Posted by: keluargapengarang on: June 21, 2007
Ya, mudah. Menjadi ayah tinggal meneruskan apa yang sudah ditanamkam seorang ibu kepada anak-anaknya. Sebetulnya yang berat adalah menjadi seorang Ibu . Ayah hanya kebagian sisanya saja. Hal ini pernah aku alami. Saat pergi kerja, di pintu rumah istri dan keempat anak melepas kuberangkat kerja . Sepulang kerja, aku memangku mereka sembari melunasi janji membawa oleh-oleh. Tapi, coba apa yang terjadi kemudian? Jika si anak sakit atau takut, mereka mencari ibunya. Ayah merasa kesepian di sini. Ketika aku hendak melindungi, si anak justru mencari ibunya.
Aku pernah jadi anak. Begitu juga aku jika membutuhkan sesuatu, bukan mencarinya kepada bapak. Tapi justru kepada Emak. Pada ibulah ternyata anak-anak memeroleh rasa nyaman dan aman. Jadi, aku mencoba memahami situasi ini dan tidak akan merebut posisi seorang ibu bagi anak-anaknya.
BERDISKUSI
Yang aku lakukan sebagai seorang ayah adalah lebih menanamkan sifat-sifat kepemimpinan kepada anak-anak, terutama anak laki-laki. Biasanya aku mengenalkan mereka kepada alam sekitar. Metode yang aku terapkan adalah interactif kepada anak-anak, bisa berdiskusi di meja makan, atau mengajak mereka pergi keluar rumah.
Di sekitar rumahku masih ada sungai dan sawah. Aku ajak anak-anakku mengenal apa makna sungai; mata air sungai berasal dari gunung, air sungai memberi penghidupan bagi masyarakat dengan mengairi pesawahan. “Jadi, jangan buang sampah ke sungai,” aku menanamkan hal ini kepada anak-anak. Juga mengajari anak-anak tentang makna sawah; tentang pak tani yang menanamnya dan padi yang kita makan. “Kasihan Pak Tani, kalau nasinya tidak kita makan. Pak Tani sudah capek-capek menanam, nasinya kita buang percuma.”
Begitulah aku mendidik anak-anakku.Lewat sungai dan sawah aku mengajari anak-anak bagaimana memaknai dan menghargai hidup. Aku ingin mereka tahu, bahwa hidup itu penuh dengan perjuangan, agar kelak ketika mereka dewasa bisa menghargai keringatnya sendiri.
Sesekali aku juga membawa mereka keluar kota , ke pantai misalnya. Dalam perjalanan, aku mengajarkan kepada mereka tentang gunung yang pohonnya tidak boleh ditebangi, dan tentang laut sebagai sumber kehidupan. Dengan cara seperti itu aku berharap anak-anakku memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Kepada anak-anakku yang lelaki, aku berusaha menanamkan bahwa merekalah yang kelak harus melindungi dan menjaga ibu serta saudara perempuannya. Hal-hal kecil yang sudah aku lakukan, saat pergi keluar rumah, aku berpesan pada Abi, anakku nomor dua, bahwa ia harus menjaga dan melindungi Mamah, Teteh dan adik-adiknya. Tentu tidak dengan ancaman dan hal-hal yang memberatkan dia. Juga pada Odie, anakku nomor tiga, mulai kutanamkan posisi sebagai kakak yang mengayomi adiknya. Tapi, seperti halnya kanak-kanak, tetap saja yang namanya bertengkar selalu terjadi. Pada saat ini, aku menanamkan sifat, siapa pun dia, jika bersalah harus meminta maaf. Budaya meminta maaf ini aku tanamkan sejak dini.
PERAN ISTRI
Selaku suami, aku memberi kebebasan pada istriku untuk berpikir, berpendapat dan bersikap. Alhamdulillah, dia tidak menyalahgunakan kebebasan itu, justru menggunakannya untuk mendukung dan membantu pekerjaanku. Seperti misalnya bebas memberi pendapat dan masukan bagi tulisan-tulisanku. Atau dengan inisiatif sendiri ia mencari bahan tulisan bagi tulisan yang sedang kukerjakan. Kami berusaha hidup seimbang, toh semua itu tujuannya satu, keluarga sakinah, mawadah warahmah.
Kepada istri juga, aku berbagi peran tentang agama. Istriku ternyata keinginan mempelajari agamanya lebih kuat dibanding aku. Jika aku mulai kendor dalam ibadah, ia akan menegurku dalam nada membujuk. Jadi, aku tidak merasa diadili dan disalahkan. Kepada anak-anak, aku mencoba membiasakan diri jadi imam saat sholat berjamaah. Aku ingin anak-anakku memeroleh kesadaran sendiri tentang Islam dan Allah yang Esa. Alhamdulillah sudah muncul kesadaran dan mengerti kenapa harus sholat dari anak-anakku, kenapa harus berdoa, dan kenapa harus bersyukur kepada Allah.
Kepada anak-anak kami berbagi peran, kelembutan seorang perempuan mengisi celah-celah pendidikan yang kuberikan sebagai seorang laki-laki. Misalnya saat anak-anak sakit, biasanya mereka mencari ibunya. Tetapi, kalau mereka susah minum obat, istriku minta bantuan untuk membujuk dan menjelaskan alasan kenapa mereka harus meminum obat.
Banyak hal mudah yang dapat dilakukan seorang ayah, tinggal bagaimana ia menggunakan perannya itu. Insya Allah, semuanya akan dimudakan oleh Allah. (*)
*) Rumah Dunia, 4 Juni 2007
*) Foto saat saya mengajak Bella dan Abi berenang di pemandian alam Cikoromoy, Pandeglang, tahun 2004 lalu.
AnjanGsonO :