga jika sedang mencangkul, suka iseng mengikisnya, sehingga jalan seukuran 2 meter itu berkurang pelan-pelan.

 

“Untuk bikin pondasi di kiri-kanan atau dam dibutuhkan sekitar 15 truk batu, 8 truk pasir, 200 sak semen, dan 20 truk batu koral untuk pengerasan,” kata Toni lagi. Harga 1 truk batu, pasir, dan batu koral sekitar Rp. 500.000,- dan semen Rp. 35/sak. Kenalah 20 jutaan!” Aku hanya mengangguk-angguk saja. Otakku berpikir keras, jika ada 200 orang menyisihkan rezekinya sebesar Rp. 100.000,-, insya Allah biaya itu tertutupi.

 

“Harga itu sudah termasuk dengan ongkos kulinya,” tambah Toni. Ya, Allah, semoga ada bayak orang yang menyisihkan rezekinya untuk harapan-harapan mereka. Bukankah hanya 3 perkara yang bisa kita bawa menghadap-Mu nanti? Yaitu anak yang soleh, amal jariyah, dan ilmu yang diamalkan. Menyumbang untuk pembangunan jalan termasuk amal jariyah. Amien. Jika ada yang ingin mewujudkan harapan warga Ciloang dalam bentuk uang, silahkan mengirimkannya ke:

Bank Muamalat Cab. Serang
Norek. 908-5999-799
an. Asih Purwaningtyas

BCA Serang
norek.245 – 188 – 5733
an. Asih Purwaningtyas

Ketika adzan Dzuhur, mereka mengaso dulu. Sholat berjamaah di mesjid Ciloang dan makan siang di rumah masing-masing. Setelah itu, mereka kembali menuntaskan pengecoran. Sekitar pukul Rp. 17.00 WIB, alhamdulillah, pengecoran jembatan beres. Bahan-bahan material pas. Tak bersisa. Alhamdulillah, terima kasih, ya Allah. Terima kasih juga para donatur. Semoga Allah SWT melimpahkan rezeki-Nya kepada kita. Amin..

 

Wasalam

Gola Gong

Mandor Proyek

*) Foto-foto gotong royng bisa dilihat di www.keluargapengarang.wordpress.com dan www.rumahdunia.net

About these ads

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

YanG BerkunjuNG :

  • 124,671 hits

LaCi MejA :

ALmanaK DindinG :

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

RUMAH KITA

Aku taburkan rumput di halaman belakang di antara pohon lengkeng dan mangga sudah tumbuhkah bunganya? aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh melihat angkasa dan bintangbintang dari atap rumah kita aku akan ceritakan kelak pada anakanak tentang matahari bulan laut gunung pelangi sawah bau embun dan tanah aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara

BUKU-BUKU TERBARU GOLA GONG: Cinta-Mu Seluas Samudra (Mizania), The Journey (Maximalis, Salamadani), Musafir (Salamadani), Nyesel Gak Nulis Seumur Hidup (Salamadani), Ini Rumah Kita Sayang (GIP), Menggenggam Dunia (Dar! Mizan), Labirin Lazuardi (Tiga Serangkai)

KaTA MakNA

Hidup adalah Perjalanan Panjang Menuju Tempat Abadi di Sisi-Nya. Tak ada ujungnya. Maka bertebaranlah di muka bumi dengan berbuat kebaikan. Berbagilah dengan sesama, penuh kasih sayang. Sebarkanlah setiap tetes ilmu yang kita miliki. Lawanlah kebatilan yang menelikung dengan yang kita mampu. Pena adalah senjata dari perlawanan itu. Mengalirlah setiap kata dari hati kita lewat senjata pena! Setiap kata penuh makna akan mengisi setiap jiwa luka. Menggeliatlah kita dengan senjata pena menuju matahari terbit. Dengan senjata pena, kita akan berdiri tegak; melahirkan generasi kuat di negeri ini. Negeri yang dihuni para tunas bangsa yang memiliki identitas dan jati diri: anak-anak negeri ini yang bangga akan kebudayaan negerinya. Ingatlah: MENJADI BERGUNA JAUH LEBIH PENTING DARI SEKEDAR MENJADI ORANG PENTING!

FoTO-fotoKU

More Photos
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: